HEADLINNEWS.ID – Komisi E DPRD Jawa Tengah menilai Balai Latihan Kerja Pertanian (BLKP) Klampok di Kabupaten Banjarnegara perlu terus beradaptasi dengan perkembangan industri agar mampu mencetak tenaga kerja yang memiliki daya saing.
Ketua Komisi E DPRD Jawa Tengah, Messy Widiastuti, mengatakan pembaruan materi pelatihan menjadi hal penting mengingat sektor pertanian kini berkembang dengan dukungan teknologi dan kebutuhan pasar yang semakin dinamis.
“Pelatihan yang diberikan harus relevan dengan kebutuhan dunia kerja sehingga peserta tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga siap terserap di industri maupun membuka usaha secara mandiri,” ujarnya saat kunjungan kerja ke BLKP Klampok.
Menurutnya, evaluasi terhadap balai pelatihan tidak hanya menyangkut penyelenggaraan pendidikan vokasi, tetapi juga kesiapan fasilitas, kualitas kurikulum, hingga efektivitas penyaluran lulusan ke dunia kerja.
Ia menilai masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian, seperti keterbatasan sarana praktik, penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri, serta masih rendahnya minat generasi muda untuk menekuni sektor pertanian.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan Komisi E DPRD Jawa Tengah meninjau sejumlah fasilitas pelatihan, di antaranya unit pengolahan hasil pertanian dan budidaya hidroponik yang menjadi bagian dari program vokasi BLKP Klampok.
Sementara itu, Kepala BLKP Klampok, Asih Suciati, menyampaikan balai pelatihan masih menghadapi keterbatasan fasilitas serta kekurangan tenaga teknis. Meski demikian, berbagai program pelatihan tetap berjalan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan kompetensi masyarakat.
Hingga Juli 2026, BLKP Klampok telah melatih 260 peserta melalui berbagai program, antara lain pengolahan hasil pertanian, budidaya hidroponik melon, jamur tiram, peternakan ayam KUB, ayam joper, budidaya domba, hingga pelatihan menjahit dan membatik.
Untuk mendukung operasionalnya, BLKP Klampok memperoleh dukungan anggaran sebesar Rp2 miliar dari APBD Jawa Tengah dan Rp213 juta dari APBN. DPRD berharap dukungan tersebut mampu meningkatkan kualitas pelatihan sehingga lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri sekaligus mampu mendorong tumbuhnya wirausaha baru di sektor pertanian.

