Menemukan Kedamaian di Tengah Kebisingan Informasi

Ruly Riant
By
7 Min Read
Karmin Winarta (Dok. Istimewa)

HEADLINNEWS.IDSudut pandang oleh Karmin Winarta

Sebanyak kurang lebih 6,12​ miliar pasang mata di seluruh dunia hari ini mempunyai kebiasaan pagi yang nyaris sama. Dari kamar-kamar tidur mereka begitu mereka membuka mata tangannya lalu menggapai-gapai gawai, mengusap layar lalu mengecek semua notifikasi di aplikasi yang diinstal di ponselnya.

Mulai dari aplikasi media-media mainstream, media sosial atau aplikasi lainnya. Hari ini informasi membanjiri kita tanpa perlu kita mencarinya. Berita korupsi pejabat, penipuan, pembunuhan, perseteruan artis abal-abal, hiburan receh dan dangkal sampai info seputar judi online.

Seperti yang aku alami setiap pagi, sebelum benar-benar bangun, selalu menyempatkan diri mengecek beberapa grup Whatsapp yang aku ikuti. Rata-rata pesan paginya sama, ucapan selamat pagi, doa-doa khusuk agar kegiatan hari ini bisa berlangsung lancar.

Pesan-pesan kopasan itu bahkan dimulai sejak dini hari, mereka mengingatkan agar bangun malam dan melakukan sholat tahajud agar mendapatkan pahala yang berlimpah. Padahal penghuni grup bukan beragama Islam semua.

Lalu disusul “Embun Pagi”, semacam artikel pendek yang dianggap penuh hikmah, padahal sebenarnya itu lebih cocok untuk mereka yang masih berada di level PAUD.

Di grup alumni sekolah atau grup perantau lebih seragam lagi isinya. Beberapa di antaranya adalah ucapan duka cita, ucapan selamat hari lahir dan undangan hajatan. Selebihnya forward-an info-info yang sudah telat karena sudah mendapatkan forward-an dari grup sebelah. Tentu saja tanpa mengecek lebih dulu kebenarannya.

Dianggapnya dia sudah menjadi pahlawan pembawa kabar terbaru.

Notifikasi-notifikasi itu mampu memaksa kita untuk memperhatikan. Kalau tidak, kita akan merasa ketinggalan atau ada sesuatu yang hilang sehingga kita merasa cemas. Padahal nyaris kebanyakan informasi yang beredar di internet adalah sampah, hoaks, hiburan video pendek yang receh.

Tanpa kita sadari, pikiran kita berubah menjadi bising, penuh dengan informasi yang hanya sepotong-sepotong, yang tidak sempat dicerna dengan baik. Dan hal ini menjadi tantangan besar. Di satu sisi kita tak bisa lepas dari gawai namun diam-diam bahayanya nyata.

Bagaimana kita bisa menjaga kesadaran dan menemukan kedamaian di tengah informasi yang berisik ini?

Respon Otak

​Otak manusia tidak dirancang untuk memproses ribuan stimulus secara bersamaan setiap hari. Ketika kita terus-menerus disuguhi berita-berita bombastis, mengejutkan, konflik daring, atau video-video lucu, receh dan dangkal yang terus berganti dalam hitungan detik, sistem saraf berada dalam kondisi siaga tinggi (fight or flight).

​Dampaknya sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya adalah kelelahan mental, rasa lelah yang berlebihan, meski kita tidak melakukan aktivitas fisik yang berat.

Kedua, kita mengalami kesulitan untuk fokus membaca buku, mendengarkan percakapan, atau menyelesaikan satu pekerjaan tanpa tergoda melihat ponsel.

Ketiga ​FOMO (Fear of Missing Out), Kecemasan yang terus-menerus bahwa kita akan ketinggalan tren, berita, atau momen penting jika tidak mengawasi layar setiap saat.

Kondisi ini membuat kita dalam kondisi tidak hadir. Kita sedang di sini secara fisik, tetapi pikiran kita melayang di belantara maya.

Untuk mencegah atau mengatasi hal itu, tiap orang perlu memahami apa itu literasi digital. Sehingga mereka bisa memahami bagaimana menyikapi segala dinamika perkembangan dunia digital agar bermanfaat untuk tujuan hidupnya.

