Pelajaran (Belajar) Dari Iran

Jayanto Arus Adi
12 Min Read

Oleh: Jayanto Arus Adi

Tri Sakti Bung Karno merupakan buah gagasan Sang Proklamator, yang juga Presiden pertama kita. Pemikiran dan gagasan Putra Sang Fajar menjadi relevan menjadi insight pemimpin pemimpin saat ini jatidiri, kepribadian, yang menjadi way of life sebuah bangsa adalah pahatan yang menempatkan eksistensi dengan harkat dan martabat di dalamnya.

Perang Teluk, serangan berkomplot Israel bersama sekutunya Amerika menghadirkan pelajaran penting bagi Indonesia, dan juga dunia. Jika pemimpin-pemimpin kita (baca Indonesia) menabalkan pada jejak dan pemikiran Bung Karno, buku sejarah akan berkata lain.

Dengan segala dinamika, warna juga romantika yang mewarnai kita layak belajar pada Iran, Korea Utara juga Cina. Iran, negeri para Mullah itu (sebutan bekas imperium Persia) membelalakkan mata dunia. Trump dan Netanyahu ditampar, dipermalukan tanpa ampun terang-terangan di siang bolong.

Kalkulasi Trump bukan hanya salah, tetapi blunder dan berakibat fatal. Kesombongan Presiden Gaek yang sudah bau tanah ini bukan hanya membuat susah rakyatnya sendiri, tetapi dibenci, dicaci maki mayaritas warga dunia.

Wajar di negerinya sendiri Trump, dan Netanyahu didemo karena muak dan menuntut keduanya turun.

Setali tiga uang aksi serupa di berbagai negara, bahkan negara-negara yang selama ini menjadi sekuturnya mengutuk, dan menghardik ulah ugal-ugalan Amerika berkomplot dengan Israel. NATO pecah, mayoritas anggota pakta pertahanan ini tak sudi membantu Amerika.

Sikap konyol dan bedebah dipertontonkan negara-negara Arab. mereka masih bertindak seperti keledai dungu, atau anjing kelaparan menyetiai tuannya. Dengan lidah melet-melet menjulur negara-negara Arab tetap mengikuti tanpa nalar semata iming-iming tulang (baca materi dan janji-janji palsu).

Lihat bagaimana mereka (mayoritas negara-negara Timur Tengah) masih menutup mata penindasan Israel atas Palestina. Siapa pun, bangsa mana pun yang punya akal muak menyaksikan perilaku semacam itu. Ampun-ampun apalagi perilaku konyol dilakukan bangsa-bangsa Arab, tetangga Iran sendiri.

Inilah pelajaran moral yang perlu dipetik.

Iran pascarevolusi 1979 menjadi satu-satunya negara di Timur Tengah yang mendukung perjuangan rakyat Palestina. Dukungan Iran pada milisi Hamas dan Hizbullah menjadi manifestasi sekaligus afirmasi sikap politik yang tidak abu-abu. Bagi Teheran (baca Iran) pendudukan atas wilayah Palestina adalah penjajahan. Karenanya Iran mengutuk dan mengecam keras serangan ke Gaza dan wilayah Palestina yang lain.

Sikap AS yang menerapkan standar ganda terkait masalah-masalah global sangat ditentang Iran. Belajar dari sejarah dan meneguhkan pada prinsip-prinsip moral Iran mengambil sikap tegas Amerika. Tekanan-tekanan secara politik, dan embargo ekonomi tidak lantas membuat Teheran surut.

Sebaliknya langkah cerdas, penuh visi ke depan menjadi spirit kebangsaan di atas segala-galanya. Sejak revolusi Iran 1979 pemimpin negeri Mullah ini membangun pondasi kehidupan bernegara yang tanpa banyak bergantung pada negara lain. Mereka lebih paham Tri Sakti Bung Karno, mungkin lebih dari rakyat Indonesia yang selalu meneriakkan yel yel Merdeka, sebagai legacy penganut Soekarnois. Maaf?!!

Pemimpin Iran, sejak Ayatollah Rohullah Khomeini, yang kemudian diteruskan Ali Khamenei tidak pernah meneriakkan yel yel itu (baca Merdeka). Tetapi mereka paham dan meneguhkan sikap anti-imperialisme, anti-kolonialisme. Mereka tidak basa-basi menentang sikap Israel, karena arogan, fasis dan melakukan penjajahan atas Palestina.

