Belajar Ikhlas, Bersyukur, dan Menjalani Hidup dengan Bijak

Jangan mudah berprasangka buruk kepada Tuhan. Apa yang diberikan kepada manusia pada dasarnya adalah yang terbaik menurut rencana-Nya.

HL-News
2 Min Read

Falsafah Jawa menyimpan banyak pitutur bijak yang tetap relevan di tengah kehidupan modern. Nilai-nilai tersebut mengajarkan ketenangan, keselarasan, dan kebijaksanaan dalam menjalani hidup.

Kearifan itu tidak hanya dekat dengan masyarakat Jawa, tetapi juga dapat menjadi pedoman bagi siapa saja yang ingin menjalani hidup dengan lebih damai dan penuh makna.

Salah satu pitutur Jawa yang sarat pelajaran hidup adalah ungkapan, “Nek wis ono, sukurono. Nek durung teko, entenono. Nek wis lungo, lalekno. Nek ilang, ikhlasno.”

Pembahasan disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Sri Puryono, pemerhati falsafah Jawa yang juga Guru Besar Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro, Ketua Ikal Lemhannas Jawa Tengah, serta Ketua LPM Jateng.

Menurut Prof. Sri Puryono, ungkapan tersebut mengandung pelajaran hidup yang sangat mendalam.

“Nek wis ono, sukurono” berarti ketika seseorang sudah memiliki sesuatu, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah bersyukur. Rasa syukur tidak hanya berkaitan dengan materi atau uang, tetapi juga kesehatan, pendidikan yang lancar, keluarga, hingga kesempatan hidup yang baik.

Sementara “nek durung teko, entenono” mengajarkan tentang kesabaran. Namun, menunggu bukan berarti pasrah tanpa usaha. Seseorang tetap harus berikhtiar secara maksimal sambil terus berdoa dan berusaha mencapai apa yang dicita-citakan.

Kemudian, “nek wis lungo, lalekno” mengandung makna bahwa sesuatu yang telah pergi atau hilang sebaiknya tidak terus disesali. Kehidupan harus tetap berjalan dan manusia perlu belajar menerima kenyataan dengan lapang dada.

Sedangkan “nek ilang, ikhlasno” menjadi pengingat penting tentang keikhlasan. Manusia diajak untuk percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan bagian dari rencana Tuhan yang terbaik.

Prof. Sri Puryono menegaskan, sikap ikhlas dan bersyukur perlu terus dilatih dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya dengan memperdalam nilai-nilai agama dan mempraktikkannya dalam kehidupan nyata.

“Jangan mudah berprasangka buruk kepada Tuhan. Apa yang diberikan kepada manusia pada dasarnya adalah yang terbaik menurut rencana-Nya,” ujarnya.

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!