Gempa 7,7 di NTT Tewaskan 47 Orang, 5.000 Warga Mengungsi

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
12 Min Read
Pasien terdampak gempa dievakuasi di halaman RS Siloam Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Sabtu (15/08).

HEADLINNEWS.IDNusa Tenggara Timur, Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) dilaporkan menyebabkan 47 orang tewas dan sekitar 5.000 orang mengungsi.

Berdasarkan data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Minggu (16/8) pukul 00.00 WIB, korban tewas tersebar di Kabupaten Sikka empat jiwa, Kabupaten Manggarai 23 jiwa, Manggarai Timur 17 jiwa, Ende satu jiwa, Manggarai Barat satu jiwa, dan Nagekeo satu jiwa.

Jumlah korban tewas akibat gempa diprediksi akan terus bertambah. Hingga Minggu (16/8) dini hari, tercatat 341 gempa susulan dengan magnitudo 3,7 sampai 6,2.

Selain korban meninggal dunia, sekitar 5.000 orang mengungsi akibat gempa. Konsentrasi pengungsi terbesar terpantau di Kabupaten Sikka dengan total 3.356 jiwa.

Di Kabupaten Manggarai, jumlah pengungsi mencapai 2.078 jiwa. Sementara itu, 500 warga lainnya mengungsi di Nagekeo.

Pemenuhan hak-hak dasar dan logistik di pengungsian kini menjadi salah satu prioritas penanganan darurat. Para penyintas, khususnya di Kabupaten Manggarai, membutuhkan bantuan berupa puluhan tenda darurat, makanan, obat-obatan, selimut, velbed, pasokan air bersih, hingga genset.

Bantuan juga diperlukan di bidang kesehatan.

Menurut data Kementerian Kesehatan pada Sabtu (15/8), dari 21 rumah sakit di kabupaten-kabupaten yang terdampak gempa, enam RS rusak ringan dan tiga RS rusak berat.

Dari tiga RS yang mengalami rusak berat, satu berada di Kabupaten Manggarai, yakni RS Ruteng, sedangkan dua lainnya berada di Kabupaten Nagekeo, yakni RS Pratama Raja dan RS Aeramo.

Adapun dari 190 puskesmas, sebanyak 37 puskesmas rusak sedang dan 20 puskesmas rusak berat. Puskesmas-puskesmas tersebut tersebar di Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai Timur, dan Kabupaten Ngada.

Kerusakan bangunan akibat gempa juga melumpuhkan aktivitas warga.

Sebuah rumah roboh pascagempa berkekuatan magnitudo 7,7 di Ruteng, Manggarai, NTT, pada Sabtu (15/08).
Sebuah rumah roboh pascagempa berkekuatan magnitudo 7,7 di Ruteng, Manggarai, NTT, pada Sabtu (15/08).

Data sementara BNPB menyebut 914 unit rumah mengalami rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan.

Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum, yakni 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, 38 kantor pemerintah, lima tempat ibadah, dan sejumlah fasilitas umum lainnya.

Pegawai hotel mengamankan barang-barang milik wisatawan dari gedung Hotel Jayakarta yang rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/08).
Pegawai hotel mengamankan barang-barang milik wisatawan dari gedung Hotel Jayakarta yang rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/08).

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa terjadi pada pukul 05.58 WITA di kedalaman 15 kilometer.

Pusat gempa berada 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT.

BNPB menyebut terdapat lima kepala keluarga terdampak dan sekitar 2.000 warga di Kabupaten Nagekeo melakukan pengungsian atau evakuasi mandiri.

Sebagian besar warga melakukan evakuasi setelah merasakan guncangan kuat dan menyusul peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan setelah gempa utama.

Di Kota Bima tercatat satu kepala keluarga atau enam jiwa terdampak.

Selain korban jiwa, BNPB melaporkan beberapa jalan longsor dan tertutup, serta puluhan rumah mengalami rusak ringan hingga berat. BNPB juga menyebut banyak puskesmas mengalami kerusakan.

“Kemudian untuk bandara dari Kemenhub, ada lima bandara terdampak, tapi bukan di runway [landasan pacu], tapi di gedung terminal. Lalu pelabuhan terdampak ada dua, pelabuhan Reo di Manggarai dan Maumere,” ujar Kepala BNPB Suharyanto.

