HEADLINNEWS.ID – PURWOREJO – Sejarah Sunan Geseng kembali menjadi perhatian masyarakat Bagelen. Bukan sekadar untuk mengulang cerita yang telah diwariskan turun-temurun, tetapi untuk mencari jejak sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan sekaligus menggali nilai kehidupan yang masih relevan hingga saat ini.
Semangat tersebut mengemuka dalam Sarasehan dan Diskusi Publik “Sunan Geseng: Wali Larat, Riwayat, dan Laku Hayat” yang digelar di Aula Kecamatan Bagelen, Rabu malam (2/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung hingga sekitar pukul 23.00 WIB ini menjadi bagian dari rangkaian Grebeg Bagelen ke-4 Tahun 2026. Sarasehan digagas Tapa Rembaka bersama Pemerintah Kecamatan Bagelen, Paguyuban Masyarakat Kreatif Bagelen (PMKB), dan Muda Ganesha.
Ratusan peserta dari berbagai unsur hadir. Mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, akademisi, budayawan, seniman, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga kalangan pendidikan. Jumlah peserta diperkirakan mencapai 250-300 orang.
Ketua Tapa Rembaka, Achmad Fajar Chalik, mengatakan sarasehan tersebut menjadi pijakan awal untuk menyusun buku tentang Sunan Geseng atau Mbah Cokrojoyo.
Menurutnya, selama ini kisah Sunan Geseng berkembang dalam berbagai versi di tengah masyarakat. Perbedaan cerita tersebut justru menjadi alasan penting untuk melakukan penelitian secara lebih serius.
Tidak hanya mengandalkan cerita tutur, penelitian akan dilakukan dengan menelusuri berbagai naskah dan manuskrip, mengkaji cerita rakyat, serta mendatangi situs-situs yang diyakini memiliki keterkaitan dengan perjalanan Sunan Geseng.
Penelusuran tersebut antara lain dilakukan di wilayah Dusun Bedhug, Gatep Kecamatan Bagelen, kawasan Loano, Ngombol, Temanggung, Piyungan Yogyakarta, Kulon Progo, Grabag Magelang, serta sejumlah daerah lainnya.
“Yang ingin kita cari bukan sekadar cerita, tetapi riwayat dan laku hayat Sunan Geseng. Dari sana kita berharap dapat menemukan nilai-nilai yang bisa diwariskan kepada generasi sekarang,” jelas Achmad Fajar.
Jangan Terjebak Cerita yang Sudah Diyakini
Wakil Bupati Purworejo Dion Agasi Setiabudi yang hadir dalam kegiatan tersebut memberikan catatan penting mengenai proses penggalian sejarah.
Menurutnya, penelitian sejarah membutuhkan sikap terbuka dan kehati-hatian. Setiap informasi perlu diuji dengan kritik sumber, termasuk melihat perbedaan antara sumber primer dan sumber sekunder.
Ia mengingatkan agar penelitian tidak dimulai dari sebuah kesimpulan yang kemudian hanya mencari pembenaran.
Sebab, menurutnya, sejarah harus dibangun berdasarkan fakta dan bukti yang ditemukan, bukan sebaliknya.
Karena itu, pembahasan mengenai Sunan Geseng diharapkan tidak berhenti pada kisah-kisah mistis yang berkembang di masyarakat. Hal yang tidak kalah penting adalah menggali perjalanan keilmuan, perjuangan, karakter, serta keteladanan tokoh tersebut.
Dengan cara pandang itu, Sunan Geseng tidak hanya ditempatkan sebagai sosok dalam cerita masa lalu, tetapi juga sebagai sumber nilai yang dapat memberikan inspirasi bagi kehidupan masyarakat saat ini.
Keteladanan Penderes Aren untuk Menjaga Lingkungan
Hal menarik lainnya dalam sarasehan adalah upaya menghubungkan sejarah Sunan Geseng dengan persoalan lingkungan dan ekonomi masyarakat.