Di tengah tekanan, isolasi dan provokasi Amerika bersama sekutu-sekutunya Iran gigih membangun ekonomi. Inilah yang dimaknai sebagai manifestasi agar berdikari secara ekonomi. Iran menggelontorkan anggaran riset 265% sejak Revolusi iran. Riset penting agar punya daya saing.

Pemimpin pemimpin Iran tidak banyak omon omon (alias omong doang), mereka menunjukkan keteladanan, sederhana dan satu lagi tidak korup. Ayatolah Rohullah Khomeini sebagai pemimpin tertinggi begitu dicintai, begitu disegani. Ketika beliau meninggal Iran berduka, rakyat Iran menangis 80 juta orang mengiringi, mengantar ke pemakaman, peristirahatan terakhirnya.

Apa yang terjadi ketika pengganti Ayatollah Rohullah Khomeini, yakni Ayatollah Ali Khamenei gugur karena kediamannya dibom Israel dan Amerika. Mereka (AS dan Israel) akan jadi momentum pergolakan karena perebutan kekuasan. Keliru, salah besar!! Ali Khamanei sosok pemimpin yang begitu dihormati, dicintai. Kematiannya menyulut emosi, amarah, mereka bersumpah akan melawan kezaliman Amerika sampai titik darah penghabisan.

Puluhan juga orang mengantarkan Ali Khamenei dimakamkan. Kalkulasi Amerika rezim lama pendukung Reza Pahlevi akan kembali hanya ilusi. Analisa tolol, analisa memalukan, bukan hanya salah tetapi dungu seperti keledai paling dungu sekalipun. Amit amit!!!

Melihat fenomena Iran kita perlu membuka mata, kita perlu belajar. Salah satu yang mendasar adalah kesadaran terus memupuk kemandirian, tidak mau bergantung pada bangsa lain menjadi kunci. Jangan salah juga Iran, negeri Mullah ini sekarang menempati peringat 53 dunia di bidang teknologi. Ekosistem teknologi dibangun bahkan Teheran menjadi Smartcity dengan knowledge-based technology.

Negara memberi fasilitas khusus, berupa diskon pajak untuk jangka waktu 15 tahun. Luar biasa. Iran menjadi surga teknologi dengan Silicon Valley yang memberi akses dengan segala insentif bagi warga negaranya. Tak kurang dari 370 perusahaan berbasis IT mendapat insentif khusus dari pemerintah. Artinya apa, itu bentuk komitmen, langkah nyata dari pemerintah mendorong berdikari secara ekonomi.

Berdikari butir kedua dari Tri Sakti Bung Karno yang dimaknakan ‘Berdiri Di Atas Kaki Sendiri’ bukan lagi sekadar jargon. Bukan anti-asing, karena Iran juga membangun kemitraan dengan Cina, Rusia dan juga Korea Utara. Meski diblokade dan diisolasi Teheran menjadi mitra primadona Beijing. 90,8% minyak Iran dipasok ke Cina.

Kekuatan Iran yang lain adalah jatidiri kukuh mewarisi nenek moyang Bangsa Persia. Artinya secara kultural yang menjadi pilar spiritual Iran telah memahatkan peradaban yang sangat kuat. Tak gentar digertak oleh kekuatan zalim, seperti Amerika, apalagi hanya Israel.

Kegagahan Iran tegak menghadapi serangan Israel berkomplot (disokong) Amerika bukan sekadar pembuktian, tetapi menjadi testemoni yang menjadi pelajaran, sekaligus membelalakkan mata dunia. Tidak ada kegentaran sejengkalpun menghadapi iblis, karena kalah dan menang adalah kristalisasi dari sebuah sikap, maju tak gentar membela kebenaran.

Pelajaran ini yang mestinya dipetik pemimpin-pemimpin kita. Presiden Prabowo perlu lebih jernih menimbang, menapis kembali sikap dan kebijakannya. Keteguhan atas konstitusi yang mukadimahnya tegas bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan adalah harga mati. Israel adalah penjajah tidak perlu, tidak ada gunanya main mata dengan Netanyahu.

Menlu Sugiono juga perlu belajar, ketika anda menjadi duta bangsa saat Indonesia memutuskan bergabung dengan BRICS. Organisasi ini sebagai emerging economies yang dimotori Brasil, Rusia, India, Cina dan Afrika Selatan lebih mengedepankan sikap egalitarian ketimbang supremasi kelompok negara yang tergabung dalam G7.

Masuknya Indonesia pada BRICS lebih memperluas akses karena BRICS memiliki bank sendiri bernama New Development Bank (NDB). Berbeda dengan IMF atau Bank Dunia yang sering memberikan syarat kebijakan yang ketat, NDB fokus pada pendanaan infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan di negara berkembang dengan skema yang dianggap lebih fleksibel bagi anggotanya.