Dampak kerusakan sementara yang telah teridentifikasi BNPB meliputi 54 unit rumah rusak berat, sembilan unit rumah rusak sedang, dan 11 unit rumah rusak ringan.

Tim SAR Gabungan melakukan evakuasi di reruntuhan bangunan di Pelabuhan Maumere, NTT.
Tim SAR Gabungan melakukan evakuasi di reruntuhan bangunan di Pelabuhan Maumere, NTT.

Selain itu, lima fasilitas kesehatan dan satu fasilitas pendidikan rusak. Satu gudang Bulog, tiga fasilitas ibadah, serta enam kantor pemerintahan juga terdampak.

BNPB mencatat Kabupaten Manggarai menjadi salah satu wilayah dengan dampak kerusakan cukup signifikan.

“Tercatat 29 unit rumah rusak berat, sembilan unit rumah rusak sedang dan sembilan unit rumah rusak ringan. Selain itu, lima fasilitas kesehatan dan satu fasilitas pendidikan juga mengalami kerusakan. Sementara di Kabupaten Manggarai Timur tercatat 23 unit rumah rusak berat,” kata Berton.

Sebuah bangunan tampak rusak setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 melanda Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/08).
Sebuah bangunan tampak rusak setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 melanda Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/08).

Wilayah yang dilaporkan merasakan guncangan antara lain Kabupaten Nagekeo, Sikka dan Manggarai Barat di NTT; Kota Bima dan Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat; serta Kabupaten Jeneponto, Kepulauan Selayar dan Maros di Sulawesi Selatan.

Di Kabupaten Nagekeo, kata Berton, petugas masih melakukan penanganan situasi. Kondisi jalan dilaporkan mengalami kemacetan dan aliran listrik masih padam.

POTENSI TSUNAMI

BMKG telah menerbitkan peringatan dini tsunami atas peristiwa itu. Namun, peringatan tersebut kemudian dinyatakan berakhir.

Di sejumlah tempat, tsunami telah terdeteksi. Di Bakalang, Alor, NTT, tercatat tsunami setinggi 0,14 meter pada 05.41 WIB.

Di Dompu, NTB, tsunami mencapai 0,17 meter. Sementara di Flores Timur, Labuan Bajo, dan Sikka, ketinggian air tercatat 0,19 hingga 0,36 meter.

Kepanikan warga di Desa Talibura, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka
Kepanikan warga di Desa Talibura, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka

Di Maurole, Ende, NTT, ketinggian air hampir satu meter pada 05.27 WIB.

Selain itu, BMKG melaporkan peringatan siaga hingga waspada tsunami di sejumlah wilayah di NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan, dengan ketinggian 0,5 hingga tiga meter.

Sebagai langkah antisipasi, BMKG merilis rekomendasi “evakuasi menyeluruh” bagi pemerintah daerah di wilayah terdampak.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pihak Istana telah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak untuk memastikan kesiagaan seluruh unsur dalam menghadapi situasi awal pascakejadian di NTT.

“Dari tadi pagi saya sudah koordinasi dengan Menko PMK, Kabasarnas, BMKG, BNPB, dan Gubernur NTT untuk memastikan atensi dan kesiagaan semua unsur di masa-masa awal kejadian ini,” kata Mensesneg Prasetyo Hadi, Sabtu (15/8).

Sebelumnya, Wakil Bupati Sikka, NTT, Simon Subandi Supriadi melaporkan dua orang tewas akibat tertimpa reruntuhan bangunan di Pelabuhan Laurentius Say.

“Yang satu ibu mau ke Kupang. Jadi kena runtuhan, meninggal. Satu lagi bapak pasien orang Adonara, sudah mau pulang di pelabuhan,” kata Simon.

Simon mengatakan kerusakan terparah sejauh ini yang terdata terjadi di Pelabuhan Laurentius Say.

“Kalau di fasilitas umum, sementara belum ada laporan kerusakan yang berat. Tadi saya pantau di rumah sakit, pasien diungsikan di luar.”

“Dan sementara sedang berlangsung pemasangan tenda darurat dari BPBD dan dinas sosial,” kata Simon.

Tim SAR Gabungan yang terdiri dari unsur Basarnas, TNI, dan Polri melaporkan telah mengevakuasi tiga orang yang terdampak gempa di Maumere.

