HEADLINNEWS.ID – Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer Iran setelah kapal tanker komersial diserang drone di Selat Hormuz. Serangan balasan Washington ini meningkatkan risiko runtuhnya kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran yang sebelumnya dicapai pada pertengahan Juni 2026.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan operasi udara tersebut menyasar fasilitas penyimpanan rudal, hanggar drone, sistem komunikasi, infrastruktur pengawasan maritim, serta radar pantai Iran.
Presiden AS Donald Trump mengatakan serangan itu merupakan respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Iran. Dalam pernyataan resmi, Trump menyebut tindakan militer tersebut sebagai balasan atas “pelanggaran perjanjian gencatan senjata, lagi”.
Pemicu eskalasi terjadi setelah kapal tanker berbendera Panama, Kiku, diserang drone saat melintasi Selat Hormuz menuju Uni Emirat Arab (UEA). Kapal tersebut membawa minyak mentah milik perusahaan energi negara Qatar.
Laporan keamanan maritim menyebut empat drone diarahkan ke kapal tanker tersebut. Tiga drone berhasil dicegat sistem pertahanan, sementara satu drone menghantam bagian dek atas kapal dan menyebabkan kerusakan.
Pemerintah AS dan sejumlah sekutu regional menuding Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) berada di balik serangan tersebut. Tuduhan itu belum diterima Iran.
Militer Iran membantah keterlibatan dalam serangan terhadap kapal tanker Kiku. Teheran menyatakan aktivitas pertahanan lautnya dilakukan karena adanya dugaan pelanggaran jalur navigasi oleh kapal asing tanpa koordinasi dengan otoritas Iran.
IRGC kemudian meluncurkan serangan rudal terhadap sejumlah fasilitas logistik regional AS. Iran menyebut langkah itu sebagai respons terhadap operasi militer Washington yang dianggap melanggar kedaulatan negaranya.
Ketegangan di Selat Hormuz langsung berdampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) meningkat karena pasar khawatir jalur distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia terganggu.
Sejumlah perusahaan pelayaran internasional mulai mengalihkan rute kapal menuju jalur yang lebih panjang melalui Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Perubahan rute tersebut berpotensi meningkatkan biaya bahan bakar dan memperlambat pengiriman barang global.
Operasi pengamanan dan evakuasi kapal tanker di Selat Hormuz juga mengalami penundaan karena risiko serangan lanjutan.
Meski terjadi serangkaian serangan dalam 48 jam terakhir, laporan intelijen pada Senin pagi, 29 Juni 2026, menyebut kedua pihak mulai melakukan upaya penurunan ketegangan untuk membuka kembali jalur diplomasi.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan di Baghdad bahwa Iran tetap mempertahankan kendali atas pengawasan Selat Hormuz, tetapi membuka ruang pembicaraan untuk mengurangi risiko konflik lebih luas.
Delegasi AS dan Iran dilaporkan akan bertemu dalam pembicaraan darurat yang dimediasi pihak ketiga di Doha, Qatar, pada Selasa, 30 Juni 2026. Pertemuan itu dijadwalkan membahas mekanisme keamanan pelayaran dan keberlanjutan nota kesepahaman damai.
Eskalasi terbaru di Selat Hormuz menunjukkan rapuhnya stabilitas hubungan AS-Iran meski sebelumnya terdapat kesepakatan penghentian konflik sementara.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut dapat berdampak pada harga minyak, biaya transportasi, dan rantai pasok internasional.
Pertemuan diplomatik di Doha menjadi titik penting untuk menentukan apakah konflik akan kembali memasuki fase militer terbuka atau dapat dikendalikan melalui negosiasi.

