HEADLINNEWS.ID – Akses ke domain r2.dev milik Cloudflare dilaporkan tidak dapat digunakan dari sejumlah penyedia layanan internet (ISP) di Indonesia. Kondisi tersebut memicu keluhan dari komunitas pengembang aplikasi dan website karena berbagai aset digital yang di-hosting melalui layanan tersebut gagal dimuat.
Keluhan mulai ramai disampaikan di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah developer melaporkan file gambar, CSS, JavaScript, hingga dokumen statis yang disimpan di Cloudflare R2 tidak dapat diakses melalui domain r2.dev, sehingga menyebabkan tampilan dan fungsi sejumlah website maupun aplikasi mengalami gangguan.
Cloudflare R2 merupakan layanan object storage yang digunakan untuk menyimpan berbagai aset digital aplikasi dan website. Melalui domain r2.dev, pengguna dapat mengakses file yang disimpan tanpa harus membangun infrastruktur penyimpanan sendiri.
Beberapa pengembang menyatakan gangguan tersebut berdampak langsung terhadap layanan produksi yang telah berjalan. Sejumlah aplikasi mengalami kegagalan memuat komponen antarmuka karena browser tidak dapat mengambil file yang tersimpan pada domain tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan pada Selasa, 30 Juni 2026 pukul 00.00 WIB, belum terdapat pernyataan resmi dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang secara khusus menjelaskan alasan pemblokiran r2.dev, dasar hukum kebijakan tersebut, maupun apakah pembatasan akses bersifat sementara atau permanen.
Pemerintah sebelumnya memang terus melakukan pemutusan akses terhadap berbagai situs dan infrastruktur digital yang digunakan untuk aktivitas perjudian daring. Namun sampai saat ini belum terdapat keterangan resmi yang menyatakan bahwa r2.dev diblokir sebagai bagian dari kebijakan tersebut ataupun menjelaskan keterkaitannya dengan penegakan hukum tertentu.
Di kalangan komunitas teknologi, muncul kekhawatiran bahwa pemblokiran terhadap shared domain berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap layanan digital yang tidak memiliki hubungan dengan aktivitas ilegal. Infrastruktur seperti Cloudflare R2 digunakan oleh banyak organisasi, perusahaan rintisan, institusi pendidikan, hingga pengembang independen untuk mendistribusikan file aplikasi mereka.
Sejumlah praktisi keamanan siber juga menilai pendekatan pemblokiran pada domain bersama memerlukan kajian teknis yang matang agar tidak mengganggu layanan digital yang sah. Mereka berharap mekanisme penindakan terhadap konten ilegal dapat dilakukan secara lebih presisi sehingga tidak menimbulkan dampak terhadap pengguna lain yang menggunakan infrastruktur yang sama.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis, Cloudflare juga belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai dugaan pemblokiran akses r2.dev di Indonesia maupun langkah yang akan ditempuh apabila pembatasan tersebut terus berlangsung.
Komunitas developer berharap Komdigi segera memberikan penjelasan terbuka mengenai status akses r2.dev, dasar kebijakan yang diterapkan, serta mekanisme pemulihan apabila ditemukan layanan legal yang ikut terdampak.
Belum adanya penjelasan resmi dari Komdigi membuat penyebab pemblokiran r2.dev masih belum dapat dipastikan. Dalam ekosistem komputasi awan, satu domain dapat melayani ribuan hingga jutaan pengguna yang berbeda sehingga kebijakan pemblokiran terhadap domain bersama berpotensi memengaruhi layanan digital yang tidak melakukan pelanggaran. Karena itu, transparansi mengenai dasar hukum, ruang lingkup kebijakan, serta mekanisme evaluasi menjadi faktor penting agar upaya penegakan hukum tetap berjalan tanpa mengganggu operasional layanan digital yang sah.

