Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5

Mahfudin Masjaka, Aktivis yang Bertahun-tahun Mengawal Persoalan Sungai di Brebes

Dedi Agustian
9 Min Read

HEADLINNEWS.IDBrebes – Kabar duka datang dari Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Selasa, 4 Agustus 2026. H. Mahfudin Masjaka, aktivis yang bertahun-tahun mengawal persoalan sungai dan lingkungan di Brebes, meninggal dunia di RS Dedy Jaya sekitar pukul 11.00 WIB.

Kabar wafatnya Mahfudin pertama kali beredar di kalangan aktivis lingkungan dan kemudian dikonfirmasi pihak keluarga. Sebelum meninggal, Mahfudin sempat menghadiri sebuah kegiatan di Grand Dian Hotel Brebes. Kondisinya kemudian membutuhkan penanganan darurat sehingga ia dibawa ke rumah sakit.

Pesan permohonan doa sempat beredar di sejumlah grup WhatsApp.

“Mohon do’anya semoga aktivis senior H. Mahfudin (Masjaka) tidak terjadi yang tidak diinginkan. Barusan dibawa ke RS untuk penanganan darurat saat dalam acara di Grand Dian Hotel Brebes.”

Mahfudin kemudian meninggal dunia.

Kepergiannya menutup perjalanan panjang seorang aktivis yang selama bertahun-tahun menjadikan persoalan sungai sebagai bagian dari kerja sosialnya. Namanya dikenal melalui Masyarakat Jaga Kali (Masjaka), komunitas yang bergerak dalam kegiatan lingkungan dan pengawalan persoalan sungai di Kabupaten Brebes.

Mahfudin tidak hanya terlibat dalam kegiatan bersih sungai. Ia ikut membawa persoalan yang ditemukan di lapangan ke pemerintah daerah dan Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung (BBWS Cimancis).

Sungai, bagi Mahfudin, bukan sekadar aliran air. Di dalamnya terdapat persoalan banjir, sedimentasi, pendangkalan, sampah, drainase, hingga kehidupan masyarakat yang tinggal dan bekerja di sekitarnya.

Dari sungai ke ruang advokasi

Cara Mahfudin bekerja banyak berlangsung di lapangan.

Ketika warga menyampaikan persoalan, ia datang melihat kondisi sungai. Ia mengikuti kegiatan pembersihan, berdialog dengan masyarakat, kemudian membawa persoalan tersebut kepada pemerintah atau instansi yang memiliki kewenangan.

Dalam sejumlah kesempatan, ia berkomunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Brebes dan BBWS Cimancis.

Posisinya berada di luar struktur pemerintahan. Namun, aktivitasnya membuat Mahfudin kerap menjadi bagian dari pertemuan antara masyarakat dengan pemerintah.

Ketika warga mengeluhkan kondisi sungai, ia tidak berhenti pada penyampaian keluhan. Persoalan itu dibawa ke forum komunikasi, audiensi, kegiatan lapangan, atau disampaikan langsung kepada instansi teknis.

Pola tersebut terlihat dalam pengawalan sejumlah sungai di Brebes.

Sungai Babakan menjadi perhatian

Salah satu sungai yang cukup lama mendapat perhatian Mahfudin adalah Sungai Babakan di Kecamatan Ketanggungan.

Sungai tersebut menghadapi persoalan sedimentasi, pendangkalan, sampah, dan kapasitas aliran. Kondisi tersebut menjadi perhatian masyarakat karena berkaitan dengan banjir yang berulang di kawasan sekitar aliran sungai.

Bersama Masjaka, Mahfudin ikut menyuarakan kebutuhan normalisasi Kali Babakan.

Pada November 2022, ia terlibat dalam kegiatan bersih dan normalisasi Sungai Babakan bersama masyarakat dan berbagai unsur lainnya. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga aliran sungai sekaligus membangun kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.

Perhatian terhadap Babakan berlanjut hingga 2026.

