Asap Karhutla Menjauh dari Jabodetabek, BMKG Catat 478 Titik Panas

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
5 Min Read

HEADLINNEWS.ID – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menjauh dari wilayah Jabodetabek setelah sempat terdeteksi memasuki atmosfer Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi pada Jumat, 16 Oktober 2026. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih mendeteksi sisa sebaran asap di pesisir barat Banten pada ketinggian 3-5,4 kilometer.

Sekretaris Utama BMKG Guswanto mengatakan pergerakan asap menjauh dari Jawa bagian barat terpantau melalui citra satelit pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Pemantauan pada pukul 08.00, 10.00, dan 13.00 WIB memperlihatkan sebaran asap bergerak menjauhi Jabodetabek.

Menurut Guswanto, perubahan arah dan melemahnya kecepatan angin pada lapisan atmosfer turut memengaruhi pergeseran asap. Ia menyebut keberadaan asap yang terdeteksi satelit tidak otomatis menandakan peningkatan polutan di permukaan.

Meski asap mulai menjauh, data kualitas udara Jakarta masih memperlihatkan kondisi yang bervariasi, dari kategori baik hingga tidak sehat. Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup mencatat angka 49 di Marunda, 60 di Tanah Abang, 103 di Kelapa Gading, 116 di Menteng, dan 120 di Kebun Jeruk.

Partikulat halus PM2.5 menjadi parameter kritis dalam pengukuran tersebut. Sementara itu, konsentrasi PM2.5 di Kemayoran, Jakarta, tercatat berkisar 46,7-109,7 mikrogram per meter kubik, yang berada pada rentang kategori sedang hingga tidak sehat.

Guswanto mengimbau masyarakat tetap waspada dan memantau perkembangan kualitas udara di lingkungan masing-masing. BMKG juga menyatakan masih memantau dinamika atmosfer untuk mengikuti pergerakan asap.

Di wilayah lain, sebaran asap karhutla masih terpantau di sebagian besar Sumatera dan Kalimantan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Kepulauan Maluku, serta sebagian besar Papua. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan asap di sejumlah wilayah tersebut bergerak ke arah barat laut hingga timur laut.

BMKG mencatat 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia selama 16 Oktober 2026, berdasarkan pemantauan pukul 00.00-23.59 WIB. Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 189 titik, disusul Jawa Timur dengan 89 titik dan Papua Selatan dengan 63 titik.

Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masing-masing mencatat 26 titik panas. Jumlah di Kalimantan Tengah turun dari 485 titik pada 15 Oktober menjadi 26 titik pada 16 Oktober 2026.

Andri mengatakan sejumlah wilayah, terutama Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan, masih mengalami kondisi relatif kering. BMKG memperkirakan kondisi tersebut berlanjut pada 17-24 Oktober 2026 seiring rendahnya potensi pertumbuhan awan hujan.

Sebaliknya, peluang pertumbuhan awan hujan lebih dari 70 persen masih terdapat di sejumlah wilayah, terutama Sumatera bagian utara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua. Kondisi tersebut mendukung potensi hujan ringan hingga sedang, sementara hujan lebat di sebagian wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Papua Pegunungan masih perlu diwaspadai.

BMKG menyebut pola angin di lapisan atmosfer 925-500 hPa secara umum didominasi angin dari timur hingga tenggara dengan kecepatan 5-34 knot. Arah dan kecepatan angin tersebut memengaruhi pergerakan serta penyebaran asap karhutla di berbagai wilayah Indonesia.

Pergerakan asap yang mulai menjauh dari Jabodetabek tidak berarti seluruh persoalan kualitas udara di Jakarta telah selesai. Data ISPU yang dicantumkan dalam sumber masih menunjukkan kategori tidak sehat di Kelapa Gading, Menteng, dan Kebun Jeruk, meskipun BMKG menyatakan asap karhutla yang terdeteksi di atmosfer tidak otomatis meningkatkan polutan di permukaan.

Dua indikator tersebut perlu dibaca secara terpisah. Pemantauan citra satelit menggambarkan pergerakan asap pada lapisan atmosfer, sedangkan ISPU dan pengukuran PM2.5 memberikan informasi mengenai kondisi kualitas udara di lokasi pengukuran. Data yang tersedia belum merinci seberapa besar kontribusi asap karhutla terhadap konsentrasi PM2.5 di setiap titik pemantauan Jakarta.

Sebanyak 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi yang tercatat pada 16 Oktober juga memperlihatkan bahwa pemantauan karhutla masih relevan di luar Jawa bagian barat. Kondisi relatif kering yang diperkirakan bertahan hingga 24 Oktober di sejumlah wilayah menambah alasan untuk terus memantau perkembangan titik panas, pergerakan asap, dan kualitas udara.

Editor: Michael Ivan
Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!