Salah satu riwayat yang berkembang menyebut Sunan Geseng memiliki laku sebagai penderes aren. Nilai tersebut kemudian coba diterjemahkan dalam konteks kekinian melalui gerakan pelestarian tanaman aren.
Aren tidak hanya dipandang sebagai tanaman yang memiliki nilai ekonomi, tetapi juga bagian dari lingkungan yang perlu dijaga keberadaannya.
Dari sini muncul gagasan untuk mendorong penanaman dan konservasi aren di wilayah Bagelen dan Purworejo.
Tidak berhenti pada penanaman, potensi aren juga dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif masyarakat melalui berbagai produk olahan.
Dengan demikian, upaya menggali sejarah tidak berhenti menjadi diskusi di ruang pertemuan, tetapi dapat melahirkan gerakan yang menyentuh lingkungan sekaligus meningkatkan perekonomian warga.
Wakaf Al-Qur’an hingga Bibit Aren
Semangat tersebut ditandai dengan sejumlah aksi nyata dalam kegiatan sarasehan.
Tapa Rembaka bersama Gramedia menyerahkan secara simbolis wakaf Al-Qur’an untuk masjid dan mushola di sekitar lokasi kegiatan. Bantuan tersebut diterima oleh perwakilan MWCNU Bagelen.
Selanjutnya, Ketua Tapa Rembaka menyerahkan bibit tanaman aren kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Purworejo yang diwakili Wakil Bupati Dion Agasi Setiabudi.
Penyerahan bibit tersebut menjadi simbol dimulainya gagasan konservasi aren sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus merawat warisan budaya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Purworejo memberikan bantuan pendanaan kepada Tapa Rembaka untuk mendukung proses pencetakan buku tentang Sunan Geseng.
Buku tersebut diharapkan nantinya dapat menjadi salah satu referensi mengenai Sunan Geseng yang disusun melalui proses penelitian dan penelusuran berbagai sumber.
Melibatkan Sejumlah Tokoh dan Akademisi
Diskusi menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang keilmuan dan kebudayaan yang berbeda.
Mereka adalah Dr. Sudibyo, M.Hum., filolog dari Kadipaten Pakualaman; Bagas Pratyaksa Nuraga, S.Sej., M.A., sejarawan sekaligus Tim Tapa Rembaka; serta M. Yaser Arafat, M.A., dosen dan budayawan UIN Sunan Kalijaga.
Diskusi dipandu Mastri Imammusadin, S.H.
Berbagai perspektif kemudian dipertemukan untuk melihat sosok Sunan Geseng dari sisi sejarah, naskah, budaya, cerita rakyat, hingga situs-situs yang selama ini dikaitkan dengan keberadaannya.
Kehadiran ratusan peserta memperlihatkan besarnya perhatian masyarakat terhadap sejarah lokal. Terlebih ketika sejarah tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai warisan masa lalu, tetapi dikembangkan menjadi inspirasi untuk menjaga lingkungan, budaya, dan perekonomian masyarakat.
Grebeg Bagelen Masih Berlanjut
Setelah sarasehan, rangkaian Grebeg Bagelen ke-4 Tahun 2026 masih akan menghadirkan sejumlah kegiatan.
Sabtu, 5 September 2026, masyarakat akan mengikuti Kirab/Grebeg Budaya Bagelenan mulai pukul 08.00 WIB.
Kemudian Minggu, 6 September 2026, digelar Gelar Seni Ndolalak dan Jaran Kepang mulai pukul 09.00 WIB.
Sementara Senin, 7 September 2026, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Pengajian Akbar bersama KH Abah Santri pada pukul 20.00 WIB.
Grebeg Bagelen diharapkan tidak hanya menjadi perayaan budaya tahunan. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk mempertemukan sejarah dengan kebudayaan, nilai tradisi dengan kebutuhan masa kini, serta pelestarian lingkungan dengan penguatan ekonomi masyarakat.
Dari Bagelen, jejak Sunan Geseng diharapkan tidak hanya dikenang melalui cerita, tetapi juga diwujudkan melalui gerakan nyata yang memberi manfaat bagi generasi sekarang dan yang akan datang.

