Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5

ICARE Dorong Petani Losari Brebes Naik Kelas, Hasil Panen Padi Tembus 10,2 Ton/Ha

Dedi Agustian
5 Min Read

HEADLINNEWS.IDBrebes – Program Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (ICARE) mulai membuka jalan bagi petani di Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, untuk beralih ke pertanian modern. Penguatan kelembagaan, teknologi, mekanisasi hingga akses pembiayaan didorong agar petani semakin produktif dan berdaya saing.

Program yang dikembangkan Kementerian Pertanian bersama Pemerintah Kabupaten Brebes itu dipusatkan di Kecamatan Losari dan mencakup delapan desa dengan komoditas unggulan padi dan pisang.

Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma melalui Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Brebes, Ineke Tri Sulistyowaty, mengapresiasi pendampingan Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Tengah terhadap petani penerima Program ICARE. Apresiasi tersebut disampaikan saat kegiatan di Desa Kedungneng, Kecamatan Losari, Selasa (4/8/2026).

Menurut Ineke, ICARE tidak hanya membawa teknologi baru ke lahan pertanian. Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kelembagaan petani, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, sekaligus membuka akses pembiayaan.

“Program ICARE telah memberikan manfaat nyata bagi petani. Pemerintah Kabupaten Brebes siap mendukung keberlanjutan program ini melalui kolaborasi dan pendampingan agar manfaatnya semakin luas dirasakan masyarakat,” kata Ineke.

Salah satu inovasi yang dikembangkan yakni sistem Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS). Berdasarkan hasil sampling, produktivitas padi dengan sistem tersebut mencapai 10,2 ton per hektare.

Angka itu meningkat dibandingkan budidaya konvensional yang rata-rata menghasilkan sekitar 5-6 ton gabah per hektare.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Brebes, Hendri Adi Komara, mengatakan peningkatan produktivitas tersebut menjadi salah satu gambaran potensi pertanian modern yang dikembangkan melalui ICARE.

“Penerapan sistem PM-AAS menunjukkan hasil yang menggembirakan. Jika metode budidaya konvensional rata-rata menghasilkan 5 sampai 6 ton gabah per hektare, melalui sistem PM-AAS hasil panen berdasarkan sampling mampu mencapai 10,2 ton per hektare,” ujarnya.

Menurut Hendri, PM-AAS menggabungkan teknologi, mekanisasi, pemanfaatan data, dan pengelolaan budidaya secara presisi. Sistem tersebut juga menerapkan pola tanam larikan 4:1 maupun 6:1.

Teknologi drone turut digunakan untuk penyemprotan silika. Selain mempercepat pekerjaan, penggunaan drone membuat penyemprotan lebih merata, efisien, dan tepat sasaran. Silika juga dimanfaatkan untuk membantu memperkuat batang tanaman.

Tak hanya teknologi di lahan, ICARE juga mendorong petani membangun kelembagaan ekonomi melalui koperasi. Koperasi tani yang telah terbentuk di sejumlah desa diproyeksikan menjadi fondasi pengembangan korporasi petani.

“Program ICARE merupakan gerakan transformasi menuju pertanian modern yang bertumpu pada penguatan kelembagaan petani, pemanfaatan teknologi, dan peningkatan kesejahteraan petani,” jelas Hendri.

Selain itu, Pemkab Brebes mengembangkan pemanfaatan energi terbarukan melalui Pompa Air Tenaga Surya (PATS) di Desa Kalibuntu. Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi pengelolaan air untuk mendukung kegiatan pertanian.

Kepala BRMP Jawa Tengah, Arif Surahman, mengatakan ICARE merupakan program strategis Kementerian Pertanian yang mendapat dukungan pendanaan dari World Bank. Di Jawa Tengah, Kecamatan Losari menjadi lokasi pengembangan program dengan komoditas utama padi dan pisang.

“Program ICARE dilaksanakan selama lima tahun, sejak 2022 hingga direncanakan berakhir pada 2027,” kata Arif.

Selama pelaksanaannya, ICARE mengembangkan sejumlah unit usaha berbasis koperasi. Di antaranya penyediaan sarana produksi pertanian, jasa alat dan mesin pertanian (alsintan), pengolahan pascapanen padi dan pisang, hingga layanan permodalan.

Arif berharap unit usaha yang telah dibangun dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi petani setelah program berakhir.

“Semoga seluruh unit usaha koperasi yang telah dibentuk mampu berkembang optimal sehingga petani Losari semakin mandiri dan sejahtera,” ujarnya.

Direktur ICARE, Bram Kusbiantoro, turut mengapresiasi perkembangan program di Kabupaten Brebes. Menurutnya, penguatan koperasi tani dan berbagai program pemberdayaan yang telah berjalan perlu dijaga agar tetap berlanjut setelah masa proyek selesai.

Ia berharap investasi pembangunan pertanian melalui ICARE tidak berhenti pada berakhirnya proyek, tetapi mampu menghasilkan kelembagaan petani yang mandiri dan memberikan dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan petani serta ketahanan pangan daerah.

Dalam kegiatan tersebut, bantuan Program ICARE Tahun 2025 dan 2026 juga diserahkan secara simbolis kepada empat koperasi, yakni Koperasi Tumbuh Gelimang Pangan, Koperasi Sinergi Hasil Tani, Koperasi Langgeng Lumbung Pangan, dan Koperasi Manfaat Hasil Tani.

Bantuan tersebut menjadi bagian dari penguatan kelembagaan ekonomi petani agar koperasi dapat berkembang menjadi korporasi pertanian yang mandiri, profesional, dan berdaya saing.

Pengembangan ICARE di Losari sekaligus memperlihatkan bahwa transformasi pertanian tidak hanya bergantung pada teknologi. Penguatan kelembagaan, kapasitas petani, akses permodalan, mekanisasi, hingga kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting untuk mendorong petani menuju usaha tani yang lebih modern dan berkelanjutan.

Editor: HL-News
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!