HEADLINNEWS.ID – Bandung, Danpusterad Letjen TNI Mochamad Syafei Kasno menyebut ancaman terhadap negara kini tidak hanya berbentuk militer, tetapi juga muncul melalui ruang digital, ideologi, ekonomi, sosial, dan budaya.
Pernyataan itu disampaikan Syafei dalam Forum Kebangsaan bertema Kesadaran Bela Negara Merupakan Pondasi Dasar Menuju Indonesia Emas di Aula Muhammad Toda Kodiklatad, Bandung, Kamis (13/8/2026). Forum tersebut diikuti 526 peserta dari unsur tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, LSM, mahasiswa, dan pelajar.
Syafei mengatakan kondisi tersebut membuat kesadaran bela negara tidak hanya berkaitan dengan tugas militer. Menurut dia, bela negara merupakan hak dan kewajiban seluruh warga negara.
“Bela negara bukan hanya tugas TNI, tetapi hak dan kewajiban seluruh warga negara,” kata Syafei.
Dia juga menyinggung pecahnya Yugoslavia pada awal 1990-an sebagai pelajaran sejarah. Menurut Syafei, krisis politik, ekonomi, konflik etnis, serta melemahnya figur pemersatu dapat memicu disintegrasi dan kehancuran sebuah negara.
Syafei menyebut tantangan terhadap generasi muda juga mencakup pemahaman nasionalisme yang masih simbolik, kesadaran bela negara yang belum merata, meningkatnya individualisme, menurunnya literasi sejarah, serta pengaruh ideologi transnasional melalui ruang digital.
“Generasi muda adalah penentu masa depan Indonesia. Kesadaran bela negara bukan hanya tentang senjata dan seragam, tetapi tentang karakter, integritas, kepedulian, dan pengabdian kepada bangsa,” ujarnya.
Dalam forum itu, Syafei menyebut keberagaman Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, bahasa, agama, dan warisan budaya sebagai kekuatan yang perlu dirawat dengan nasionalisme dan persatuan.
Bagi TNI Angkatan Darat, upaya tersebut diperkuat melalui Pembinaan Teritorial dan Kemanunggalan TNI dengan Rakyat. Syafei juga menyebut integritas, etika digital, kreativitas, kepedulian sosial, gotong royong, dan kebanggaan terhadap identitas bangsa sebagai bagian dari penerapan bela negara dalam kehidupan sehari-hari.
Data dalam forum tersebut menempatkan ancaman nonmiliter, terutama yang berkaitan dengan ruang digital, sebagai salah satu persoalan yang dibahas dalam konteks bela negara. Forum juga mencatat persoalan generasi muda yang berkaitan dengan nasionalisme, literasi sejarah, individualisme, dan pengaruh ideologi transnasional.

