HEADLINNEWS.ID – Harga emas (XAU/USD) bergerak naik ke sekitar US$4.310 pada perdagangan sesi Asia setelah mengalami tekanan jual besar pascakeputusan Federal Reserve. Analis finance Lukman Hqeem menilai kenaikan tersebut masih merupakan technical recovery dan belum menunjukkan awal tren bullish baru.
Menurut analisis Lukman Hqeem, emas masih menghadapi tekanan selama harga belum mampu menembus serta bertahan di atas area resistance US$4.335-US$4.350. Dalam kondisi tersebut, kecenderungan pergerakan jangka pendek masih berada pada fase bearish-neutral dengan rentang US$4.275-US$4.335.
Emas sempat mencatat level tertinggi intraday di US$4.329 sebelum kembali bergerak terbatas. Pemulihan terjadi karena aksi beli di harga rendah atau bargain hunting setelah penurunan tajam sebelumnya.
Lukman Hqeem menjelaskan, faktor fundamental utama yang membatasi penguatan emas masih berasal dari kebijakan Federal Reserve. Ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi membuat imbal hasil Treasury meningkat dan mengurangi daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Separuh anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) melihat kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan tahun ini karena tekanan inflasi masih berpotensi bertahan. Kondisi tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan posisi dolar AS dan obligasi pemerintah.
Selain faktor moneter, meredanya ketegangan geopolitik juga mengurangi permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran serta pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz menurunkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Namun, Lukman Hqeem melihat dukungan jangka menengah terhadap emas masih berasal dari aktivitas pembelian bank sentral dunia. Permintaan institusi tersebut menjadi faktor penahan apabila terjadi koreksi lebih dalam.
Dari sisi teknikal, Lukman Hqeem menyebut area US$4.300 menjadi titik penentu arah emas dalam beberapa jam perdagangan berikutnya. Jika harga mampu bertahan di atas US$4.295-US$4.300, peluang penguatan menuju US$4.335 masih terbuka.
Penembusan kuat di atas US$4.335 dapat membuka peluang kenaikan lanjutan menuju US$4.355, US$4.380, hingga US$4.410. Skenario tersebut membutuhkan dukungan pelemahan yield Treasury AS dan koreksi indeks dolar AS (DXY).
Sebaliknya, jika emas gagal mempertahankan area US$4.300, tekanan jual berpotensi kembali muncul. Target pelemahan berikutnya berada di US$4.275, US$4.250, hingga US$4.220.
Lukman Hqeem menilai sinyal pelemahan akan semakin kuat apabila yield Treasury kembali meningkat, dolar AS menguat, dan emas gagal mempertahankan area US$4.320-US$4.330 sebagai zona pertahanan terdekat.
Menurut Lukman Hqeem, posisi emas saat ini masih lebih mencerminkan fase pemulihan setelah koreksi dibandingkan perubahan tren menuju kenaikan berkelanjutan.
Pasar masih menunggu katalis baru dari data inflasi Amerika Serikat dan arah kebijakan Federal Reserve berikutnya. Selama tekanan dari dolar AS dan imbal hasil obligasi tetap tinggi, ruang kenaikan emas diperkirakan masih terbatas.
Pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada kemampuan emas mempertahankan level psikologis US$4.300 serta menembus resistance US$4.335. Area tersebut menjadi indikator utama apakah pasar hanya mengalami rebound sementara atau mulai membangun momentum kenaikan baru.