Selain itu ​untuk bisa mengubah dari konsumen pasif menjadi aktif diperlukan kebangkitan kesadaran. Ini bukan berarti kita harus membuang ponsel, menutup akun media sosial, dan pindah ke tengah hutan.

Kesadaran bukan tentang mengisolasi diri dari dunia, melainkan tentang mengubah cara kita memperlakukan informasi.

Kalau selama ini kita hanya menyerap semua informasi apa saja yang mendatangi kita, sebaiknya sekarang lebih bijak mengonsumsi mana info yang benar-benar kita butuhkan dan mana saja informasi sampah yang perlu kita abaikan.

Lebih bagus lagi, sebagai pembaca jangan sampai ikut merasa menjadi aktor, membaca berita sedih ikut terbawa sedih apalagi sampai berlarut-larut dan sebaliknya.

Untuk bisa tetap tenang tidak terombang-ambing dipermainkan oleh berita-berita yang berseliweran dengan segala tone-nya yang negatif dan positif kita harus bisa menjaga jarak. Caranya menjadikan diri kita sebagai pengamat saja, bukan pelaku.

Tentu ini tidak mudah, perlu latihan konsisten. Beberapa hal yang bisa kita lakukan adalah:

​1. Berpikir sebentar sebelum meraih ponsel

Alih-alih langsung membuka ponsel saat bangun tidur atau di sela jeda kerja, luangkan waktu untuk bernapas panjang secara sadar. Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah saya benar-benar perlu memeriksa ponsel sekarang, atau saya hanya sedang merasa bosan dan cemas?”

Jeda singkat ini mengembalikan kendali dari dorongan impulsif kembali ke kesadaran penuh.

​2. Pilah dan pilih informasi yang akan kita konsumsi

Semua informasi boleh datang tanpa diundang tapi kita tetaplah tuan rumahnya yang berhak mengizinkan siapa yang boleh tinggal dan siapa yang harus dicuekin atau bahkan diusir.

Lakukan pembersihan akun secara rutin. Hentikan mengikuti (unfollow atau mute) akun-akun yang secara konsisten memicu rasa cemas, amarah, atau perbandingan sosial yang tidak sehat. Pilihlah akun yang memberikan nilai tambah, ketenangan, atau pengetahuan baru.

​3. Bikin ruang bebas ponsel di rumah

Buat area atau waktu bebas teknologi di rumah. Misalnya, tidak ada ponsel di meja makan dan tidak ada layar satu jam sebelum tidur. Luang waktu ini memberikan kesempatan bagi sistem saraf untuk beristirahat dan memproses pengalaman harian tanpa gangguan eksternal.

​4. Kembali ke Single-Tasking

Multi-tasking digital—seperti menonton video sambil membalas pesan dan mengecek berita bisa menyebabkan kelelahan otak. Kita perlu latihan untuk melakukan satu hal pada satu waktu.

Ketika sedang minum kopi, nikmatilah aroma dan rasanya. Ketika sedang berbicara dengan seseorang, tatap matanya dan dengarkan sepenuhnya tanpa memegang ponsel.

Menemukan Ruang Hening di Dalam Diri

​Pada akhirnya, kedamaian bukan diciptakan dengan cara menghentikan semua kebisingan di luar sana, karena dunia akan terus bergerak cepat dan riuh. Kedamaian sejati ditemukan ketika kita mampu membangun ruang hening di dalam diri sendiri.

​Ketika kita mampu mengendalikan arus informasi yang masuk, kita kembali menjadi tuan atas pikiran kita sendiri. Kita mulai menyadari bahwa kita tidak harus memiliki opini atas setiap peristiwa, tidak harus merespon setiap pesan dalam hitungan detik, dan tidak harus tahu segalanya untuk merasa aman.

​Di tengah dunia yang serba cepat ini, kemampuan untuk diam, hadir secara penuh, dan memilih apa yang layak mendapatkan perhatian kita adalah bentuk kebebasan dan kedamaian tertinggi.

Editor: Ruly Riant
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!