HEADLINNEWS.ID – SALATIGA, Rapat Paripurna Istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Salatiga dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-1276 berlangsung secara terbuka di Lapangan Alun-Alun Pancasila, Jumat (24/7). Kegiatan ini menjadi bagian awal rangkaian perayaan, dengan mengusung semangat “Melangit dalam Karya, Membumi dalam Budaya”.

Rapat dihadiri perwakilan Gubernur Jawa Tengah yaitu Kepala Biro Otonomi Daerah Setda Provinsi Jateng, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Salatiga, Bupati Semarang, anggota DPRD Provinsi Jateng, unsur Forkopimda, jajaran anggota DPRD Kota Salatiga, mantan kepala daerah serta pimpinan DPRD periode sebelumnya, perwakilan Raja Adat Nusantara dari Masyarakat Adat Nusantara (MATRA), peserta Festival Adat Budaya Nusantara (FABN) VII, kepala Organisasi Perangkat Daerah, camat, lurah, ketua RW, instansi vertikal, serta tamu undangan lainnya.
Dalam pembukaan rapat, Ketua DPRD Kota Salatiga Dance Ishak Palit menyebut kota ini sebagai miniatur Indonesia, tempat beragam suku, agama, dan latar belakang hidup berdampingan secara harmonis. “Kehadiran perwakilan adat se-Nusantara semakin memperkuat karakter keberagaman yang sudah lama melekat pada Salatiga,” ujarnya.
Wali Kota Salatiga Robby Hernawan menyampaikan apresiasi atas sinergi antara lembaga legislatif dan eksekutif yang telah mendukung berbagai capaian pembangunan daerah. Ia juga menyoroti tantangan ke depan yang membutuhkan kolaborasi lebih erat, seiring harapan masyarakat dan dinamika perkembangan yang terus berubah. “Melalui momen ini, kami berharap Salatiga tetap menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi semua orang, selaras dengan tema utama perayaan tahun ini: ‘Beragam Nyaman, Salatiga Toleran’,” katanya.

Setelah rapat paripurna selesai, rangkaian acara dilanjutkan dengan pembukaan FABN VII, Kenduri Rakyat, serta lomba fotografi yang diikuti ratusan peserta dari dalam dan luar daerah.
DPRD Kota Salatiga menyiapkan sekitar 7.000 porsi makanan dari produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta gunungan hasil bumi yang dibagikan secara gratis kepada warga. Langkah ini sekaligus menjadi upaya dukungan terhadap pelaku ekonomi lokal.
Bagi warga, peringatan Hari Jadi kali ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan kesempatan untuk berkumpul, mengenal kekayaan budaya, serta merasakan manfaat langsung dari kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Semangat gotong royong dan toleransi yang ditampilkan diharapkan dapat terus memperkuat posisi Salatiga sebagai kota yang inklusif dan berbudaya.

