Kabut Asap Kiriman Selimuti Kepri, Jarak Pandang Batam Turun Jadi 1,9 Km

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
4 Min Read
Gambar : Ilustrasi

HEADLINNEWS.ID – Kabut asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera masih menyelimuti Kepulauan Riau (Kepri), dengan jarak pandang di Bandara Hang Nadim Batam tercatat 1.900 meter. BMKG Hang Nadim Batam juga mencatat konsentrasi PM2.5 mencapai 190,1 mikrogram per meter kubik dalam pembaruan pukul 08.00 WIB, yang masuk kategori sangat tidak sehat.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Hang Nadim Batam, Suratman, menjelaskan asap terbawa angin dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 3–15 kilometer per jam. Pergerakan asap mengarah ke barat laut hingga timur laut, sehingga wilayah Kepri terdampak sebarannya.

Jarak pandang di Bandara Hang Nadim sempat turun hingga sekitar 1.400 meter pada 14 Oktober 2026, ketika asap mencapai tingkat kepekatan yang tinggi. Secara umum, jarak pandang mendatar di wilayah Kepri saat ini berkisar 2.000–4.000 meter, sedangkan laporan warga menyebut jarak pandang di sejumlah ruas jalan utama Batam hanya sekitar 50 meter.

Data kualitas udara dalam sumber BMKG mencatat PM2.5 di Batam mencapai 190,1 mikrogram per meter kubik pada pukul 08.00 WIB. Namun, terdapat pula pembaruan lain yang mencantumkan angka 110,7 mikrogram per meter kubik pada waktu yang sama. Perbedaan angka tersebut perlu diklarifikasi sebelum data kualitas udara dipublikasikan sebagai satu nilai pasti.

Sebelumnya, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) di Batam tercatat 181, masuk kategori tidak sehat. Konsentrasi PM2.5 sebesar 137,9 mikrogram per meter kubik juga tercatat pada periode ketika aktivitas belajar tatap muka di Kepri dialihkan menjadi daring pada 14–16 Oktober 2026.

BMKG menyebut kabut yang menyelimuti Batam merupakan akumulasi asap dari kebakaran hutan dan lahan di luar wilayah Kepri. Kondisi iklim yang kering akibat fenomena El Niño turut disebut sebagai faktor yang meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran.

Selain kabut asap, BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir atau kilat dan angin kencang pada pagi hingga siang hari. Wilayah yang masuk dalam peringatan tersebut meliputi Kota Batam, Kota Tanjungpinang, dan Kabupaten Bintan.

Prakiraan cuaca Batam mencatat kondisi berasap dengan suhu maksimum 32 derajat Celsius dan minimum 27 derajat Celsius. Potensi curah hujan ringan diperkirakan mencapai 1,31 milimeter, sementara cuaca di wilayah Kepri secara umum diprakirakan cerah hingga berawan.

BMKG juga memperkirakan hujan ringan di Batam dan Tanjungpinang pada pagi hari, berawan tebal pada siang hari, serta hujan ringan pada malam dan dini hari. Kelembapan udara lapisan atas yang relatif rendah dan kecepatan angin yang cukup tinggi dinilai kurang mendukung pertumbuhan awan hujan secara merata.

Kabut asap di Kepri berkaitan dengan sebaran asap karhutla dari Kalimantan dan Sumatera yang terbawa angin. Dampaknya terlihat pada penurunan jarak pandang di Batam serta catatan konsentrasi PM2.5 yang masuk kategori sangat tidak sehat, sementara kegiatan belajar tatap muka sempat dialihkan menjadi daring pada 14–16 Oktober 2026.

Data kualitas udara dalam bahan sumber belum konsisten karena dua pembaruan sama-sama mencantumkan pukul 08.00 WIB dengan nilai PM2.5 berbeda, yakni 190,1 dan 110,7 mikrogram per meter kubik. Angka yang akan dipakai perlu dipastikan melalui klarifikasi kepada BMKG agar pembaca memperoleh informasi yang akurat.

Editor: Michael Ivan
Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!