Konflik Iran-AS Memanas, Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Krisis

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
4 Min Read

HEADLINNEWS.ID – Jakarta, Konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat pada Kamis (16/7/2026) setelah kedua negara saling melancarkan serangan. Eskalasi ini menjadi yang terbesar sejak gencatan senjata yang disepakati bulan lalu mulai mengalami kemunduran dan turut memicu gangguan di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia.

Militer Amerika Serikat, menurut laporan Reuters, menyatakan telah melancarkan serangan keenam secara berturut-turut terhadap Iran dengan tujuan “lebih melemahkan kemampuan militer Iran.” Sehari sebelumnya, Washington juga disebut menggelar dua gelombang serangan udara besar untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata, yang sebagian besar menyasar wilayah pesisir selatan Iran.

Iran merespons dengan menembakkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Salah satu sasaran yang disebut Teheran adalah pangkalan udara di Yordania yang diklaim digunakan dalam serangan terhadap rumah sakit kanker anak-anak di Iran.

Pada Kamis malam, serangan Amerika Serikat kembali menghantam Pulau Qeshm dan kawasan sekitar Bandar Abbas. Wilayah tersebut merupakan lokasi pelabuhan terbesar Iran sekaligus basis penting Angkatan Laut dan Garda Revolusi di Selat Hormuz. Kantor berita Mehr juga melaporkan sejumlah titik di Bandar Abbas menjadi sasaran serangan.

Media Iran turut memberitakan serangan terhadap tiga jembatan, stasiun kereta api di Bandar Khamir, serta Bandara Iranshahr di tenggara Iran. Namun, Reuters menyatakan laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Meningkatnya konflik berdampak pada lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Iran kembali memperketat blokade di kawasan tersebut, sementara Amerika Serikat memperbarui blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Teheran juga disebut memberikan sinyal dapat meminta kelompok Houthi di Yaman menutup Selat Bab al-Mandeb apabila Washington terus menyerang infrastruktur Iran.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan Presiden Donald Trump tidak akan membiarkan ancaman terhadap jalur pelayaran internasional.

“Presiden tidak akan diam saja dan membiarkan tindakan terorisme aktif ini terjadi di selat tanpa memastikan Iran menanggung konsekuensinya,” ujar Leavitt.

Ia menambahkan bahwa Trump “selalu terbuka untuk diplomasi pada saat yang sama.”

Di pihak lain, juru bicara militer Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia menyatakan serangan udara Amerika Serikat tidak akan melumpuhkan kendali Iran atas Selat Hormuz. Menurutnya, Iran masih memiliki kemampuan menyerang jalur pelayaran strategis tersebut dari berbagai titik di wilayahnya.

Pengamat Middle East Institute, Alex Vatanka, menilai kedua negara kini “kembali ke titik awal” dan dihadapkan pada pilihan untuk meredakan konflik atau membawa eskalasi ke tingkat yang lebih tinggi.

Hingga laporan ini disusun, belum disebutkan dalam sumber adanya langkah lanjutan yang disepakati kedua pihak. Pernyataan resmi dari Amerika Serikat dan Iran menunjukkan peluang diplomasi masih terbuka, di tengah berlanjutnya aksi militer.

Eskalasi terbaru memperlihatkan konflik tidak lagi terbatas pada serangan militer, tetapi juga berdampak terhadap jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Berdasarkan data sumber, meningkatnya operasi militer, pengetatan blokade, serta pernyataan kedua pihak menunjukkan ketegangan masih berlangsung, sementara opsi diplomasi tetap disebut terbuka. Situasi tersebut menempatkan keamanan jalur perdagangan energi sebagai salah satu dampak utama dari perkembangan konflik.

Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *