HEADLINNEWS.ID – Bertempat di Embun Senja Coffee n Eatery, Semarang, forum bertajuk “Indonesia Emas atau Cemas? Telaah Kritis Indonesia Hari Ini”, menghadirkan dialog antara kalangan mahasiswa dan umum, dengan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Republik Indonesia (BP Taskin RI), Budiman Sudjatmiko.
Sejumlah organisasi mahasiswa ekstra kampus seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), serta Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan pelbagai organisasi kemasyarakatan di Kota Semarang turut hadir sebagai peserta dalam forum diskusi tersebut.
Budiman selaku pembicara utama membuka diskusi dengan menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto menggabungkan dua pemikiran utama tokoh nasional, yakni Ir. Soekarno (nasionalisme kerakyatan berbasis kedaulatan sumber daya alam), dan Prof. Soemitro Djojohadikusumo (negara kesejahteraan berbasis industri), dengan berorientasi pada kemandirian ekonomi, pembangunan inklusif, dan visi Indonesia yang berperan aktif di tingkat global.
Ia juga menyoroti bahayanya disinformasi yang berkembang di tengah masyarakat. “Kalau disinformasinya tidak dikoreksi, mudah menciptakan distrust, ketidakjelasan, dan perpecahan”, ujar Budiman.
Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang diwarnai diskursus kritis antara peserta dengan pembicara. Beragam argumen dilontarkan, mulai dari pesimisme terhadap visi Indonesia Emas 2045, kritik terhadap penyempitan ruang gerak dan intervensi militer di ranah sipil, gagasan tentang kurikulum pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Papua, hingga kritik yang ditujukan langsung kepada Budiman.
Salah satu kritik dilontarkan Ketua HMI Komisariat FISIP, Undip, Rafli Susanto. “Saya tahu disini Bapak diredam hegemoni dan konflik wacananya negara. Bapak jangan berbicara lagi soal keidealan negara, kalau Bapak tidak pernah memikirkan ide-ide atau solusi-solusi yang menyentuh akar-akar rakyat,” ujar Rafli.
Selain itu, Ketua PMKRI Cabang Semarang, Bima Prayuda turut melontarkan kritik kepada Budiman. “Apakah Bung Budiman masuk sistem dengan menjinakkannya, atau sistem yang menjinakkan Bapak?” ujar Bima.
Budiman menuturkan bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini telah menunjukkan komitmen penuh kepada kelompok rentan, salah satunya melui program Sekolah Rakyat yang membuka akses pendidikan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Budiman menambahkan masuknya dirinya ke dalam pemerintahan, adalah langkah aktivisme strategis untuk membangun sistem yang lebih baik dari dalam.
Menurutnya, yang harus ditonjolkan seorang aktivis adalah esensi perjuangan dan rasa cinta kepada rakyat miskin, sementara wadah atau strategi pergerakannnya bisa berubah seiring dengan perubahan zaman.
Diskusi ini menghadirkan diskursus kritis dan konstruktif antara dua kelompok aktivis dari generasi yang berbeda. Kendati sempat terjadi adu argumen antara peserta dan pembicara, forum diskusi ini berhasil menjembatani wadah adu gagasan dan komunikasi langsung antara organisasi masyarakat di tingkat akar rumput, dengan pemangku kebijakan di tingkat pusat.