“Kami menerima informasi bahwa saat terjadi gempa, bangunan yang berada di Pelabuhan Lauren Say Maumere-Sikka rubuh dan menimpa satu orang korban atas Meliana Nenong, perempuan berusia 54 tahun dengan kondisi meninggal dunia,” kata Fathur Rahman, Kepala Kantor SAR Maumere.

“Dan dua orang luka-luka dan ketiganya langsung dievakuasi Tim SAR Gabungan ke RSUD T.C Hillers Maumere.”

Selain itu, Fathur mengatakan Tim SAR Gabungan dari Kantor SAR Maumere juga telah menuju ke lokasi kejadian gempa di Kabupaten Nagekeo dan lokasi lain yang terdampak.

“Untuk saat ini pendataan seluruh korban masih dikoordinasikan dengan BPBD setempat,” tambah Fathur.

WARGA BERHAMBURAN KELUAR RUMAH

Jurnalis di Sikka, Arnold Welianto, memaparkan gempa dengan guncangan besar itu terjadi pada pagi hari.

“Saya kaget dan bangun, langsung menuju ke kamar anak, langsung tarik anak keluar dari rumah, istri ikut dari belakang. Rumah kami pinggir pantai,” ujar Arnold.

Di luar rumah, Arnold melihat banyak warga lain berlari menuju perbukitan dan memenuhi jalan raya.

“Karena setelah gempa besar itu masih terjadi gempa susulan dan air laut sempat surut agak lama,” tambah Arnold.

Dia juga melihat para pasien di puskesmas dievakuasi ke luar bangunan dan kegiatan belajar mengajar di sekolah dihentikan sementara.

Di wilayah Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), sejumlah warga juga dilaporkan berbondong-bondong menuju perbukitan untuk mencari perlindungan setelah gempa mengguncang wilayah itu.

Berdasarkan laporan jurnalis Kompas.com di lapangan, sejumlah warga mengungsi ke dataran yang lebih tinggi karena khawatir terjadi gempa susulan serta kenaikan air laut.

“Saya pun berlindung bersama warga di perbukitan di Kelurahan Watu Nggene, untuk menghindar dari gempa susulan dan air lain naik,” lapor jurnalis Kompas.com di lapangan.

Sejumlah kerusakan juga dilaporkan terjadi, di antaranya Gedung kampus Universitas Katolik Indonesia (Unika) Ruteng.

Di Kota Mataram, NTB, sejumlah warga yang sedang beraktivitas langsung berhamburan ke tengah jalan.

“Gempa itu bikin kaget karena terjadi saat jam sibuk menyiapkan anak ke sekolah,” kata salah seorang warga bernama Veronika saat ditemui di Mataram, NTB, Sabtu.

Ia mengatakan gempa terasa seperti ayunan dan berlangsung cukup lama sehingga membuat kepala terasa pusing seperti jet usai melakukan penerbangan menggunakan pesawat.

“Tadi saat lagi tidur tiba-tiba semua benda di kamar bergoyang, ternyata itu gempa bumi. Semoga tidak terjadi hal buruk di daerah pusat gempa,” ucap Adam, salah seorang warga Lombok lainnya.

PENYEBAB GEMPA

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, mengatakan sumber gempa berkaitan dengan aktivitas sesar aktif yang berada di bagian utara Pulau Flores.

Tim SAR Gabungan melakukan evakuasi di reruntuhan bangunan di Pelabuhan Maumere, NTT.
Tim SAR Gabungan melakukan evakuasi di reruntuhan bangunan di Pelabuhan Maumere, NTT.

Menurut Arief, aktivitas sesar serupa juga pernah berkaitan dengan gempa yang terjadi pada 1992.

“Jadi memang ada sesar aktif yang di sepanjang utara Pulau Flores. Seperti juga pada tahun 1992. Jadi ini penyebabnya adalah sesar yang di utara Pulau Flores,” kata Arief.

Selain itu, Arief meminta masyarakat menjauhi kawasan pesisir untuk sementara waktu.

“Untuk saat ini tapi tetap untuk masyarakat jangan jangan mendekati pantai,” katanya.

BMKG telah mengakhiri peringatan tsunami setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang NTT.

“Pengakhiran telah diterbitkan,” kata Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, dalam konferensi pers daring.

Meski peringatan tsunami sudah dicabut, BMKG tetap memantau kondisi laut dan aktivitas gempa susulan di sekitar wilayah terdampak.

BNPB juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan serta tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa.

Editor: HL-News
Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!