HEADLINNEWS.ID – Kapal perlu banyak air agar dia bisa berlayar. Begitu pun kapal tidak mungkin tenggelam di laut dan sungai yang dangkal. Jangan heran sering terjadi awak kapal melobangi dan membocorkan kapalnya sendiri agar sang kapal tak ke mana-mana. (Quote of Seven AY).
Narasi dan kisah tentang kapal di atas adalah cermin kita. Hari-hari ini kita menyaksikan fenomena sungsang di mana-mana. Kejadian demi kejadian hadir di depan mata kita. Maaf, melanjutkan catatan di kolom ini (Jayanto Arus Adi), kita sedang merentang diskursus ada duet rasa duel.
“Pak Jokowi, Pak Jokowi, tolong bantu bangsa (kami) ini,” ada celetukan seperti itu. “Lho kok bisa, Pak Jokowi kan sudah pensiun. Kalau minta tolong ya ke Pak Prabowo, kasihan beliau (Pak Jokowi) sudah purna masih direpoti,” bukankah begitu?
Cara berpikir seperti di atas, meski aneh, namun sering kali terjadi. Siapa pun ketika didera persoalan, dalam kondisi kepepet, bisa melakukan apa saja. Ada pepatah orang kepepet itu sakti. Naluri untuk survive, keberanian muncul, malah sering dibumbui jurus nekat. Kalau sudah seperti itu, ya maaf, modar! Modar! Jalmo lipat seprapat tamat.
Maaf, maaf kok jadi ngelantur, ngedabrus ke mana-mana. Kembali ke laptop, menyitir kata-kata Tukul Arwana. Kita sadari bersama, bangsa kita hari-hari ini, dan sudah cukup lama, tidak sedang baik-baik saja. Pak Prabowo, Bapak Presiden kita, menyadari benar tentang kondisi bangsa ini.
Memijakkan pada realitas, juga kondisi nyata yang setiap hari dihadapi, membuat Prabowo geregetan. Terminologi geregetan rasanya pas sekali untuk menjadi unjuk ungkapan. Prabowo menyadari Indonesia adalah negara besar.
Potensi geopolitis Indonesia luar biasa. Bisa jadi kita (Indonesia) adalah satu-satunya negara yang memiliki geopolitis seperti ini.
Pertanyaan kemudian, dengan semua khazanah (kekayaan) yang kita miliki, Indonesia masih biasa-biasa saja, hidup enggan mati tak mau, maju tidak, malah dalam beberapa aspek kita rasakan kemunduran. Bukan mundur lagi, tetapi rusak, rusak parah.
Abraham Samad, mantan Ketua KPK, yang sekarang menggeluti podcast, menyampaikan sebuah peringatan keras, yakni tentang korupsi. Karena di negeri ini, korupsi telah menjadi budaya, menjadi tradisi, bahkan seperti menjadi darah daging. Astaghfirullah. Karena korupsi, sendi-sendi kehidupan yang fundamental rusak.
Boleh jadi, tidak ada yang dirawat, dijaga dengan hati, dengan cinta. Semesta adalah bauran harmoni yang berjalan atas titah Tuhan. Korupsi menabrak tatanan atas nama kepentingan, demi kuasa, demi materi. Hukum sungsang karena aparat penegak tidak kukuh berpijak pada kata hati, suara hati.
Priiiiit priiiiit, kok nggeladrah ke mana-mana, kembali ke laptop. Di sini saya ingin mengajak kita sejenak merenung bersama. Pertama, mari kita mawas dan awas.
“Pak Prabowo, Pak Prabowo, izin menyampaikan dan mengingatkan tentang ‘Paradoks Indonesia’ yang panjang lebar Pak Prabowo tulis, itu jika ditunaikan luar biasa!”
Pemikiran yang menjadi narasi dalam buku itu bukan sekadar Nawa Cita ataupun Asta Cita. Distorsi-distorsi terjadi karena spirit dari Prabowo Subianto, maaf, tidak ditunaikan secara murni dan konsekuen oleh Presiden Prabowo Subianto.
Di sini saya membedakan antara Prabowo Subianto dan Presiden Prabowo Subianto. Artinya satu pesan, goal untuk membangun Indonesia Raya, tidak lain dan tidak bukan adalah melakukan koreksi keindonesiaan, seperti yang ditulis dalam Paradoks Indonesia.
Sinyalemen tentang duet atau duel karena bangun keindonesiaan kurang dijaga secara kukuh dan utuh.
Menjadi sebuah insight kecil, salah satu yang membuat kita tidak segera bangkit, berkembang, dan maju adalah karena masing-masing berebut air. Kapal besar yang bernama Indonesia ini dilobangi oleh awak-awaknya sendiri sehingga tidak bisa berlayar dan terancam kandas.
“Pak Prabowo, Pak Prabowo, tenang saja, kita semua rakyat Indonesia ada di sini, gitu aja kok repot.” Tabik.
Jayanto Arus Adi adalah wartawan senior, Ahli Pers Dewan Pers, asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), serta alumni Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (PPNK) Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia Angkatan 227 Tahun 2025.
Selain aktif sebagai praktisi media, juga menjabat Pengurus Pusat Serikat Media Siber Indonesia (konstituen Dewan Pers) dan Pelaksana Tugas Ketua Umum SMSI Jawa Tengah.
Turut berkiprah di Satu Pena, organisasi penulis yang dipimpin Deny JA. Mengajar jurnalistik di beberapa perguruan tinggi dan juga menahkodai Mobile Jurnalis (MOJO) Indonesia.
Saat ini, Jayanto Arus Adi tengah menempuh Program Doktor (S3) di Universitas Jenderal Soedirman pada Program Studi Pertanian, dengan konsentrasi Komunikasi Agribisnis dan Ketahanan Pangan. Membidani dan terlibat langsung di Headlinnews.id sebagai Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi.
Dengan tagline “Dari Jawa Tengah untuk Indonesia”, media ini didedikasikan sebagai oase informasi alternatif sekaligus lokomotif bagi penguatan gerakan civil society.
Jayanto Arus Adi, Wartawan Senior, Ahli Pers Dewan Pers, Asesor Uji Kompetensi Wartawan PWI Pusat, dan duduk sebagai Pengurus Pusat SMSI (Serikat Media Siber Indonesia) dan Plt Ketua SMSI Jateng. SMSI adalah salah satu konstituen Dewan Pers.
Tahun 2025 mengikuti PPNK Lemhanas RI Angkatan 227. Selain tetap aktif sebagai praktisi media, juga berkiprah sebagai konsultan media dan komunikasi. Ikut berkontribusi di Satu Pena (organisasi penulis yang dipimpin Denny JA).
Mengajar jurnalistik di beberapa kampus, juga aktif di MOJO (Mobile Jurnalis Indonesia) sebagai Ketua Umum Nasional. Saat ini tengah menempuh S3 (Program Doktoral) di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Bidang yang dipilih adalah Prodi Pertanian, Komunikasi Agribisnis, dan Ketahanan Pangan.
Headlinnews.id adalah media online yang didirikan dan dinahkodai langsung sebagai CEO sekaligus Pemimpin Redaksi. Dengan tagline “Dari Jawa Tengah untuk Indonesia”, media ini didedikasikan menjadi oase bagi informasi alternatif, sekaligus lokomotif penggiat civil society.

