Menjadi Bijak dengan Filsafat

Fokky Fuad Wasitaatmadja
7 Min Read

Tuhan, Pengetahuan, dan Filsafat

Berfikir filsafat adalah sebuah jalan untuk mengungkap kebenaran secara logis, rasional dan berupaya menghindari segala hal yang bersifat tahayul.

Filsafat bukan semata hak eksklusif para filsuf tetapi juga siapapun yang ingin berfikir secara mendalam atau radikal.

Tujuan dari berfikir mendalam adalah mencapai sebuah wisdom, mengajak manusia menjadi lebih bijak atas segala hal yang terjadi.

Filsafat juga dinyatakan sebagai induk dari segenap pengetahuan, karena ia adalah cikal bakal pembentukan konsep berfikir manusia secara logis.

Tanpa filsafat, peradaban ilmu pengetahuan tak terbentuk, karena ia menantang manusia untuk terus berfikir secara kritis atas segenap fenomena.

Ia membentuk sebuah konsep manusia yang berfikir kritis tetapi sekaligus bijak dalam menghadapi semua problematika hidup. Bukan keangkuhan dan kesombongan yang hendak dihadirkan oleh filsafat.

Dalam konteks lain, berfikir filsafat acapkali juga dianggap sebagai metode menjauhi agama, karena filsafat acapkali dituduh menuhankan akal fikir dan menolak wahyu Tuhan dalam kitab suci.

Seakan bahwa filsafat adalah jalan kaum ateis dan agnostik dalam memahami gerak kehidupan manusia dan alam semesta.

Filsafat menjadi objek tertuduh dari banyaknya manusia yang meninggalkan Tuhan dan agama, sehingga ia mendapatkan stigma sesat dan menyesatkan.

Hal ini perlu diluruskan bahwaĀ berfilsafat sesungguhnya adalah dalam upaya mengungkap wahyu Tuhan yang bersifat abstrak (Mas’udi, 2013).

Filsafat acapkali dibenturkan dengan wahyu Tuhan oleh kaum teolog, bahwa kebebasan akal fikir menjerumuskan manusia ke dalam jurang kerusakan.

Dengan berfilsafat maka manusia digiring untuk menciptakan kosmik tanpa Tuhan. Bahkan menuhankan filsafat itu sendiri sebagai pengganti Tuhan.

Dengan berfikir maka Tuhan tidak akan bekerja, karena akal menjadi mesin pengganti atas pencarian kebenaran.

Filsafat dan agama tentunya memiliki titik tolak yang berbeda: filsafat bertolak dari akal fikir sedangkan agama bertolak dari wahyu (Sulaiman, 2010).

Filsafat dan agama (Islam) bukanlah hal yang bertolak belakang. Keduanya juga memiliki ruang diskursus atas manusia dan Tuhan.

Filsafat mengajak manusia untuk mencapai tahap manusia yang bijak juga menjadi capaian yang dituju oleh ajaran agama.

Filsafat juga menuntut untuk menggunakan kapasitas akalnya untuk mencapai kebenaran sebagaimana yang juga dituntut oleh Islam (Qs.59:2).

Filsafat dan agama memiliki sebuah kesamaan yaitu sama-sama mencari kebenaran. Filsafat membantu agama dalam menginterpretasikan teks kitab suci secara objektif (Zainuddin, 2013).

Tuhan menantang manusia untuk terus berfikir, memikirkan alam semesta tanpa henti (Qs.3:190-191).

Manusia mencoba untuk menyelami hakikat dirinya, alam semesta, dan rahasia Tuhan melalui metode berfikir secara mendalam.

Berfikir mendalam tidak hendak menunjukkan eksistensi keagungan dirinya dihadapan makhluk lainnya.

Lebih dari itu adalah bagaimana ia menjadi lebih bijak memperlakukan manusia lain dan juga alam, karena adanya perbedaan potensi berfikir manusia yang beragam.

Tuhan juga menjadi objek fikir dalam filsafat, bahwa manusia sejak lama berfikir akan adanya kekuatan adi kodrati sebagai pengendali atas ketertiban alam semesta.

