81 Tahun Merdeka, Tambah Maju atau Mundur

Jayanto Arus Adi
By
Jayanto Arus Adi
Jayanto Arus Adi adalah wartawan senior, Ahli Pers Dewan Pers, asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), serta alumni Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan...
7 Min Read
Jayanto Arus Adi

HEADLINNEWS.ID300 tahun dijajah Belanda hutan masih rimbun dan hijau, sungai-sungai jernih airnya melimpah, jadi rumah ikan dan satwa lainnya, jalan-jalan, jalur kereta kukuh membentang, gedung dan bangunan kokoh bertahan sampai hari ini. 81 tahun merdeka, yang kita lihat hutan gundul, sungai-sungai keruh, gedung, jalan dan bangunan hancur. Mana yang menjajah, siapa yang kejam, Belanda atau kita sendiri yang menghancurkan bangsa ini. (Quote of KDM)

Narasi Gubernur Jawa Barat atau Bumi Pasundan, label yang lebih kultural, Dedi Mulyadi menggelegar, seperti petir di siang bolong. Kilatan petir itu laksana samurai menghunus jantung. Seketika tubuh lunglai tak berdaya, karena telak ditohok tanpa bisa berkata apa-apa,

Ya, kita sadar kondisi saat ini harus diakui sedang tidak baik-baik saja. Simak karut-marut yang mendera nyaris di semua sektor. Tragisnya kondisi koyak moyak, porak peranda terjadi akibat ulah kita sendiri.

Korupsi merajalela, pemimpin-pemimpin, mulai paling bawah, Pak RT sampai yang paling top di negeri ini kehilangan wibawa. Apa boleh buat guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Maaf maaf, amit amit,,, gara-gara keliru soal upah pengupas bawang tak luput Presiden yang terhormat pun diroasting. Rakyat ya rakyat wong cilik, kaum marginal bisa ngomong sekenanya, nyaris nggak ada hormat-hormatnya pada para pemimpin. ‘

’Yok apo iki, wis angel, angel,’’ begitu emoticon sarkastis yang marak di media sosial.

“Pak Prabowo, Pak Prabowo… Pak Presiden jangan tenang-tenang terus, Wakil sampean Gibran Rakabuming sudah bukan anak kemarin sore lagi. Apalagi bentar lagi punya kantor baru, yakni Sekretariat Wakil Presiden di IKN,’’ begitu celetuk netizen di media sosial.

Warning itu tidak boleh dipandang sebelah mata. Ingak-ingak, benar-benar harus jadi diingat IKN itu Kota Masa Depan, Jakarta mah Kota Masa lalu. Lhadhallaaah, untuk kajian geopolitik macam begini, apa nggak miris.

Mangkanya, eeeh makanya Pak Presiden dalam berucap, bersikap, dan bertindak harus sophisticated thinking tidak boleh keclethat bin keclithut lagi.

‘’Pak Prabowo, Pak Prabowo maaf beribu maaf, ini zaman global dus desa perlu dolar. Karena desa pun, meski secara teritori jauh dari episentrum politik, dan ekonomi, namun secara substantif adalah yang menyangga Republik ini,’’ pesan Kyai Semar kepada para abdi dalem dan bolo dupaknya.

Saya jadi ingat tengara yang disampaikan idola kaum milenial Said Didu. ‘’Emang sawit, minyak, batu bara, kayu, sayur mayur, buah dari kota. Kagak, kagak tahu, semua itu dari desa. Tapi desa-desa itu hanya dihisap, dieksploitasi, kekayaannya dikeruk, dulur-dulur tak ikut kecipratan dan menikmatinya,’’begitu ujar Prof Saratri, sahabat, senior juga guru besar yang sangat kondang.

Iya, iya, miris juga. Saya tercekat, tercenung disuguhi centang perentang wajah kita, wajah negeri ini. ‘’Ya, tapi kita ini wong cilik, kita bisa apa. Apa harus wadul sama Maknya Wong Cilik, Mak Banteng. Wadul tidak, wadul tidak. Bingung, akhirnya maju mundur, tidak melakukan apa-apa,’’ itu yang terjadi sembari garuk-garuk kepala.

Di tengah buntu, bingung, uneg-uneg yang berseliweran saya tuangkan dalam tulisan ini. Sembari menulis, air mata mengalir tak terasa, ingatan membuhul masa kecil di desa. Kaliharjo, nama desaku, berada di kaki pegunungan Menoreh, masuk Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo.

Dari rumah kami ke Kota Purworejo berjarak kurang lebih 9 KM. Jadi kalau ke kutho, begitu kami menyebut Kota Purworejo harus naik Colt, angkudes atau sepeda angin.

Ada dokar, angkutan tradisional yang ditarik kuda. Di desa kami ada dua pemilik dokar, Lik Mandi sama Mbah Amat Karyo. Sesekali nunut atau menumpang ketika tidak ada muatan alias ‘ngglondang’. Wouww sesuatu banget, tik tok tik tok nyaman sekali, semribit membuat kepala teklak-tekluk karena ngantuk.

Kenangan yang membuhul lain adalah kehidupan agraris dengan napas kultural desa begitu natural. Ciblon mandi di sungai menjadi semacam ritus meleburkan anak desa yang madesan.

Madesan menjadi value bukan ndeso, karena pahatan kearifan hidup selaras dengan alam.

