HEADLINNEWS.ID – Brebes – Dinas Perikanan Kabupaten Brebes menyiapkan pengoperasian pabrik garam di Kecamatan Bulakamba yang dijadwalkan mulai beroperasi pada Agustus 2026. Fasilitas berkapasitas lima ton per hari itu disiapkan sebagai bagian dari upaya memperbaiki rantai pasok di tengah merosotnya harga garam di tingkat petani.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Brebes Eko Supriyanto mengatakan, keberadaan pabrik garam diharapkan dapat membantu menyerap hasil produksi petani sekaligus menjaga stabilitas harga menjelang panen raya.
“Kami saat ini tengah berupaya memperbaiki rantai pasok. Salah satunya melalui pabrik garam berkapasitas lima ton per hari yang diharapkan bisa ikut menstabilkan harga garam,” kata Eko saat dihubungi wartawan, Selasa (28/7/2026).
Upaya tersebut dilakukan setelah harga garam di tingkat petani di Brebes terus mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Saat ini, harga garam hanya berkisar Rp40.000 per karung dengan berat 55 kilogram, turun dari sebelumnya sekitar Rp70.000 per karung.
Petani garam asal Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari, Hasan Firdaus, mengatakan penurunan harga terjadi hampir setiap hari.
“Dari Rp70 ribu, turun jadi Rp60 ribu, Rp55 ribu, Rp50 ribu, dan sekarang tinggal Rp40 ribu. Turunnya setiap hari,” kata Hasan.
Menurut Hasan, penurunan harga tersebut dinilai tidak wajar. Sebab, sebagian besar petani di Brebes diperkirakan baru memasuki masa panen pada pertengahan Agustus mendatang. Selain itu, gudang penyimpanan garam juga disebut masih kosong sehingga pasokan belum melimpah.
Ia menduga turunnya harga dipengaruhi mulai masuknya garam dari sejumlah daerah penghasil, seperti Madura, Rembang, Pati, dan Cirebon. Namun, di sisi lain, aktivitas pembelian oleh penampung justru menurun.
“Kalau dulu ada penampung garam yang datang langsung ke sini dan membeli dengan harga cukup tinggi. Sekarang sepi,” ungkapnya.
Hasan mengaku kondisi tersebut membuat petani kebingungan. Menurut dia, stok garam hasil produksi sebelumnya juga tidak banyak karena sempat terkendala hujan.
“Yang membuat kami bingung, gudangnya kosong, stok tidak banyak, tengkulak juga tidak ada yang datang, tapi harga justru terus turun,” ucapnya.
Petani garam lainnya, Ahmad Yani, berharap pemerintah daerah segera turun ke lapangan untuk mencari solusi atas anjloknya harga garam.
“Harapannya pemerintah turun ke lapangan dalam mengatasi harga garam yang turun,” pungkasnya.
Anjloknya harga garam menjelang panen raya dikhawatirkan akan berdampak pada pendapatan petani apabila tidak diikuti peningkatan penyerapan hasil produksi. Karena itu, pengoperasian pabrik garam di Bulakamba diharapkan menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat tata niaga garam di Kabupaten Brebes.

