Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5

Ketika Keberpihakan kepada Bangsa Kembali Dipertanyakan

Dadik
By
Dadik
3 Min Read
Oleh: Dadik

HEADLINNEWS.IDLONDO IRENG. Istilah Londo Ireng mendadak kembali menjadi perbincangan publik setelah Presiden Prabowo Subianto menggunakannya dalam sebuah pidato pada peringatan Harlah PKB. Seketika, istilah yang selama ini lebih banyak hidup dalam lembaran sejarah dan cerita perjuangan bangsa kembali memasuki ruang diskusi nasional.

Secara historis, Londo Ireng adalah sebutan bagi pribumi yang dianggap berpihak kepada pemerintah kolonial Belanda dan berseberangan dengan perjuangan bangsanya sendiri. Istilah itu lahir bukan semata karena perbedaan pendapat, melainkan karena adanya keberpihakan yang dinilai menguntungkan penjajah dan merugikan kepentingan nasional.

Sejarah perjuangan Indonesia memang mengajarkan bahwa ancaman terhadap kemerdekaan tidak selalu datang dari luar. Dalam berbagai fase perjuangan, bangsa ini juga menghadapi kenyataan bahwa ada anak bangsa yang memilih menjadi perpanjangan tangan kepentingan asing. Itulah sebabnya istilah Londo Ireng memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar sebuah julukan. Ia adalah simbol tentang keberpihakan.

Namun, Indonesia hari ini hidup dalam sistem demokrasi yang menjamin kebebasan berpikir, berpendapat, dan menyampaikan kritik. Karena itu, penggunaan istilah Londo Ireng tidak boleh dipahami secara serampangan. Kritik terhadap pemerintah bukanlah pengkhianatan, sebagaimana dukungan kepada pemerintah bukan pula jaminan nasionalisme. Ukuran sesungguhnya tetaplah sama: apakah sikap dan tindakan seseorang berpihak kepada kepentingan bangsa dan negara.

Di tengah derasnya arus globalisasi, pengaruh asing memang hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari ekonomi, politik, budaya, hingga ruang digital. Kewaspadaan terhadap setiap bentuk intervensi yang dapat mengganggu kedaulatan bangsa adalah sikap yang wajar. Namun, kewaspadaan itu harus dibangun di atas fakta, akal sehat, dan semangat persatuan, bukan prasangka atau pelabelan yang mudah.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membedakan antara kritik yang lahir dari kecintaan kepada negeri dengan tindakan yang benar-benar mengorbankan kepentingan nasional demi kepentingan pihak lain. Di situlah kedewasaan demokrasi diuji.

Pada akhirnya, sejarah selalu memberi pelajaran yang sama. Sebuah bangsa tidak hanya diuji oleh kekuatan musuh dari luar, tetapi juga oleh keteguhan hati anak-anak bangsanya sendiri dalam menjaga kesetiaan kepada tanah air.

Jangan sampai istilah Londo Ireng berhenti sebagai slogan yang menghangatkan perdebatan sesaat. Jadikan ia sebagai cermin untuk terus bertanya kepada diri sendiri: kepada siapa sesungguhnya keberpihakan kita diberikan?

Sebab, di hadapan sejarah, yang akan dikenang bukan siapa yang paling keras berbicara, melainkan siapa yang tetap setia menjaga kedaulatan, persatuan, dan kehormatan Indonesia.

Penulis adalah Wartawan Senior, Mantan Pasukan Perdamaian PBB/UNEF Middle East 1978 Garuda VIII, sebagai Veteran Perdamaian, aktif di Kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat Legiun Veteran RI (DPP LVRI) dan menjadi Pemimpin Perusahaan Headlinenews.id

Editor: Michael Ivan
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!