Inflasi September 2026 Diproyeksi 0,3 Persen, Cabai Jadi Pemicu

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
4 Min Read

HEADLINNEWS.ID – Jakarta, Inflasi Indonesia pada September 2026 diperkirakan mencapai 0,3 persen secara bulanan atau month-to-month (MtM), sehingga inflasi tahunan diproyeksikan berada di sekitar 3,3 persen. Kenaikan terutama dipicu kelompok makanan, dengan cabai merah dan cabai rawit menjadi pendorong utama.

Proyeksi tersebut disampaikan Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, Rabu (30/9/2026). Menurut dia, beras, ayam, dan telur juga masih menjadi komoditas yang memengaruhi pergerakan inflasi.

Selain pangan, kenaikan tarif angkutan udara dan sejumlah harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi diperkirakan menambah tekanan terhadap inflasi September. Sementara itu, inflasi inti diperkirakan masih moderat karena kontribusi harga perhiasan emas dinilai lebih rendah dibandingkan Agustus 2026.

Mirae Asset juga mencatat pelemahan rupiah yang kembali mendekati Rp18.000 per dolar AS menjadi risiko kenaikan harga barang impor. Namun, dampak pelemahan rupiah tersebut diperkirakan baru semakin terlihat setelah September.

Berdasarkan pengelompokan komponen indeks harga konsumen, pangan disebut menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan selama satu tahun terakhir. Pada saat yang sama, kelompok energi dan transportasi mulai memberi kontribusi lebih besar setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi menyusul lonjakan harga minyak dunia.

Tekanan juga datang dari barang yang diperdagangkan secara internasional atau tradable goods seiring pelemahan rupiah. Salah satu kelompok yang terdampak adalah perangkat teknologi informasi dan komunikasi.

Perkembangan tersebut membuat inflasi semakin sensitif terhadap pergerakan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Proyeksi inflasi tahunan sebesar 3,3 persen pada September juga menyisakan jarak 0,2 poin persentase dari batas atas sasaran inflasi Bank Indonesia sebesar 3,5 persen.

Mirae Asset memperkirakan tekanan tambahan dapat berasal dari guncangan harga pangan, kenaikan lanjutan BBM nonsubsidi, kenaikan kembali harga perhiasan emas, serta pelemahan rupiah. Risiko dinilai meningkat apabila tekanan berlangsung lebih lama dan mulai merembet ke inflasi inti.

Mirae Asset menilai tekanan inflasi saat ini sebagian besar berasal dari sisi pasokan. Karena itu, ruang pengetatan kebijakan moneter dinilai lebih banyak bergantung pada perkembangan nilai tukar rupiah.

Mirae Asset memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan BI Rate pada level 5,75 persen. Instrumen non-suku bunga, termasuk insentif swap lindung nilai, diperkirakan tetap lebih banyak digunakan dibandingkan kenaikan suku bunga.

Namun, kemungkinan kenaikan BI Rate dinilai semakin besar apabila rupiah melemah jauh melampaui level Rp18.000 per dolar AS. Kebijakan pemerintah terkait harga pangan dan BBM juga disebut akan berperan dalam menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran.

Proyeksi inflasi 3,3 persen secara tahunan menunjukkan tekanan harga dalam perkiraan September masih berada di bawah batas atas sasaran inflasi BI sebesar 3,5 persen, tetapi jaraknya hanya 0,2 poin persentase. Risiko yang disebut dalam sumber berasal terutama dari harga pangan, BBM nonsubsidi, minyak dunia, perhiasan emas, dan nilai tukar rupiah.

Mirae Asset memperkirakan BI mempertahankan BI Rate 5,75 persen dengan lebih mengandalkan instrumen non-suku bunga, sementara perubahan kebijakan suku bunga sangat bergantung pada perkembangan rupiah. Kebijakan harga pangan dan BBM pemerintah juga ditempatkan sebagai faktor yang memengaruhi pergerakan inflasi.

Editor: Michael Ivan
Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!