Ketika hujan turun, sesaat kemudian sungai mengirim banjir, ikan-ikan menepi dan kami menangkapnya cukup dengan jaring kecil, atau engkrak dari anyaman bambu. Alangkah indahnya, era itu sekitar tahun 80-90 an. Saben sore ngumpul, ngundho layangan di pemarang sawah. Lagunya, ‘’cempe-cempe undangno barat gedhe tak upahi duduh tape,’’.

Liriknya sangat membumi, kultural, saya rengeng-rengeng mendendangkan kembali. Aaah, semua itu sudah berubah, bukan hanya berubah, hilang, ketika babak baru, yang konon lebih modern, merangsek! Desa goyah, lumpuh, gegar otak menghadapi paparan pengaruh dari luar yang mengkoyak sendi-sendiri kehidupan.

81 Tahun kita merdeka, beberapa waktu lalu perayaan itu digelar di desaku. Ada jalan sehat dengan door prize berupa-rupa. Saya tanya Pak Lurah, yang kebetulan sahabat SD, ketika itu. Juga Ketua Karang Taruna.

‘’Kok ramai men Kang, begitu saya panggil Pak Lurah dengan sebutan Kang. Hadiahe werna-werna, alhamdulillah ya Kang, warga bungah, melu perayaan,’’ ucapku ke Pak Lurah.

Kang Lurah, lantas cerita, hadiah-hadiah sumbangan anggota DPR/D dan donasi warga. Jawaban itu makjleb, membuat lidah kelu. Dalam hati tergambar sekadar perayaan 17-an dinamika sumbang menyumbang tak luput mewarnai.

Benarkah sumbangan itu tanpa pamrih, atau semacam pasung yang mengunci kata hati. ‘’Ya, mereka (anggota DPR) membantu, nanti coblosan Pemilu agar dicoblos lagi,’’ kata Kang Lurah.

Lhoo begitu, berarti tidak merdeka. Malang nian desaku, juga saudara-saudaraku. Mereka sekarang sudah bukan menjadi entitas desa yang madesan. Tapi berubah menjadi topeng dan boneka-boneka penguasa. Sikap, pikiran dan tindak diatur, dipaksa, atau terpaksa karena tidak ada pilihan lagi.

Desaku, juga desa-desa lain kebanyakan adalah panggung kecil dari wajah peradaban yang rakus. ‘’Pak Prabowo, pak Prabowo, tolong selamatkan desa kami. Selamatkan saudara-saudara kami, Sungguh ini ratapan hati, kami (warga desa) kami ingin merdeka, merdeka dari rasa takut, dan merdeka bersikap sesuai dengan kata hati. Pak Prabowo, Pak Prabowo, tolonnnnnnng,” jerit hati lirih, letih. Salam setengah merdeka.

Jayanto Arus Adi, Wartawan Senior, Ahli Pers Dewan Pers, Asesor Uji Kompetensi Wartawan PWI Pusat, dan duduk sebagai Pengurus Pusat SMSI (Serikat Media Siber Indonesia) dan Plt Ketua SMSI Jateng. SMSI adalah salah satu konstituen Dewan Pers.

Tahun 2025 mengikuti PPNK Lemhanas RI Angkatan 227. Selain tetap aktif sebagai praktisi media, juga berkiprah sebagai konsultan media dan komunikasi. Ikut berkontribusi di Satu Pena (organisasi penulis yang dipimpin Denny JA).

Mengajar jurnalistik di beberapa kampus, juga aktif di MOJO (Mobile Jurnalis Indonesia) sebagai Ketua Umum Nasional. Saat ini tengah menempuh S3 (Program Doktoral) di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Bidang yang dipilih adalah Prodi Pertanian, Komunikasi Agribisnis, dan Ketahanan Pangan.

Headlinnews.id adalah media online yang didirikan dan dinahkodai langsung sebagai CEO sekaligus Pemimpin Redaksi. Dengan tagline “Dari Jawa Tengah untuk Indonesia”, media ini didedikasikan menjadi oase bagi informasi alternatif, sekaligus lokomotif penggiat civil society.

Editor: HL-News
Share This Article
Jayanto Arus Adi adalah wartawan senior, Ahli Pers Dewan Pers, asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), serta alumni Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (PPNK) Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia Angkatan 227 Tahun 2025. Selain aktif sebagai praktisi media, juga menjabat Pengurus Pusat Serikat Media Siber Indonesia (konstituen Dewan Pers) dan Pelaksana Tugas Ketua Umum SMSI Jawa Tengah. Turut berkiprah di Satu Pena, organisasi penulis yang dipimpin Deny JA. Mengajar jurnalistik di beberapa perguruan tinggi dan juga menahkodai Mobile Jurnalis (MOJO) Indonesia. Saat ini, Jayanto Arus Adi tengah menempuh Program Doktor (S3) di Universitas Jenderal Soedirman pada Program Studi Pertanian, dengan konsentrasi Komunikasi Agribisnis dan Ketahanan Pangan. Membidani dan terlibat langsung di Headlinnews.id sebagai Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi. Dengan tagline "Dari Jawa Tengah untuk Indonesia", media ini didedikasikan sebagai oase informasi alternatif sekaligus lokomotif bagi penguatan gerakan civil society.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!