HEADLINNEWS.ID – TUNTANG — Pendopo Desa Candirejo, Dusun Dempel, Kabupaten Semarang, diselimuti suasana khidmat Minggu (5/7/2026). Diiringi alunan gamelan dan barisan pengiring yang tertib, berlangsung rangkaian upacara sakral Kirap Siraman Pusaka, serah terima warisan leluhur, serta pengukuhan pengurus baru Tosan Aji Soko Songo. Momen ini bukan sekadar perayaan tradisi, melainkan bukti hidupnya benang merah sejarah yang menyatukan masyarakat dan pemerintah dalam satu janji: menjaga identitas, persatuan, serta masa depan wilayah Tuntang.

Puncak haru terpancar saat Empu Muda Ridwan — pemangku Besalen Gajah Kuning Sraten sekaligus pencipta pusaka — secara resmi menyerahkan tombak pusaka Desa Candirejo hasil karyanya kepada Kepala Desa Candirejo Tri Gunawan Setiadi, didampingi Kepala Dusun Dempel.
Penyerahan ini, menurut Empu Ridwan, bukan sekadar perpindahan benda bersejarah, melainkan penyerahan amanah besar yang dijaga turun-temurun leluhur.
“Tombak pusaka bukan sekadar besi dan bilah penyimpan sejarah. Ia adalah simbol kesetiaan pada tanah kelahiran, keadilan dalam melayani, serta perlindungan bagi seluruh warga tanpa terkecuali. Hari ini kami menitipkan amanah leluhur ini kepada pemerintah desa Candirejo, agar dijaga sebaik-baiknya demi kedamaian, menjadi simbol pemersatu, dan membawa kesejahteraan wilayah,” ujar Empu Muda Ridwan dengan suara tenang namun tegas.
Prosesi siraman pusaka yang menyusul pun memiliki makna mendalam: “Ini bukan sekadar membersihkan benda, melainkan penyucian jiwa kita semua, pemulihan energi nilai luhur, serta pengingat kembali jalan benar yang ditunjukkan pendahulu,” jelasnya.

Sementara itu, dalam pengukuhan pengurus baru Tosan Aji Soko Songo, Ketua Umum yang baru dilantik Achmad Asari menegaskan keberlanjutan peran lembaga adat sebagai tiang kearifan lokal. “Di tengah arus perubahan zaman, kehadiran penjaga dan pelaku budaya menjadi rujukan masyarakat menjaga nilai etika, kebersamaan, serta tata hidup selaras antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” tegasnya.

Secara sosial, acara ini membuktikan kekuatan persaudaraan warga Tuntang. Tokoh adat, pemuka agama, generasi muda, hingga warga biasa berdampingan, bergotong royong, dan menyaksikan prosesi dengan bangga. Ruang kebersamaan ini menipiskan sekat perbedaan, memperkuat ikatan, sekaligus menjadi benteng alami mencegah perpecahan.
Dari sisi budaya, kegiatan ini menegaskan tradisi bukan warisan masa lalu yang ditinggalkan, melainkan akar yang memberi kekuatan melangkah ke depan. Tuntang yang kaya jejak sejarah kini kembali menegaskan jati dirinya: menghargai asal-usul, sekaligus siap membawa nilai luhur ke dalam dinamika pembangunan modern.
Kegiatan ini juga membawa dampak positif bagi ekonomi lokal. Ramainya pengunjung dari berbagai daerah menghidupkan lapak pedagang dan jasa warga, membuka peluang besar pengembangan pariwisata berbasis budaya. Hal ini berpotensi memperkenalkan Tuntang ke kancah lebih luas sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat secara berkelanjutan.
Usai prosesi siraman pusaka Tuntang yang diberi nama “Kyai Putih” Camat Tuntang Dhani Ardianto, S.STP., M.M., menyatakan rasa hormat dan kesadaran akan besarnya tanggung jawab yang diemban. Ia menegaskan sinergi pemerintah dan adat adalah kunci kemajuan yang berakar kuat.

“Rasa bangga dan terima kasih atas terselenggaranya acara sakral ini tak cukup diungkapkan kata-kata. Nilai dalam pusaka dan tradisi ini jauh lebih mahal dari benda apa pun. Pemerintah akan berdiri bahu-membahu dengan pengurus adat dan seluruh elemen masyarakat: menjaga tradisi tetap hidup, menjadikannya pelita dalam setiap kebijakan, serta membuka jalan kemajuan ekonomi tanpa melupakan jati diri,” ujar Dhani.
Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin pemuka agama, berharap Tuntang senantiasa diberkahi kedamaian, dijauhkan marabahaya, dan terus melangkah membawa kearifan leluhur sebagai kompas di tengah perubahan zaman.

