HEADLINNEWS.ID – Ris menerangkan bahwa sumber penyulutan api perlu dibedakan dari kondisi iklim yang membuat lahan rentan terbakar. Menurut dia, Indonesia yang beriklim tropis memiliki kelembapan tinggi sehingga kebakaran yang muncul secara alami relatif jarang terjadi.
Aktivitas manusia dapat memicu kebakaran melalui kelalaian, termasuk membuang puntung rokok sembarangan. Pembakaran tanaman yang awalnya dilakukan dengan sengaja juga dapat berkembang menjadi kebakaran ketika api tidak dikendalikan.
Dalam pengelolaan hutan, dikenal metode prescribed burning atau pembakaran terkendali. Metode ini memungkinkan penggunaan api dengan pengaturan dan pengawasan agar pembakaran tidak meluas di luar area yang ditentukan.
Ris juga menyoroti praktik pembukaan lahan atau land clearing yang dilakukan dengan cara membakar. Menurut dia, sebagian perusahaan memilih metode tersebut karena biayanya relatif murah, tetapi api yang tidak terkendali dapat memicu kebakaran.
Dalam pemberitaan di laman resminya pada 15 Oktober 2026, UGM juga menjelaskan bahwa karhutla dipengaruhi tiga unsur utama, yakni sumber api, bahan bakar berupa vegetasi atau material organik, serta kondisi iklim. Fenomena El Niño dapat meningkatkan risiko kebakaran melalui kondisi yang lebih kering.
Pernyataan Guru Besar UGM tersebut menyoroti peran aktivitas manusia dalam memicu karhutla, sementara kondisi iklim dan ketersediaan bahan bakar turut memengaruhi risiko serta perkembangan kebakaran. Karena itu, sumber penyulutan api dan kondisi lahan perlu dibedakan ketika menjelaskan penyebab karhutla.
Angka 99 persen perlu disertai rujukan penelitian yang jelas sebelum digunakan sebagai statistik umum. Materi video yang tersedia belum mencantumkan nama penelitian, metode, periode pengamatan, atau cakupan wilayah yang menjadi dasar angka tersebut.

