HEADLINNEWS.ID – Jakarta, Pendapatan berjalan pemerintah Amerika Serikat mencapai US$9,12 triliun atau sekitar Rp160.512 triliun pada kuartal II-2026, tetapi masih lebih rendah dibandingkan pengeluarannya yang mencapai US$11,16 triliun.
Data Bureau of Economic Analysis menunjukkan selisih antara penerimaan dan pengeluaran pemerintah AS pada periode tersebut mencapai sekitar US$2,04 triliun. Penerimaan itu meningkat 6,7 persen dibandingkan kuartal II-2025 yang tercatat US$8,55 triliun.
Sumber penerimaan terbesar pemerintah AS berasal dari pajak penghasilan individu. Pos ini menyumbang US$3,26 triliun atau 35,8 persen dari seluruh pendapatan pemerintah pada kuartal II-2026.
Pajak penghasilan individu mencakup pembayaran pajak atas pendapatan masyarakat, termasuk keuntungan modal yang telah direalisasikan, setelah dikurangi pengembalian pajak. Penerimaannya tumbuh sekitar 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sumber terbesar kedua berasal dari pajak atas produksi dan impor dengan penerimaan US$2,37 triliun atau sekitar 26 persen dari total pendapatan. Nilainya meningkat 7,7 persen secara tahunan.
Pos tersebut mencakup berbagai pungutan yang berkaitan dengan produksi, penjualan barang dan jasa, serta barang yang masuk dari luar negeri.
Kontribusi jaminan sosial menjadi sumber penerimaan terbesar berikutnya dengan nilai US$2,11 triliun atau sekitar 23,1 persen dari total pendapatan pemerintah. Penerimaan ini meningkat 4,7 persen dibandingkan kuartal II-2025.
Jika pajak penghasilan individu dan kontribusi jaminan sosial digabungkan, keduanya menyumbang hampir 59 persen dari seluruh pendapatan pemerintah AS.
Sementara itu, pajak penghasilan perusahaan menyumbang sekitar 9,7 persen atau US$886,7 miliar. Meski porsinya lebih kecil, penerimaan dari pos ini tumbuh 35,9 persen secara tahunan dan naik sekitar US$234 miliar.
Pemerintah AS juga memperoleh pendapatan dari aset yang dimilikinya, termasuk bunga, sewa, royalti, dan dividen. Nilainya mencapai US$240,7 miliar pada kuartal II-2026, naik 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, pemerintah menerima transfer sebesar US$273,3 miliar dari pelaku usaha, masyarakat, dan pihak dari luar AS. Nilai tersebut turun 2,3 persen dibandingkan kuartal II-2025.
Pendapatan pemerintah AS pada kuartal II-2026 juga meningkat sekitar 2 persen dibandingkan kuartal I-2026 yang mencapai US$8,94 triliun. Namun, penerimaan tetap berada di bawah pengeluaran pemerintah pada periode yang sama.
Kondisi tersebut berlangsung ketika utang pemerintah AS telah menembus US$40 triliun atau sekitar Rp704.000 triliun pada Agustus 2026. Pada saat yang sama, defisit anggaran AS diproyeksikan mendekati 6 persen dari produk domestik bruto.
Presiden Donald Trump juga menjanjikan “dividen Trump” sebesar US$5.000 atau sekitar Rp88 juta kepada setiap warga dewasa jika Partai Republik mempertahankan kendali Kongres dalam pemilu sela November 2026.
Program tersebut diperkirakan membutuhkan dana sekitar US$1,35 triliun, sementara sumber pendanaan dan mekanisme pelaksanaannya belum dijelaskan dalam data sumber.
Data BEA menggunakan metode seasonally adjusted annual rates atau SAAR, yakni laju tahunan yang telah disesuaikan dengan faktor musiman. Angka kuartalan tersebut menggambarkan perkiraan penerimaan selama setahun apabila laju pada kuartal tersebut berlanjut.
Nilai yang digunakan juga merupakan current dollars atau harga berlaku sehingga masih dipengaruhi perubahan harga dan belum disesuaikan dengan inflasi.
Data kuartal II-2026 memperlihatkan struktur penerimaan pemerintah AS masih bertumpu pada pajak penghasilan individu, pajak produksi dan impor, serta kontribusi jaminan sosial yang secara gabungan mencapai hampir 85 persen dari seluruh pendapatan.
Di sisi lain, penerimaan US$9,12 triliun masih berada di bawah pengeluaran US$11,16 triliun. Selisih sekitar US$2,04 triliun tersebut menjadi konteks utama ketika utang pemerintah AS telah mencapai US$40 triliun dan muncul janji program “dividen Trump” yang diperkirakan membutuhkan US$1,35 triliun.

