Pedagang Keberatan, Biaya Revitalisasi Pasar Serdang hingga Rp200 Juta

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
3 Min Read

HEADLINNEWS.ID – Jakarta, Pedagang Pasar Serdang, Kemayoran, Jakarta Pusat, keberatan dengan biaya revitalisasi yang disebut mencapai puluhan juta rupiah per meter persegi. Untuk lapak seluas 4 meter persegi, seorang pedagang memperkirakan biaya yang harus dibayar bisa mencapai sekitar Rp200 juta untuk masa 20 tahun.

Warsiti (65), pedagang sayuran yang telah puluhan tahun berjualan di Pasar Serdang, mengatakan informasi biaya tersebut diperoleh dari pihak pengelola pasar melalui perwakilan pedagang. Menurut dia, biaya yang disampaikan sekitar Rp40 juta per meter persegi, belum termasuk administrasi dan pajak.

β€œLapak saya aja 4 meter (persegi). Kalau satu meter Rp40 juta, dikali 4 kan Rp160 juta. Nah, itu belum administrasi, belum katanya pajak, kan minimal kurang lebih Rp200 juta untuk jangka 20 tahun. Nanti perpanjang lagi,” kata Warsiti saat ditemui Kompas.com di lokasi, Minggu (27/9/2026).

Warsiti mengatakan para pedagang tidak menolak rencana revitalisasi karena kondisi bangunan Pasar Serdang yang berdiri sejak 1976 memang membutuhkan perbaikan. Keberatan mereka, kata dia, terletak pada besarnya biaya yang dibebankan kepada pedagang.

β€œKalau mau direnovasi sih memang orang pedagang setuju. Cuman yang enggak setuju itu masalah harga. Harganya terlalu tinggi,” ujarnya.

Warsiti juga mengatakan kondisi pasar saat ini sepi pembeli. Ia menyebut penghasilannya harus digunakan untuk kebutuhan makan dan setoran, sementara biaya yang dibebankan untuk revitalisasi dinilai sulit dipenuhi.

Yudi (43), pedagang daging ayam, menyebut informasi biaya yang diterimanya sekitar Rp35 juta per meter persegi. Ia mengatakan pedagang keberatan apabila biaya perbaikan lapak harus ditanggung sendiri.

β€œPadahal setahu saya harusnya kan dananya pakai dana pemerintah DKI ya, tapi ini malah disuruh pakai dananya pedagang. Padahal pedagang uang dari mana segitu, dagangan aja seret,” kata Yudi.

Menurut Yudi, bangunan Pasar Serdang sudah tua dan belum pernah mendapat renovasi besar. Saat terjadi kerusakan seperti atap bocor atau listrik bermasalah, para pedagang disebut kerap patungan untuk memperbaikinya.

Yudi juga mengatakan harga modal daging ayam yang dijualnya kini sekitar Rp45.000 per ekor, naik dari sebelumnya sekitar Rp33.000 per ekor. Di tengah penurunan pembeli, ia memilih tetap berjualan dengan kondisi pasar yang ada daripada membayar biaya revitalisasi puluhan juta rupiah.

β€œPaling kalau emang tetep disuruh bayar, ya kita mendingan kayak gini aja udah, enggak apa-apa, apa adanya dinikmatin. Enggak usah direnovasi, enggak sanggup juga bayarnya,” ujar Yudi.

Kompas.com telah berupaya menghubungi Manajer Humas Perumda Pasar Jaya Topik Hidayatullah untuk meminta tanggapan atas keluhan para pedagang. Hingga berita ini ditayangkan, belum ada jawaban atau keterangan resmi yang diberikan.

Data sumber menunjukkan keberatan pedagang berpusat pada besarnya biaya revitalisasi yang disebut dibebankan kepada mereka, bukan pada rencana perbaikan bangunan Pasar Serdang. Namun, informasi mengenai mekanisme pembiayaan revitalisasi dan dasar penetapan tarif belum disertai keterangan resmi dari Perumda Pasar Jaya dalam data sumber.

Editor: Michael Ivan
Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!