Masih Kokoh Setelah Puluhan Tahun, Kompas Sekaligus Jam Matahari Bersejarah di Girikusumo Demak Jadi Daya Tarik Wisata Religi

Dinparta Demak
3 Min Read

HEADLINNEWS.ID – Sebuah kompas yang juga berfungsi sebagai jam matahari menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang masih dapat dijumpai di kawasan Banyumeneng, Desa Girikusumo, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak. Benda bersejarah tersebut berada tepat di halaman depan Masjid Bait Al Salam dan hingga kini masih berdiri kokoh meski telah berusia lebih dari enam dekade.

Keberadaan kompas sekaligus jam matahari itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para peziarah maupun wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata religi Girikusumo. Pada bagian atas bangunan terlihat pahatan angka 1960, yang menunjukkan tahun pembuatannya. Meski telah berusia puluhan tahun, kondisinya masih terawat dengan baik sebagai salah satu warisan sejarah Islam di Kabupaten Demak.

Benda ini tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga menyimpan fungsi ilmiah dan religius. Selain berfungsi sebagai penunjuk arah mata angin, kompas tersebut digunakan untuk menentukan arah kiblat, sementara jam matahari memanfaatkan bayangan sinar matahari untuk menunjukkan perkiraan waktu. Pada masanya, alat semacam ini menjadi salah satu sarana penting sebelum penggunaan jam modern dan teknologi penentu arah berkembang seperti saat ini.

Keberadaan kompas dan jam matahari tersebut menjadi saksi perjalanan perkembangan syiar Islam di kawasan Girikusumo. Peninggalan ini erat kaitannya dengan dakwah Syeikhul Islam Muhammad Hadi, seorang ulama kharismatik yang dikenal gigih menyebarkan ajaran Islam hingga ke wilayah perbukitan Girikusumo.

Melalui perjuangan dakwahnya, kawasan Banyumeneng berkembang menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan yang hingga kini masih ramai dikunjungi masyarakat, terutama untuk berziarah dan mengikuti berbagai kegiatan keislaman. Jejak perjuangan tersebut masih dapat disaksikan melalui berbagai peninggalan sejarah yang tetap dilestarikan, termasuk kompas dan jam matahari di depan Masjid Bait Al Salam.

Selain menjadi bagian dari warisan sejarah, keberadaan kompas dan jam matahari juga memperkaya daya tarik wisata religi Banyumeneng. Pengunjung tidak hanya datang untuk berziarah, tetapi juga dapat mempelajari perkembangan ilmu pengetahuan, astronomi sederhana, dan metode penentuan arah kiblat yang digunakan masyarakat pada masa lalu.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, Endah Cahya Rini, mengapresiasi terjaganya peninggalan bersejarah tersebut. Menurutnya, warisan seperti ini memiliki nilai penting sebagai media edukasi sekaligus aset wisata budaya yang perlu terus dilestarikan.

“Keberadaan kompas dan jam matahari ini merupakan bukti bahwa Girikusumo memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang patut dibanggakan. Peninggalan seperti ini harus terus dirawat dan dilestarikan sebagai media edukasi bagi generasi muda, sekaligus menjadi daya tarik yang mampu memperkuat posisi Kabupaten Demak sebagai destinasi wisata religi yang sarat nilai sejarah dan kearifan lokal,” ujar Endah.

Dengan tetap terawatnya kompas dan jam matahari yang telah berusia lebih dari 60 tahun tersebut, kawasan Banyumeneng Girikusumo tidak hanya menghadirkan destinasi ziarah, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran sejarah yang menghubungkan perjalanan dakwah Islam, perkembangan ilmu pengetahuan, serta kehidupan masyarakat dari masa ke masa.

Keberadaan peninggalan ini diharapkan dapat terus dijaga bersama, sehingga nilai sejarah, budaya, dan religi yang terkandung di dalamnya tetap dapat dinikmati serta dipelajari oleh generasi mendatang.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *