Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5

Ilalang Sekitar Pos 4 Gunung Sumbing Kering, BPBD Temanggung Minta Pendaki Waspadai Kebakaran Hutan

Arafandy
By
2 Min Read

HEADLINNEWS.IDTemanggung, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung mengimbau para pendaki dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau. Perhatian khusus diberikan pada kawasan sekitar Pos 4 Gunung Sumbing yang kini dipenuhi ilalang kering dan mudah terbakar.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kabupaten Temanggung, Totok Nurseryanto, mengatakan kondisi vegetasi di kawasan puncak Gunung Sumbing saat ini jauh lebih rentan dibandingkan jalur pendakian yang masih didominasi pepohonan besar.

“Di sekitar Pos 4, ilalang sudah sangat kering. Jika terkena api sekecil apa pun, kobaran api bisa dengan cepat menjalar ke area yang lebih luas,” ungkapnya, Kamis (23/7/2026).

Menurutnya, sebagian besar kebakaran hutan saat musim kemarau dipicu oleh kelalaian manusia, seperti bara api dari kompor, puntung rokok, maupun api unggun yang tidak dipadamkan hingga benar-benar mati.

Karena itu, BPBD mengingatkan seluruh pendaki agar tidak menyalakan api secara sembarangan di jalur pendakian. Apabila menggunakan kompor untuk memasak, api harus diawasi dan dipastikan padam sebelum meninggalkan lokasi.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD bersama Perhutani dan pengelola basecamp telah melakukan sosialisasi, serta pengecekan di sejumlah jalur pendakian Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prahu. Koordinasi juga dilakukan untuk memastikan jalur evakuasi dan titik aman siap digunakan apabila terjadi keadaan darurat.

Selain mengantisipasi kebakaran, pendaki diminta mematuhi aturan pendakian dengan mendirikan tenda hanya di lokasi yang telah ditetapkan. Pos 3 dan Pos 4 direkomendasikan sebagai area berkemah, sedangkan beberapa titik lain memiliki kontur tanah berbatu yang kurang aman dan nyaman.

Totok juga mengimbau pendaki mempersiapkan perlengkapan secara matang, termasuk pakaian hangat, logistik, dan perlengkapan keselamatan. Meski memasuki musim kemarau, cuaca di kawasan pegunungan dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga kesiapan pendaki tetap menjadi faktor penting.

“Jangan sampai kegiatan wisata alam berubah menjadi bencana. Mari bersama-sama menjaga kawasan hutan dengan tidak menyalakan api sembarangan dan memastikan tidak ada bara api yang tertinggal,” tandasnya. (Aiz;Ekp)

Editor: Arafandy
TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!