HEADLINNEWS.ID – Temanggung, Bupati Agus Setyawan mengikuti kirab dan kendurian agung dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-102 tahun Desa Tuksari, Kecamatan Kledung, Sabtu (25/7/2026).
Dalam kesempatan itu, Bupati Agus menyinggung pesan Presiden Soekarno agar generasi muda tidak melupakan sejarah alias Jas Merah.
Pesan itu, ia sampaikan usai sesepuh, sekaligus mantan Kepala Desa Tuksari, Sudarto, membacakan riwayat sejarah berdirinya desa yang terletak di dataran tinggi kaki Gunung Sindoro ini.
Bermula dari penggabungan Dusun Sangkon, Domangan, Bugel, Mertan, dan Ngadigunung, nama Tuksari ternyata disematkan oleh Bupati Temanggung ke-6 Raden Mas Adipati Ario Tjokrosoetomo pada masa pemerintahan kolonial Belanda, tepatnya tahun 1924.
“Saya kira jarang sekali desa-desa di Temanggung yang memiliki arsip sejarah sedetail Tuksari. Maka, bagi generasi muda jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Jadikan momentum peringatan 102 tahun ini untuk selalu mewarisi semua kebaikan para leluhur, baik itu dalam wujud melestarikan budaya, keharmonisan warga, dan tekad bersama untuk selalu merawat semua sumber mata air sesuai makna sejarah nama Tuksari,” pesan Bupati Agus
Sementara itu, Kepala Desa Tuksari, Sukirno, menjelaskan makna dari arti Tuksari ialah sumber air dari kebeningan sari tanaman yang berguna untuk kehidupan dan kemakmuran warga desa.
Sedangkan tanaman tembakau merupakan komoditas utama menggerakan ekonomi warga. Ia pun angkat bicara mengenai rancangan aturan turunan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 yang salah satunya menyangkut pembatasan ketat kadar tar dan nikotin.
“Hampir 90 persen mayoritas mata pencaharian warga Tuksari itu petani tembakau. Harapannya, PP Nomor 28 Tahun 2024 tidak disahkan. Kalau disahkan, saya yakin petani tembakau kiamat,” tandas Sukirno.
Adapun rangkaian kirab yang menempatkan daun tembakau pada pucuk gunungan raksasa berisi hasil bumi itu berlangsung meriah. Dipimpin barisan drum band dari prajurit bregada, ratusan warga bersama Bupati yang akrab disapa Agus Gondrong itu berjalan kaki dari balai desa menuju lapangan setempat.
Mereka berdoa, serta menikmati hidangan bersama-sama sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bumi melimpah. (Adt;Istw;Ekp)

