HEADLINNEWS.ID – Jakarta, Kelangkaan diesel global akibat perang di Iran dan Ukraina diperkirakan belum mereda hingga 2027, memperpanjang tekanan biaya bahan bakar. Proyeksi itu didasarkan pada indikator pasar penyimpanan dan keterangan pelaku industri.
Di Amerika Serikat, rata-rata harga nasional diesel naik menjadi US$6,505 per Sabtu (19/9/2026) waktu setempat, menurut American Automobile Association seperti dilaporkan Bloomberg News.
Tekanan pasokan juga terlihat dari pasar penyimpanan. Perusahaan penyulingan dan trader di Amerika Utara enggan memperpanjang kontrak sewa penyimpanan diesel karena minimnya bahan bakar yang tersedia untuk disimpan, berdasarkan data broker penyimpanan The Tank Tiger.
COO The Tank Tiger Steven Barsamian mengatakan kapasitas penyimpanan diesel yang tersedia untuk disewakan di Amerika Utara dan Kepulauan Karibia mencapai 13 juta barel pada Oktober. Angka itu naik dari 11 juta barel pada Juni dan menjadi yang tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Pada saat yang sama, persediaan diesel Amerika Serikat turun menjadi 107,9 juta barel per 11 September. Menurut data Badan Informasi Energi AS atau EIA, angka tersebut merupakan yang terendah untuk periode tahun ini sejak pencatatan dimulai pada 1982.
Barsamian menyebut penarikan diesel dari fasilitas penyimpanan AS berlangsung cepat dalam beberapa bulan terakhir. Menurut dia, bertambahnya tangki yang tersedia untuk disewa juga berkaitan dengan tidak adanya diesel yang cukup untuk disimpan.
“Semakin banyak ruang penyimpanan yang tersedia untuk disewa karena tidak ada pihak yang ingin memperpanjang kontrak mereka saat ini. Mengapa Anda harus membayar sewa tangki penyimpanan jika tidak ada diesel yang bisa disimpan?” ujar Barsamian, dilansir Reuters, Selasa (22/9/2026).
Kombinasi penurunan persediaan dan bertambahnya ruang penyimpanan yang tersedia membuat pelaku pasar memperkirakan pasokan akan tetap ketat setidaknya hingga kuartal pertama 2027. Tangki penyimpanan umumnya disewa untuk jangka waktu enam bulan hingga satu tahun.
EIA juga memperkirakan persediaan bahan bakar minyak distilat yang kerap dijual sebagai diesel akan turun di bawah 100 juta barel pada September. Persediaan diproyeksikan tetap berada di bawah angka terendah lima tahun hingga akhir 2026 dan sebagian besar 2027.
Kondisi stok rendah juga terlihat di luar Amerika Serikat. Data Insights Global menunjukkan persediaan solar di pusat penyimpanan, penyulingan, dan perdagangan Amsterdam-Rotterdam-Antwerp berada 16 persen di bawah rata-rata lima tahun pada Juli.
Di Singapura, rata-rata persediaan distilat dalam beberapa pekan terakhir sekitar 8,2 juta barel. Angka tersebut serupa dengan tingkat sebelum konflik Iran, tetapi masih di bawah rata-rata 2025 sebesar 9,6 juta barel.
“Berbagai pasar negara berkembang di Asia telah terdampak cukup signifikan,” kata Andrea Pescatori, Wakil Kepala Divisi Asia-Pasifik Dana Moneter Internasional, dalam Asia Pacific Petroleum Conference di Singapura.
Data sumber memperlihatkan tekanan pasokan diesel berlangsung bersamaan dengan penurunan persediaan di sejumlah pusat perdagangan. Di Amerika Serikat, stok diesel turun ke 107,9 juta barel, sementara ruang penyimpanan yang tersedia untuk disewa meningkat menjadi 13 juta barel.
Menurut The Tank Tiger dan EIA, dua indikator tersebut berjalan dalam konteks pasokan yang diperkirakan tetap ketat hingga kuartal pertama 2027, sedangkan proyeksi EIA memperkirakan stok AS tetap rendah hingga sebagian besar 2027. Data Eropa dan Singapura menunjukkan kondisi persediaan rendah juga terjadi di luar Amerika Serikat.

