HEADLINNEWS.ID – Kesuksesan Batik Ijo hari ini tidak lahir dalam semalam. Di balik setiap motif yang menghiasi lembaran kain batik, tersimpan perjalanan panjang penuh perjuangan dari sang pendiri, Wilis Janu, yang pernah menjalani berbagai pekerjaan serabutan demi mewujudkan impiannya menempuh pendidikan.
Semasa kuliah, Wilis bekerja di sejumlah sentra batik di Kendal, Demak, hingga Pekalongan. Awalnya, pekerjaan itu dilakukan untuk membantu membiayai kuliahnya. Namun, tanpa disadari, pengalaman tersebut justru memperkenalkannya pada dunia batik dan menumbuhkan kecintaan yang kemudian mengubah arah hidupnya.
Setelah menjadi guru, Wilis mulai menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli peralatan membatik. Semua dilakukan secara bertahap.
Dari hasil menabung dan mencicil perlengkapan, ia perlahan membangun usaha yang kemudian dikenal dengan nama Batik Ijo. Nama tersebut diambil dari arti nama Wilis dalam bahasa Jawa, yakni ijo atau hijau, yang kini menjadi identitas sebuah merek batik khas Kabupaten Demak.

Selama 12 tahun terakhir, Batik Ijo terus berkembang dengan menghadirkan beragam motif yang mengangkat kekayaan alam, budaya, dan identitas lokal Demak. Mulai dari motif blewah, flora, fauna, hingga berbagai ikon daerah dituangkan dalam setiap helai kain.
Produknya pun menjangkau berbagai kalangan, mulai dari batik cap seharga sekitar Rp80 ribu hingga batik tulis eksklusif bernilai jutaan rupiah yang dikerjakan dengan ketelitian tinggi oleh para perajin.
Bagi Wilis, batik bukan sekadar produk fesyen, melainkan media untuk memperkenalkan Kabupaten Demak kepada masyarakat luas.
“Saya ingin orang mengenal Demak melalui batiknya. Semoga Batik Ijo terus berkembang, semakin dicintai masyarakat, dan menjadi kebanggaan daerah,” ujarnya.

Perjalanan Wilis mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, Endah Cahya Rini. Menurutnya, kisah Batik Ijo menjadi bukti bahwa ketekunan, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya mampu melahirkan karya yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas daerah.
“Batik Ijo adalah contoh nyata bagaimana ekonomi kreatif tumbuh dari semangat pantang menyerah. Kisah seperti ini layak dikenal lebih luas karena mampu menginspirasi sekaligus mengangkat nama Demak,” kata Endah.
Perjalanan dari pekerjaan serabutan hingga berhasil membangun merek batik yang dikenal masyarakat menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat diwujudkan melalui kerja keras dan ketekunan.
Kini, setelah lebih dari satu dekade berkarya, Batik Ijo tidak hanya menjadi sumber penghidupan bagi para perajinnya, tetapi juga menjelma sebagai salah satu kebanggaan ekonomi kreatif Kabupaten Demak sekaligus wajah budaya lokal yang terus diperkenalkan kepada Indonesia.