Aspek strategis lain yang memberikan obligasi positif bagi Indonesia adalah memperkuat Posisi Tawar di Panggung Global. Sebagai “middle power“, bergabung dengan BRICS akan memperkuat suara Indonesia dalam menuntut tata kelola global yang lebih adil. Indonesia bisa menjadi jembatan antara kepentingan negara maju dan negara berkembang, memastikan agenda ekonomi tidak hanya didikte oleh segelintir negara Utara.

Sayang diplomasi Menlu Sugiono yang menjadi representasi wajah sikap politik Prabowo blunder terkait sikap politiknya menghadapi “Trump Reciprocal Trade Act’’. Indonesia harus berani mengambil sikap atas kebijakan yang timpang ini. Prabowo harus berani menolak tidak menjadi bagian dari orkestrasi Trump yang sedang bermanuver untuk keluar dari gempuran Cina.

Perang Teluk adalah bagian dari strategi Trump mengalihkan perhatian dunia atas apa yang sedang diperjuangkan mengahdapi perang dagang lawan Cina. Ada skenario Trump yang jelas terbaca melakukan sabotase terhadap Cina yang mendapat pasokan minyak dari Iran. Tapi kalkulasi itu keliru dan blunder, sekarang lubang kubur menghadang langkah Trump ke depan.

Blunder diplomasi Menlu Sugiono adalah ketidakjelaan menunaikan sikap politik Indonesia yang bebas aktif secara konkret. Bergabung dengan BoP (Board of Peace) sesungguhnya adalah jebakan batman bagi Indonia. Sebagai unjung tombak diplomasi yang notabene seorang Menlu Sugiono perlu melakukan koreksi ke depan.

Satu lagi yang harus ditegaskan dan ditegakkan adalah tidak ada standar ganda terkait Israel. Sikap Indonesia adalah hanya mengakui Palestina, tidak pada Zionis Israel. Mengapa Iran mengizinkan tanker Malaysia melintasi Selat Hormuz, tetapi tanker Indonesia sempat dilarang (belakangan akhirnya diizinkan). Pertanyaan itu adalah sekaligus jawaban atas kebijakan yang keliru dari Indonesa (baca Menlu Sugiono).

Pertanyaan berikut, mengapa Duta Besar Iran untuk Indonesia tidak menemui Prabowo, sebaliknya berkunjung dan bersilaturahmi ke Jusuf Kalla. Mengapa duta besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi tiba-tiba menemui Presiden RI ke-7 Joko Widodo di Solo? Pertanyaan-pertanyaan itu adalah sebuah ungkapan filosofis yang bermakna dalam.

Pak Prabowo, dengan segala hormat dan maaf, kira-kira sesanti kecil dari narasi catatan ini adalah, Anda tidak perlu takut dan ragu menunaikan apa yang sudah dengan luar biasa diartikulasikan dalam pidato-pidato Anda. Rakyat bersama anda untuk mewujudkan Indonesia yang makmur dan sejahtera. Tidak perlu takut pada Amerika, tidak perlu takut pada koruptor, belajar lah pada Iran. Tabik.

Jayanto Arus Adi adalah Wartawan Senior sekaligus Ahli Pers Dewan Pers. Ia merupakan Alumni Program Pendidikan Penyelenggara Negara Kepemimpinan (PPNK) Lemhanas RI Angkatan 227 Tahun 2025.

Sejak 2022, ia aktif bergabung di Taruna Merah Putih Pusat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal. Karena kepiawaiannya menulis, ia juga berkontribusi di Satu Pena, organisasi penulis yang dipimpin Denny JA. Selain itu, ia mengajar Jurnalistik di beberapa perguruan tinggi.

Jayanto saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Nasional MOJO (Mobile Jurnalis Indonesia). Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua JMSI Pusat (Jaringan Media Siber Indonesia), salah satu konstituen Dewan Pers. Sebagai jurnalis, ia juga aktif terlibat dalam Komite Publisher Rights.

Saat ini ia sedang menempuh program Doktoral (S3) di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto dengan bidang studi Pertanian, Konsentrasi Komunikasi Agribisnis dan Ketahanan Pangan.

Ia mendirikan dan memimpin Headlinnews, media online yang berbasis di Jawa Tengah dengan tagline “Dari Jawa Tengah untuk Indonesia”. Headlinnews didedikasikan sebagai oase informasi alternatif sekaligus menjadi lokomotif bagi penggerak civil society.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!