Pendidikan dan Bangunan Kesadaran
Sejak awal peradaban manusia kehendak mengetahui menjadi struktur tubuh yang tak dapat dihilangkan. Secara naluriah manusia terus berupaya mencari kebenaran.
Beragam pertanyaan muncul dalam benaknya, menggugah keinginannya untuk mengetahui jawaban apa yang benar atas ragam pertanyaan yang muncul.
Bagaimanakah asal mula alam semesta, apa hakikat manusia di tengah alam semesta, apakah alam semesta bergerak atas kehendaknya sendiri atau kehendak lainnya, apakah eksistensi manusia sebagai satu-satunya eksistensi utama yang hadir di alam semesta, dan masih banyak pertanyaan lainnya.
Pendidikan dihadirkan sebagai bentuk membangun sebuah kesadaran manusia. Pendidikan menjadi pijakan manusia menanamkan sebuah pengetahuan, yang dengannya tertanam kesadaran sebagai manusia.
Pengetahuan melalui pembelajaran ditanamkan untuk menghilangkan tahayul yang melanda cara berfikir manusia. Filsafat kemudian lahir sebagai reaksi atas dunia manusia yang penuh dengan tahayul.
Keyakinan dan dogma yang membatasi kebebasan akal manusia coba untuk dirobohkan melalui hadirnya filsafat. Pendidikan dalam sistem filsafat adalah moralitas manusia (Hasanah, 2022).
Filsafat secara historis menjadi induk dari ilmu pengetahuan, karena dari dialah lahir beragam pengetahuan baik pengetahuan atas kealaman, sosial, budaya, dan beragam cabang ilmu.
Semakin berkembang kehidupan peradaban manusia, semakin tajam manusia berfikir, semakain dalam ilmu berupaya menjawab segala bentuk keraguan yang ada, semakin banyak cabang ilmu pengetahuan tercipta.
Pengetahuan ditanamkan melalui sebuah metode pendidikan tertentu, dari yang bersifat tradisional, modern, hingga sistem digital dalam dunia post moderen saat ini. Kesemua metode pendidikan dihadirkan untuk membangun konsep-konsep pengetahuan dalam bentuk ilmu yang terstruktur dan logis.
Melalui metode yang logis manusia berupaya membangun sistem dan metodologi yang semakin tajam guna menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia yang semakin tajam. Manusia yang memiliki kehendak, tujuan, memahami eksistensi dirinya sebagai makhluk yang berkehendak dalam kendali rasionalitasnya (Munir, 2006).
Bagi manusia mengetahui dilekatkan dengan kesadaran, bahwa tidak cukup mengetahui tetapi juga harus mampu membangun kesadaran. Artificial intelligence atau akal imitasi (AI) mengetahui apapun yang ada berdasarkan pada basis data yang tersedia.
Akal imitasi tersebut mampu memberikan beragam jawaban yang dibutuhkan manusia, akan tetapi apakah ia memiliki sebuah kesadaran? Apakah ia menyadari bahwa dirinya adalah objek alat? Akankah ia kelak berpotensi membangun kesadaran atas eksistensi dirinya sendiri? Hingga saat ini manusialah yang dianggap sebagai subjek karena ia memiliki kesadaran.Â
Pendidikan & Industrialisasi
Sejak lahirnya Revolusi Industri di Eropa di Abad XVIII, proses pendidikan guna membangun kesadaran juga mengalami proses revolusi. Pendidikan yang pada awalnya membangun kesadaran atas eksistensi mulai bergerak pada kesadaran fabrikasi. Pendidikan dihadirkan tidak lagi memenuhi kehendak bebas manusia, tetapi justru memenuhi kehendak kapitalisme industri.
Pendidikan diarahkan pada sebuah supporting system dari mekanisasi industri besar. Pada keadaan ini kebebasan manusia dari belenggu tahayul yang dicanangkan oleh para filsuf di masa lalu mengalami keguncangan besar. Kebebasan kehendak melalui ilmu pengetahuan diubah pada sebuah konsep industrialisasi. Manusia tidak lagi bebas, karena sekolah dan perguruan tinggi dihadirkan sebagai bentuk dukungan atas kebutuhan industri.Â
Peradaban industri melahirkan ketidakbebasan manusia dalam berkehendak, karena kini manusia dibelenggu oleh dogma-dogma industri. Kehendak manusia untuk menghilangkan dahaga atas beragam pertanyaan diganti oleh sebuah mekanisme pendidikan yang mengarah pada kebutuhan industri.
Pendidikan menjadi sebuah fabrikasi yang mencetak manusia yang memenuhi kualifikasi sistem industri. Manusia tidak lagi sebagai subjek bebas yang berkehendak, tetapi menjadi objek yang dikehendaki oleh pasar kerja industri.
Manusia perlahan diubah menjadi objek industri dengan penggunaan diksi kata sumber daya manusia. Manusia adalah asset industri yang harus diberdayakan. Sejak munculnya dunia industri, subjek manusia dibentuk menjadi sumber yang diberdayakan dalam proses industrialisasi.Â
Konsep link and match digagas sebagai salah satu bentuk daya dukung lulusan pendidikan bagi kebutuhan industri melalui kebutuhan akan pasar tenaga kerja (Disas, 2018).
Pendidikan diarahkan pada pangsa pasar tenaga kerja di sektor industri (TIK PNN, 2026). Dalam keadaan ini pendidikan merubah sebuah konsep kesadaran manusia, bahwa pola dan gagasan berfikir manusia mengikuti sebuah kehendak di luar dirinya sendiri. Ia yang tidak lagi menentukan arah kebebasannya, melainkan ditentukan oleh kekuatan di luar dirinya yaitu dinamika industri.  Â
Dalam keadaan ini menjadi wajar jika sekolah hingga perguruan tinggi akan menyingkirkan segenap hal yang tidak sesuai dengan ide dan gagasan sektor industri. Industri menekankan keuntungan dengan metode efisiensi, segenap pengetahuan yang tidak sejalan dengan garis keuntungan dan efisiensi akan lenyap secara perlahan.
Kurikulum pendidikan juga harus diarahkan pada kebutuhan sektor industri yang menuntut para lulusannya mampu beradaptasi dalam dinamika dunia industri. Pendidikan pun harus merubah dirinya menjadi bagian dari mekanisme sistem industri.Â
Segenap cabang ilmu yang tidak mampu beradaptasi dengan dunia industri perlahan akan lenyap. Pembelajaran Filsafat, Sosiologi, Antropologi, dan sektor rumpun ilmu apapun yang tidak mampu beradaptasi dengan dunia industri akan lenyap secara perlahan. Untuk itu rumpun ilmu harus melakukan proses adaptasi atas hadirnya industrialisasi. Â
Penutup
Akal Imitasi (AI) sejatinya dihadirkan sebagai bentuk kesadaran industri. Jika manusia dapat digantikan oleh alat yang mampu berfikir mengapa harus mempekerjakannya?
Manusia yang menuntut upah kerja, asuransi, dan lainnya mengapa tidak diganti oleh alat yang mampu bekerja dengan tidak menuntut upah?
Ketika hal ini berlangsung terus, pada akhirnya bukan lagi kurikulum pendidikan yang akan terkoreksi. Eksistensi manusia sebagai subjek yang mampu membangun kesadaran dan kehendak juga akan tersingkir perlahan.

