Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5

Dari Pekarangan 100 Ubin, Havril Kembangkan 10 Ribu Bibit Kelapa hingga Kirim ke Sumatra dan Kalimantan

Achmad Luthfi Khakim
By - Achmad Luthfi Khakim
3 Min Read

HEADLINNEWS.IDKEBUMEN – Bermula dari pemanfaatan lahan pekarangan sekitar 100 ubin, Havril Setiawan, warga Dukuh Keceme RT 01 RW 03, Desa Mrinen, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, berhasil membangun usaha pembibitan kelapa yang kini memasuki tahun kedua.

Bukan sekadar memenuhi kebutuhan petani di sekitar Kebumen, usaha yang dirintis Havril tersebut kini berkembang hingga menjangkau sejumlah daerah di luar Pulau Jawa.

Di lahan pembibitan miliknya, sekitar 10 ribu bibit kelapa kini tumbuh dan dirawat secara intensif. Sebanyak 5 ribu bibit masih berada pada tahap pendederan, sedangkan 5 ribu lainnya telah berukuran sekitar 50 sentimeter hingga satu meter dan siap dipasarkan.

Untuk menghasilkan bibit yang siap ditanam, Havril membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam bulan sejak proses pendederan.

Berbagai jenis kelapa dikembangkan, di antaranya kelapa Jawa, Gading, Wulung, Puyuh, dan Genjah Entok. Harga yang ditawarkan juga beragam, mulai dari Rp15 ribu hingga Rp50 ribu per batang, menyesuaikan jenis, umur, serta ukuran bibit.

Dari Kebumen Menjangkau Berbagai Daerah

Perkembangan usaha tersebut membuat pemasaran bibit kelapa Havril tidak lagi terbatas di wilayah Kebumen dan sekitarnya.

Pesanan bahkan datang dari berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur, Sumatra, hingga Kalimantan.

“Yang paling banyak diminati itu kelapa Jawa. Kalau pengiriman ke Sumatra dan Kalimantan biasanya untuk kebutuhan program hilirisasi dan penghijauan,” ujar Havril, Senin (10/8/2026).

Menurut Havril, menjaga kualitas bibit menjadi bagian paling penting dalam usaha pembibitan. Tidak semua buah kelapa dapat menghasilkan bibit dengan tingkat keberhasilan tumbuh yang sama.

Salah satu faktor yang sangat menentukan adalah tingkat kematangan buah. Kelapa yang sudah cukup tua dinilai memiliki peluang tumbuh lebih tinggi dibandingkan buah yang masih terlalu muda.

Selain pemilihan buah, kondisi media tanam juga harus diperhatikan. Kelembapan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan munculnya jamur dan mengganggu pertumbuhan bibit.

“Kalau kelembapan terlalu tinggi biasanya muncul jamur. Saat musim hujan kami mengurangi penyiraman supaya media tidak becek. Sebaliknya saat musim kemarau, yang penting kelembapannya tetap terjaga,” jelasnya.

Dua Tahun Belajar, Tingkat Kegagalan Ditekan

Selama dua tahun menjalankan usaha, Havril mengaku semakin memahami karakteristik bibit kelapa dan berbagai kondisi yang dapat memengaruhi pertumbuhannya.

Pengalaman tersebut membuatnya mampu melakukan perawatan secara lebih tepat, terutama dalam mengatur kelembapan dan memilih bahan pembibitan.

Hasilnya, tingkat kegagalan bibit tumbuh kini dapat ditekan hingga sekitar 10 persen.

“Yang penting media tetap lembap tapi tidak becek. Kalau kelapanya sudah tua, peluang tumbuhnya tinggi. Kalau masih terlalu muda, peluang hidupnya bisa sekitar lima puluh banding lima puluh. Alhamdulillah sekarang yang gagal tumbuh hanya sekitar 10 persen,” pungkasnya.

Usaha Havril menunjukkan bahwa lahan pekarangan yang dikelola dengan serius dapat menjadi sumber penghasilan sekaligus peluang usaha yang menjanjikan.

Dari lahan sekitar 100 ubin di Desa Mrinen, ribuan bibit kelapa kini tidak hanya tumbuh untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari penghijauan dan pengembangan komoditas kelapa di berbagai daerah Indonesia.

Editor: Achmad Luthfi Khakim
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!