Pada Maret 2026, Mahfudin kembali berada bersama masyarakat yang mendesak penanganan Kali Babakan. Aspirasi tersebut kemudian dibahas dengan pihak terkait dan berlanjut pada penanganan sungai.

Persoalan Babakan bagi Mahfudin tidak hanya menyangkut kondisi sungai ketika banjir datang. Kondisi badan sungai sebelum musim hujan juga menjadi perhatian.

Pendangkalan, sedimentasi, sampah, dan hambatan aliran dianggap perlu ditangani agar kapasitas sungai tetap terjaga.

Tidak berhenti di Babakan

Aktivitas Mahfudin kemudian meluas ke sungai-sungai lain.

Ia terlibat dalam kegiatan pembersihan Sungai Cigenjik di wilayah Kelurahan Brebes. Sampah, eceng gondok, endapan lumpur, dan material yang menghambat aliran menjadi bagian dari persoalan yang dibersihkan bersama masyarakat.

Kegiatan tersebut menunjukkan pola gerakan yang selama ini dijalankan Mahfudin. Masyarakat turun ke sungai, kondisi lapangan diperiksa, kemudian persoalan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut disampaikan kepada pemerintah.

Pada Desember 2025, Mahfudin juga terlibat dalam kegiatan pembersihan Kali Sigeleng.

Kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah daerah, masyarakat, pelajar, kelompok masyarakat, dan komunitas peduli sungai. Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma turut turun dalam kegiatan tersebut.

Mahfudin hadir sebagai Ketua KPS Masjaka Brebes.

Dalam kegiatan itu, ia menyampaikan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga sungai. Ia juga mengingatkan agar kebiasaan membuang sampah ke sungai dan saluran air dikurangi.

Pembersihan sungai, bagi Mahfudin, bukan pekerjaan yang berdiri sendiri. Setelah sampah diangkat, persoalan sedimentasi dan kondisi badan sungai tetap membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Mendampingi masyarakat

Perhatian Mahfudin terhadap sungai juga berkaitan dengan masyarakat yang kehidupannya bergantung pada kawasan perairan.

Ia pernah mendampingi nelayan Desa Kluwut menyampaikan persoalan pendangkalan sungai kepada BBWS Cimancis.

Bagi masyarakat pesisir dan nelayan, perubahan kondisi sungai dapat berpengaruh terhadap aktivitas sehari-hari. Karena itu, pendangkalan bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan kepentingan masyarakat.

Dalam situasi seperti itu, Mahfudin mengambil peran sebagai pendamping dan penyampai aspirasi.

Ia ikut membawa persoalan warga kepada instansi yang memiliki kewenangan, kemudian mengikuti perkembangan penanganannya.

Pola serupa terlihat dalam sejumlah persoalan lingkungan lain yang dikawalnya.

Aktivis yang berkomunikasi dengan pemerintah

Perjalanan Mahfudin sebagai aktivis tidak selalu berada dalam posisi berhadapan dengan pemerintah.

Ia beberapa kali duduk bersama pemerintah daerah dan instansi teknis untuk membicarakan persoalan lingkungan.

Dalam sejumlah kegiatan, Mahfudin dan komunitasnya berada bersama pemerintah daerah. Dalam kegiatan lain, ia menyampaikan aspirasi warga ketika menemukan persoalan yang dinilai membutuhkan perhatian.

Dua pendekatan tersebut berjalan bersamaan.

Di satu sisi, Mahfudin tetap berada bersama masyarakat. Di sisi lain, ia membuka komunikasi dengan pihak yang memiliki kewenangan.

Karena itu, perjalanan aktivismenya tidak hanya terlihat dari aksi atau kegiatan bersih sungai. Ada pula rangkaian pertemuan, pendampingan warga, komunikasi dengan pejabat, dan pengawalan persoalan kepada instansi teknis.