Bahwa eksistensi Tuhan menjadi pertanyaan walau Tuhan dalam ontologi wujud acapkali tak teraba oleh indera manusia.

Rasionalitas akal bekerja mencoba untuk mendeteksi kehadiranNya. Bahwa Dia ada dalam ragam bentuk yang coba dimaknai oleh manusia.

Sosok Adi Kodrati pengendali ini coba diterjemahkan dalam ranah filsafat metafisika.

Filsafat: Dari Tuhan Hingga Manusia

Agama dan Filsafat keduanya memiliki jalannya sendiri untuk memahami eksistensi Tuhan. Agama melalui jalan pewahyuan, sedangkan filsafat memiliki jalan berupa rasionalitas akal untuk memahami Tuhan.

Filsafat membawa manusia pada sebuah pemahaman atas sesuatu berbasis gerak rasionalitas akal sehat.

Filsafat hadir sejak awal untuk melawan tahayul dan mitos yang mempengaruhi manusia dalam berfikir dan berbuat. Bagi Ibn Rusyd filsafat dan agama memiliki keterkaitan yang sangat erat (Fatimah, 2020).

Filsafat berupaya menjelaskan secara rasional dan bernalar atas apa yang dihadapi dan diamati oleh manusia.

Ia mengajak manusia berfikir secara mendalam atau radikal atas semua objek yang ditatap. Bahwa manusia tidak hanya diam atas apa yang ditatapnya, melainkan memperhatikan, merenung, memikirkan mulai tahap ontologi, epistemologi, hingga aksiologi atas hal tersebut.

Apa hakikat Tuhan dan mengapa manusia memerlukan Tuhan?. Bagaimanakah eksistensi Tuhan dan manusia?.

Apakah tujuan manusia hidup, dan masih banyak pertanyaan tentang Tuhan dan manusia yang membutuhkan jawaban yang rasional.

Disinilah tugas filsafat secara kritis memberikan jawaban secara argumentatif atas beragam pertanyaan manusia.

Problematik Tuhan dan manusia menjadi diskusi intensif sejak awal peradaban manusia. Kaum teolog dan para filsuf memberikan argumentasi atas makna hidup manusia.

Tetapi apakah filsafat sekedar berkutat pada diskusi atas eksistensi Tuhan semata?. Tuhan yang tak terjangkau tetap Tuhan dengan segenap kemahaanNya.

Apapun yang dihasilkan filsafat dalam berfikir tentang Tuhan tidak akan merubahNya sedikitpun. Maka filsafat juga mengalami proses dinamika dalam diskursus atas objek.

Filsafat tidak saja mencoba memahami eksistensi Tuhan, melainkan juga melangkah untuk memahami hakikat eksistensi manusia itu sendiri.

Filsafat harus secara progresif mampu memberikan jawaban atas kebutuhan hidup manusia baik ekonomi, sosial, budaya, hukum hingga politik.

Filsafat mulai mempertanyakan makna manusia dalam hubungannya dengan beragam objek yang ada. Filsafat juga menelaah tujuan sejati dari hidup yang bernilai dan bermakna.

Filsafat mempertanyakan mengapa perlu ada negara dan ketertiban manusia, apakah hukum hakikatnya dibutuhkan untuk melindungi manusia atau justru berfungsi sebagai penghukum manusia?.

Filsafat selalu dimulai dengan pertanyaan, dan diakhiri dengan pertanyaan pula. Maka filsafat tidak henti untuk mempertanyakan segenap hakikat atas objek yang ditatap manusia.

Secara dinamis manusia mengalami perkembangan khususnya dalam konsep berfikirnya. Manusia mencoba untuk terus memuaskan rasa keingintahuannya atas segala sesuatu.

Pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan yang merangsang akal fikir, membuka wawasan, membuka cakrawala dan sekaligus mencerdaskan. Pertanyaan itu bukanlah yang bertujuan melumpuhkan dan mematikan kecerdasan intelektual (Suseno, 1992: 27).

“Al Quran ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran” (Qs. Ibrahim [14]: 52).

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!