HEADLINNEWS.ID – Keterbatasan informasi lokasi kerap menjadi kendala tersendiri bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah pedesaan untuk menjangkau konsumen dan mitra usaha yang lebih luas. Persoalan ini coba dijawab melalui program multidisiplin pembuatan peta tematik UMKM Telur Asin Nusantara di Desa Kedungsegog, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Rabu (19/8/2026).
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Universitas Diponegoro Semarang 2026 Tim II Program Studi Teknik Geologi Ibnu Rafi Abrar Pratama, memetakan lokasi budidaya bebek petelur Nusantara Farm dan unit pengolahan Telur Asin Nusantara Kedungsegog menjadi sebuah peta tematik yang informatif dan mudah diakses.
“Rangkaian kegiatan diawali dengan survei lapangan pada Jumat (24/7/2026) untuk mengumpulkan data spasial berupa titik lokasi kandang bebek, rumah pengolahan telur asin, serta pengukuran luasan kandang menggunakan Google Earth. Dari hasil pengukuran ini kemudian dibandingkan dengan standar kepadatan kandang berdasarkan umur itik untuk menilai kesesuaian kapasitas produksi,” jelasnya.
Selain memetakan titik kandang, mahasiswa turut menganalisis kesesuaian lokasi kandang terhadap Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 32 Tahun 2014 yang mensyaratkan jarak minimal 500 meter antara kandang unggas dan permukiman warga. Melalui analisis yang dilakukan, ditentukan satu titik rekomendasi lokasi kandang baru yang memenuhi jarak aman tersebut, sehingga berpotensi mendukung pengembangan usaha sekaligus menjaga kenyamanan lingkungan permukiman sekitar.
“Hasil pemetaan kemudian diserahkan sekaligus disosialisasikan kepada pelaku UMKM pada Sabtu (25/7/2026). Dalam sesi ini, mahasiswa memaparkan isi peta tematik, mulai dari sebaran titik kandang bebek, titik rekomendasi kandang baru, hingga lokasi UMKM telur asin, kepada pemilik usaha. Mahasiswa juga menjelaskan fungsi kode QR pada peta yang memuat lokasi Google Maps masing-masing titik,” terangnya.
Ibnu Rafi menyebutkan, program ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 8 yakni Decent Work and Economic Growth sebab peta tematik dan QR code lokasi yang dihasilkan mendukung kelayakan usaha serta membuka peluang ekspansi UMKM telur asin sebagai unit ekonomi produktif di tingkat desa.
“Program ini juga sejalan dengan SDGs 11 yakni Sustainable Cities and Communities, mengingat rekomendasi lokasi kandang baru yang mengacu pada standar jarak dari pemukiman mendukung penataan ruang yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi warga Desa Kedungsegog,” tegasnya.
Ibnu Rafi juga menjelaskan bahwa, program ini dirancang tidak hanya untuk menghasilkan produk peta, tetapi juga untuk membantu pelaku UMKM memahami posisi usahanya secara keruangan, termasuk peluang dan batasan yang perlu diperhatikan dalam pengembangan usaha ke depan. Pendekatan keilmuan Teknik Geologi, khususnya dalam pemetaan dan analisis keruangan, digunakan agar informasi yang disajikan tidak hanya akurat secara teknis tetapi juga mudah dipahami oleh pelaku usaha yang belum terbiasa membaca peta.
“Sebagai penutup rangkaian program, luaran fisik berupa cetakan peta tematik diserahkan kepada pelaku UMKM pada Minggu (16/8/2026). Penyerahan ini menjadi bentuk komitmen mahasiswa agar hasil pemetaan dapat benar-benar dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh pemilik usaha, tidak hanya sebagai dokumentasi kegiatan KKN semata,” pungkasnya.
Melalui pelaksanaan program pembuatan peta tematik ini, Ibnu berharap UMKM Telur Asin Nusantara di Desa Kedungsegog dapat memanfaatkan peta dan media digital yang telah disediakan untuk memperluas jangkauan pasar, mempermudah akses bagi konsumen dan mitra usaha, serta menjadi rujukan dalam perencanaan pengembangan lokasi usaha di masa mendatang. (MC Batang, Jateng/Ibnu Rafi/Jumadi)

