BRI Jazz Gunung Slamet 2026: Ketika Baturraden Menjadi Panggung Besar Musik dan Pariwisata

Melalui perpaduan musik, lanskap alam, budaya lokal, dan kekuatan ekonomi kreatif, BRI Jazz Gunung Slamet 2026 ingin menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar pertunjukan satu hari. F

Ria Diana
By
Ria Diana
Penyuka sushi dan semua tentang Jepang.
5 Min Read

HEADLINNEWS.ID – Akhir Juni mendatang, kawasan Baturraden nampaknya tidak hanya dipadati wisatawan yang ingin menikmati sejuknya lereng Gunung Slamet. Ribuan penikmat musik juga diperkirakan akan memadati kawasan tersebut dalam gelaran BRI Jazz Gunung Slamet 2026 yang akan berlangsung pada 27 Juni.

Berbeda dengan festival musik pada umumnya, Jazz Gunung Slamet menawarkan pengalaman yang lebih luas dari sekadar menyaksikan penampilan para musisi di atas panggung. Festival ini dirancang sebagai pertemuan antara musik, alam, budaya, dan potensi ekonomi lokal yang tumbuh di Banyumas.

Atmosfer pegunungan yang menjadi ciri khas Baturraden menjadi bagian penting dari konsep acara. Pengunjung tidak hanya menikmati alunan musik di tengah udara sejuk lereng Gunung Slamet, tetapi juga diajak mengenal berbagai kekayaan daerah yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Banyumas.

Tahun ini, panggung Jazz Gunung Slamet akan diisi sederet nama yang memiliki karakter musikal beragam. Mocca, Nonaria, Kevin Yosua Big 6 feat Gracy Tamangendar, Amelia Ong, hingga Emptyyy dipastikan tampil dan menghadirkan nuansa yang berbeda sepanjang festival berlangsung.

Penyelenggara sengaja mengusung pendekatan baru melalui konsep bertajuk “Jazz-tination”. Gagasan tersebut lahir dari keinginan untuk mengubah cara masyarakat menikmati festival musik. Jika biasanya konser menjadi tujuan utama, kali ini destinasi wisata justru ditempatkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan pengalaman.

Direktur Jazz Gunung Indonesia, Bagas Indyatmono, menjelaskan bahwa Baturraden dipilih bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena memiliki daya tarik wisata yang mampu melengkapi pengalaman para pengunjung selama festival berlangsung.

Karena itu, berbagai elemen lokal turut dilibatkan dalam penyelenggaraan acara. Salah satu yang disiapkan adalah Kampung Durian, sebuah area khusus yang menampilkan aneka varietas durian khas Banyumas. Program tersebut diharapkan dapat memperkenalkan kekayaan kuliner daerah kepada wisatawan yang datang dari berbagai kota.

Bagi penyelenggara, durian Banyumas bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan bagian dari identitas daerah yang layak mendapat panggung di tengah agenda nasional seperti Jazz Gunung.

i sisi lain, festival ini juga tetap mempertahankan misinya dalam mencetak generasi baru musisi Indonesia. Melalui program pembinaan Bromo Jazz Camp, talenta-talenta muda dari berbagai daerah terus diberi kesempatan untuk belajar dan berkembang bersama para pelaku industri musik yang lebih berpengalaman.

Penggagas Jazz Gunung Indonesia, Sigit Pramono, mengatakan filosofi Jazz Gunung sejak awal memang tidak pernah dibatasi sebagai konser musik semata. Menurutnya, festival ini dibangun sebagai ruang yang memungkinkan seni, budaya, dan aktivitas ekonomi masyarakat bergerak secara bersamaan.

Konsep tersebut membuat manfaat acara tidak berhenti di area panggung. Kehadiran ribuan pengunjung turut menggerakkan sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga usaha mikro yang berada di sekitar lokasi kegiatan.

Banyumas sendiri dinilai memiliki modal kuat untuk menjadi tuan rumah festival berskala nasional. Selain dikenal memiliki bentang alam yang menarik, wilayah ini juga ditopang akses transportasi yang memudahkan wisatawan dari berbagai daerah untuk datang dan menikmati acara.

Sementara itu, Advisor Jazz Gunung Indonesia, Andy F. Noya, melihat festival ini sebagai ruang perjumpaan yang melampaui batas genre musik maupun latar belakang sosial. Baginya, Jazz Gunung telah berkembang menjadi simbol kolaborasi yang mempertemukan banyak orang dalam semangat yang sama.

Menurut Andy, perubahan juga terlihat dari profil penonton yang hadir dalam beberapa tahun terakhir. Jika dulu jazz kerap dianggap sebagai musik untuk kalangan tertentu, kini semakin banyak anak muda yang menjadikan festival ini sebagai bagian dari agenda wisata dan hiburan mereka.

Melalui perpaduan musik, lanskap alam, budaya lokal, dan kekuatan ekonomi kreatif, BRI Jazz Gunung Slamet 2026 ingin menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar pertunjukan satu hari. Festival ini hadir sebagai etalase yang memperlihatkan bagaimana sebuah daerah dapat memperkenalkan identitasnya kepada publik melalui bahasa yang paling mudah diterima semua orang, yaitu musik.

Tiket festival tersedia dalam kategori reguler dan VIP. Penjualan tiket dibuka dengan harga mulai Rp410 ribu hingga Rp600 ribu, tergantung kategori yang dipilih pengunjung. Dengan berbagai pengalaman yang ditawarkan, penyelenggara optimistis Jazz Gunung Slamet tahun ini akan menjadi salah satu agenda paling menarik di Banyumas selama musim liburan pertengahan tahun.

Share This Article
Follow:
Penyuka sushi dan semua tentang Jepang.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!