Gempa M 6,7 Guncang Sulteng, 109 Jiwa Terdampak

FX Michael
5 Min Read

HEADLINNEWS.ID – Gempa bumi magnitudo 6,7 mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6) pukul 10.27 WIB atau 11.27 WITA. BNPB mencatat 109 jiwa terdampak, 32 warga mengalami luka, serta sejumlah rumah dan fasilitas umum mengalami kerusakan di Kota Palu dan empat kabupaten.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan pendataan dampak gempa masih berlangsung di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Poso, Donggala, dan Parigi Moutong. Data sementara hingga Selasa (16/6) pukul 15.40 WIB menunjukkan kerusakan tersebar di sejumlah wilayah.

BNPB mencatat sebanyak 45 kepala keluarga atau 109 jiwa terdampak akibat gempa tersebut. Dari jumlah itu, 24 warga mengalami luka ringan dan delapan warga mengalami luka berat.

Kabupaten Sigi menjadi wilayah dengan dampak terbesar. BNPB mencatat sekitar 24 kepala keluarga atau 69 jiwa terdampak, dengan rincian 21 warga mengalami luka ringan dan delapan warga mengalami luka berat.

Kabupaten Parigi Moutong melaporkan 21 kepala keluarga atau sekitar 40 jiwa terdampak. Sementara Kota Palu mencatat dua warga mengalami luka ringan dan Kabupaten Poso melaporkan satu warga mengalami luka yang masih dalam pendataan.

Pendataan sementara BNPB mencatat sedikitnya 64 unit rumah terdampak gempa. Sebanyak empat rumah dilaporkan mengalami rusak ringan.

Kerusakan juga terjadi pada fasilitas publik, yakni empat fasilitas ibadah, empat fasilitas umum, dua jembatan, dua gedung perkantoran, satu tempat usaha, serta satu ruas jalan provinsi penghubung Palu–Sigi–Poso yang mengalami amblas.

Di Kabupaten Sigi, BNPB mencatat sekitar 44 rumah terdampak, satu rumah rusak ringan, empat fasilitas ibadah terdampak, dua gedung perkantoran mengalami kerusakan, satu bangunan terdampak, dan satu jembatan rusak.

Kabupaten Poso melaporkan lima rumah terdampak, tiga rumah rusak ringan, serta satu ruas jalan provinsi mengalami kerusakan.

Di Kabupaten Parigi Moutong, dampak gempa terjadi di Desa Tolai, Kecamatan Torue, dan Desa Boyan Tongo, Kecamatan Parigi Selatan. Wilayah tersebut mencatat sekitar 15 rumah terdampak.

Sementara di Kota Palu, kerusakan terjadi pada Jembatan III yang mengalami keretakan. Satu tempat usaha, satu fasilitas umum, dan satu bangunan hotel juga dilaporkan terdampak.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga pukul 14.00 WIB telah terjadi 55 kali gempa susulan setelah gempa utama M 6,7.

BNPB menyampaikan aktivitas gempa susulan masih dipantau karena jumlah dan karakteristiknya dapat berubah berdasarkan hasil pemantauan BMKG.

Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), aparat keamanan, dan tim reaksi cepat melakukan pendataan serta penanganan terhadap warga terdampak.

Di Kota Palu, pasien di Rumah Sakit Anutapura sempat dievakuasi ke area terbuka sebagai langkah antisipasi. Pemerintah Kota Palu bersama BPBD dan tim ahli juga melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah jembatan yang mengalami keretakan.

Tenda darurat telah didirikan sebagai langkah kewaspadaan. Pasien kemudian secara bertahap kembali ke ruang perawatan setelah kondisi dinilai lebih aman.

Di Kabupaten Poso, warga bersama aparat kepolisian melakukan pembersihan puing bangunan yang terdampak gempa.

BNPB menyebut kebutuhan mendesak di sejumlah lokasi terdampak meliputi logistik penanggulangan bencana, terpal untuk menutup bangunan rusak, serta pemasangan tenda di halaman RSUD Kabupaten Poso.

Kepala BNPB dan jajaran terkait terus memantau perkembangan situasi melalui laporan BPBD daerah. Pendataan korban dan kerusakan masih dilakukan sehingga angka dampak masih dapat berubah.

BNPB mengimbau masyarakat tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah. Warga juga diminta menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan hingga mendapat pemeriksaan dari petugas.

Gempa M 6,7 di Sulawesi Tengah menunjukkan wilayah yang pernah mengalami bencana besar masih memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap aktivitas seismik. Dampak terbesar saat ini terjadi pada permukiman warga dan fasilitas publik yang tersebar di beberapa kabupaten.

Kerusakan jalan penghubung Palu–Sigi–Poso menjadi perhatian karena dapat memengaruhi distribusi bantuan dan mobilitas tim penanganan. Pemerintah daerah perlu memastikan jalur logistik tetap aman selama proses evakuasi dan pemulihan berlangsung.

Frekuensi 55 gempa susulan juga menjadi faktor yang harus diperhitungkan. Pemeriksaan struktur bangunan, terutama rumah, jembatan, rumah sakit, dan fasilitas pelayanan publik, menjadi langkah utama untuk mencegah korban tambahan.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!