Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5

Hampir Setahun Jembatan Klantang Ambruk Belum Diperbaiki, Warga Peniron Kebumen Menanti Kepastian

Achmad Luthfi Khakim
By - Achmad Luthfi Khakim
5 Min Read

HEADLINNEWS.IDKEBUMEN — Harapan masyarakat Desa Peniron, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen, agar Jembatan Kali Klantang segera dibangun kembali belum juga terwujud. Jembatan yang berada di ruas Jalan Tembana-Peniron tersebut ambruk pada November 2025 setelah pondasinya terus tergerus erosi dan diterjang banjir.

Memiliki panjang sekitar 4 meter dengan lebar 6 meter, jembatan tersebut merupakan akses penting bagi masyarakat. Jalur ini tidak hanya digunakan untuk aktivitas warga Desa Peniron, tetapi juga menjadi penghubung menuju sejumlah wilayah di Kecamatan Karangsambung, Karanggayam hingga Sadang.

Pasca-ambruk, masyarakat masih harus beraktivitas melalui kawasan tersebut dengan kondisi yang terbatas. Pagar pengaman telah dipasang untuk mengurangi risiko, namun belum adanya jembatan pengganti membuat akses warga belum kembali seperti semula.

Salah seorang warga, Eko, mengaku kondisi tersebut membuat masyarakat harus lebih berhati-hati ketika melintas. Ia berharap pemerintah segera memberikan kepastian mengenai pembangunan jembatan.

Kepala Desa Peniron, Triyono Adi, mengatakan persoalan Jembatan Klantang sebenarnya bukan kerusakan yang terjadi secara tiba-tiba. Sebelum akhirnya ambruk, kondisi pondasi jembatan telah lama mengalami pengikisan akibat erosi.

“Jembatan Klantang di Peniron itu dari awal sebelum tahun 2025 memang sudah tergerus erosi akibat erosi dari Sungai Lukulo,” ujar Triyono.

Menurutnya, bagian bawah jembatan sebelumnya telah dilengkapi bronjong sebagai upaya menahan gerusan air. Namun, saat banjir datang, bronjong tersebut tidak mampu bertahan dan akhirnya jebol.

Gerusan air yang terus berlangsung kemudian menyebabkan pondasi jembatan semakin melemah. Puncaknya terjadi pada November 2025 ketika jembatan tersebut akhirnya ambrol.

Pemerintah desa kemudian melaporkan kondisi tersebut kepada pihak terkait dan memasang pagar pengaman di sekitar lokasi. Namun, hingga sekarang pembangunan jembatan baru maupun jembatan darurat belum terealisasi.

Akses Ekonomi dan Pendidikan

Triyono menilai pembangunan Jembatan Klantang harus menjadi perhatian serius karena keberadaannya berkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat.

Jalur tersebut menjadi akses warga menuju sekolah, pasar, pusat pemerintahan, serta berbagai pusat kegiatan ekonomi. Kendaraan roda empat hingga kendaraan pengangkut barang juga memanfaatkan ruas tersebut.

“Jembatan itu akses vital karena memang penghubung antarkecamatan, dari Kecamatan Pejagoan, Karangsambung, Karanggayam dan Kecamatan Sadang,” katanya.

Ia menambahkan, masyarakat membutuhkan akses tersebut bukan hanya untuk keperluan transportasi, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan perekonomian.

“Kalau untuk kegiatan ekonomi itu pokok, untuk sekolah juga pokok. Karena memang SMP di situ, kalau mau ke SMA juga lewat situ. Akses ke pasar atau ke pusat kota Kebumen juga lewat situ,” jelasnya.

Sebelumnya, Bupati Kebumen bersama jajaran pemerintah daerah telah meninjau kondisi Jembatan Klantang. Dalam kesempatan tersebut, pembangunan kembali jembatan disebut direncanakan pada tahun 2026.

Namun, hingga kini rencana tersebut belum terealisasi. Kondisi itu membuat pemerintah desa berharap ada langkah konkret agar pembangunan tidak kembali tertunda.

“Saya berharap kepada Pemkab Kabupaten Kebumen, terutama mendesak kepada Ibu Bupati untuk segera merealisasikan pembangunan Jembatan Klantang yang ada di Desa Peniron. Karena itu adalah akses pokok dari segala bidang,” tegas Triyono.

Tak Cukup Hanya Bangun Jembatan

Selain pembangunan konstruksi baru, pemerintah juga diminta menyelesaikan persoalan erosi yang menjadi salah satu penyebab kerusakan.

Triyono menjelaskan, Jembatan Klantang berada di atas Sungai Klantang. Di sisi lain, aliran Sungai Lukulo yang mengalami pergeseran akibat erosi kini semakin mendekati kawasan tersebut.

“Lahan sudah habis sehingga mendekat dengan Sungai Klantang. Akhirnya dampak erosinya sampai situ,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menjadi semakin rawan ketika musim penghujan. Debit air yang meningkat dapat membuat arus Sungai Klantang menjadi deras. Ketika aliran Sungai Lukulo bertemu dengan Sungai Klantang, gerusan air terhadap kawasan sekitar juga semakin besar.

“Kalau musim hujan, walaupun itu sungai kecil tapi arusnya deras. Dan di situ kalau bareng dengan Sungai Lukulo terjadi muara pertemuan air dari Sungai Lukulo dengan Sungai Klantang. Jadi di situ menggerus dan terjadi erosi lagi,” paparnya.

Triyono khawatir jika pembangunan kembali ditunda, kerusakan di sekitar jembatan akan semakin meluas. Kondisi tersebut berpotensi mengancam keberlangsungan akses masyarakat apabila tidak segera ditangani.

“Kalau enggak dibangun tahun ini, saya khawatir nantinya bisa lebih parah lagi sehingga ambruk dan akses fasilitas masyarakat mati total,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap pembangunan nantinya tidak sekadar mengganti jembatan yang telah ambruk. Konstruksi harus dibuat lebih kuat dan memiliki kapasitas yang lebih memadai untuk menghadapi kondisi lingkungan di sekitar sungai.

“Harapannya dibikin lebih luas, pokoknya lebih kuat. Karena prinsip saya itu adalah akses jembatan yang sangat vital. Terus yang tererosi di sekitar jembatan itu juga segera ditanggulangi,” pungkasnya.

Editor: Achmad Luthfi Khakim
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!