HEADLINNEWS.ID – Mendorong kebiasaan bertransaksi digital tidak melulu soal hitung-hitungan angka atau aplikasi di ponsel pintar. Bagi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal, membentuk budaya nontunai justru dimulai dari ruang kelas hingga aksi sosial di lapangan.
Melalui sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Batang, edukasi penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) disusupkan sejak dini. Anak-anak sekolah diajak mengenal pembayaran digital bukan lewat teori yang rumit, melainkan cerita bergambar dan materi ajaran yang menyenangkan.
Kepala KPw BI Tegal Bimala mengungkapkan, bahwa membangun ekosistem digital butuh dorongan budaya yang konsisten dari berbagai lini. Kami bersama dengan pemerintah daerah melakukan berbagai macam upaya mulai dari mendorong budaya untuk pembayaran QRIS di masyarakat.
“Dan itu kita masuk edukasinya sejak dini ya, mulai dari pembuatan buku cerita tadi kemudian ada integrasi materi ajar di sekolah-sekolah,” katanya usai Media Breifing se-Jateng di Hotel Amandaru Kota Pekalongan, Kamis (13/8/2026).
Tak berhenti di bangku sekolah, gerakan nontunai ini juga merambah para aparatur sipil negara (ASN) lewat agenda Pekan QRIS. Menariknya, istilah ASN disuntikkan makna baru sebagai kampanye gaya hidup digital Aparatur Siap Nontunai.
“Aksi nyata ini ditunjukkan dalam kegiatan olahraga bersama bertajuk ASN Wani Playon pada Jumat 14 Agustus 2026 pagi, yang dirangkai dengan tasyakuran peringatan kemerdekaan pada 17 Agustus malam di Pendopo Kabupaten Batang,” jelasnya.
Dalam ajang berlari tersebut, para pegawai Pemkab Batang diajak berdonasi secara digital melalui fitur QRIS wakaf.
“ASN itu juga ada singkatannya, Aparatur Siap Nontunai. Itu nanti akan melakukan wakaf yang sudah kami sampaikan ke Pak Bupati Batang M Faiz Kurniawan, nanti beliau yang menentukan lokasi sumurnya,” terangnya.
Model bersedekah dan berwakaf secara praktis dengan pindaian kode QR ini sebenarnya bukan hal baru di Batang. Sebelumnya, dalam gelaran Gebyar PAUD Kabupaten Batang, BI Tegal bersama Bupati Batang juga memboyong pengalaman serupa kepada para orang tua murid.
“Kemarin ketika dengan Ibu Bupati atau Bunda Literasi Faelasufa Faiz Kurniawan di Gebyar PAUD, beliau juga mendorong ibu-ibu yang datang untuk wakaf melalui QRIS,” pungkasnya.
Lewat kombinasi edukasi usia dini, kegiatan komunitas, hingga aksi kemanusiaan, BI Tegal dan Pemkab Batang optimistis pembayaran nontunai dapat berakar menjadi budaya keseharian masyarakat Batang. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)

