HEADLINNEWS.ID – Gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (20/8/2026), kembali mengingatkan pada gempa besar yang melanda Yogyakarta pada 2006.
Pada 27 Mei 2006, gempa kuat mengguncang Yogyakarta dan sejumlah wilayah di sekitarnya. Peristiwa tersebut menewaskan 6.234 orang dan menyebabkan kerusakan besar.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa merusak pada 2006 tersebut berkaitan dengan aktivitas Sesar Opak, salah satu sumber gempa aktif di wilayah DIY.
Perhatian terhadap Sesar Opak kembali muncul setelah gempa bermagnitudo 3,5 mengguncang Bantul pada Kamis (20/8/2026) pukul 17.20 WIB.
Berdasarkan analisis Stasiun Geofisika BMKG Sleman, gempa tersebut merupakan gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Opak. Episenternya berada di darat, sekitar 11 kilometer timur laut Bantul, dengan kedalaman 21 kilometer.
Mengenal Sesar Opak
Sesar Opak merupakan patahan aktif yang berada di wilayah DIY. Berdasarkan keterangan BMKG, jalur Sesar Opak memiliki panjang sekitar 45 kilometer dan berada di sekitar aliran Sungai Opak.
Sungai Opak berhulu di lereng Gunung Merapi, mengalir ke arah selatan, dan bermuara di Samudra Hindia di kawasan Pantai Parangtritis, Kabupaten Bantul.
Aktivitas sesar tersebut tidak hanya dikaitkan dengan gempa 2006. Pada 30 Juni 2023, gempa bermagnitudo 6,0 juga terjadi di wilayah Bantul dan disebut BMKG sebagai bagian dari aktivitas kegempaan Sesar Opak. Saat itu, kerusakan yang dilaporkan relatif ringan.
BMKG Sebut Magnitudo Tertarget M6,6
Dalam keterangan BMKG pada Agustus 2023, Kepala BMKG saat itu, Dwikorita Karnawati, menyebut Sesar Opak sebagai salah satu sumber gempa aktif dengan magnitudo tertarget hingga 6,6. BMKG juga menyampaikan bahwa aktivitas kegempaan di kawasan tersebut perlu terus dipantau dan kesiapsiagaan masyarakat harus ditingkatkan.
Angka tersebut merupakan potensi kekuatan gempa yang menjadi bahan kajian, bukan prediksi bahwa gempa bermagnitudo 6,6 akan terjadi dalam waktu tertentu.
BMKG menegaskan pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat karena waktu terjadinya gempa bumi belum dapat diprediksi secara pasti.
Bukan untuk Panik, tetapi Waspada
Gempa M3,5 yang terjadi pada 20 Agustus 2026 menjadi pengingat bahwa Sesar Opak merupakan bagian dari kondisi geologi yang perlu dipahami masyarakat Yogyakarta.
Karena itu, informasi mengenai Sesar Opak sebaiknya tidak dipahami sebagai alasan untuk panik. Yang lebih penting adalah meningkatkan kesiapsiagaan, memastikan bangunan berada dalam kondisi aman, serta mengetahui langkah evakuasi apabila gempa terjadi.
Masyarakat juga diimbau mengikuti informasi kebencanaan dari BMKG dan tidak mempercayai klaim mengenai waktu atau kekuatan gempa yang belum memiliki dasar ilmiah.