Masjaka dan gerakan masyarakat

Nama Mahfudin sulit dipisahkan dari Masjaka.

Melalui komunitas tersebut, kegiatan peduli sungai melibatkan berbagai unsur masyarakat. Warga, relawan, pelajar, komunitas, hingga pemerintah daerah pernah berada dalam kegiatan yang sama.

Masjaka menjadi ruang bagi Mahfudin untuk mengajak masyarakat melihat sungai bukan hanya sebagai saluran air, tetapi sebagai bagian dari lingkungan yang harus dijaga.

Kegiatan membersihkan sungai menjadi bentuk gerakan yang paling terlihat. Namun, di belakangnya terdapat persoalan yang lebih panjang: kebiasaan membuang sampah, sedimentasi, pendangkalan, pemeliharaan sungai, dan pengendalian banjir.

Mahfudin membawa persoalan-persoalan tersebut dari lapangan ke ruang publik.

“Mahfudin wong paling apik (Mahfudin orang paling baik).”

Kalimat itu menjadi kesaksian tentang Mahfudin di luar aktivitasnya sebagai penggiat lingkungan.

Di ruang publik, ia dikenal melalui Masjaka dan berbagai persoalan sungai yang dikawalnya. Bagi orang-orang yang berinteraksi dengannya secara langsung, ingatan tentang dirinya juga terbentuk dari pertemanan dan percakapan sehari-hari.

Sungai yang belum selesai

Mahfudin meninggal ketika sejumlah persoalan yang pernah ia kawal masih menjadi pekerjaan pemerintah dan masyarakat.

Sungai Babakan masih membutuhkan pemeliharaan. Cigenjik dan Sigeleng juga demikian. Persoalan sampah, sedimentasi, pendangkalan, drainase, dan banjir tidak selesai hanya dengan satu kegiatan.

Penanganan sungai membutuhkan kerja berkelanjutan. Pemerintah memiliki kewenangan dalam penanganan teknis, sedangkan masyarakat berperan menjaga lingkungan di sekitarnya.

Selama bertahun-tahun, Mahfudin mengambil bagian di antara keduanya.

Ia turun ke sungai, bertemu warga, mengikuti kerja bakti, mendampingi masyarakat, lalu membawa persoalan tersebut kepada pemerintah dan instansi teknis.

Ia tidak menyelesaikan seluruh persoalan sungai. Namun, ia ikut memastikan persoalan itu tetap terdengar dan dibicarakan.

Kini, pekerjaan tersebut berlanjut tanpa dirinya.

Mahfudin meninggalkan jejak, sungai masih mengalir

Mahfudin telah berpulang. Namun, sejumlah persoalan yang selama bertahun-tahun ia kawal belum ikut selesai.

Sungai Babakan masih membutuhkan perhatian. Sungai Cigenjik dan Kali Sigeleng masih harus dijaga. Persoalan sampah, sedimentasi, pendangkalan, drainase, serta risiko banjir tetap menjadi pekerjaan pemerintah bersama masyarakat.

Selama bertahun-tahun, Mahfudin berada di tengah persoalan itu. Ia turun ke sungai, bertemu warga, mengikuti kegiatan pembersihan, mendampingi masyarakat, kemudian membawa persoalan yang ditemukan di lapangan kepada pemerintah dan instansi teknis.

Ia tidak meninggalkan sebuah persoalan yang sudah selesai. Ia meninggalkan jejak kerja dan komunitas yang masih memiliki pekerjaan yang sama.

Mahfudin mungkin tidak lagi turun ke sungai, berdialog dengan warga, atau menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Tetapi sungai-sungai yang pernah ia kawal masih ada di sana.

Sungai masih mengalir.

Di sepanjang alirannya, ada persoalan yang harus diselesaikan dan kepedulian yang perlu diteruskan.

Dari sungai-sungai itulah perjalanan Mahfudin sebagai aktivis lingkungan di Brebes akan terus dikenang.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Editor: HL-News
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!