Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5

Gelorakan Kembali Dolanan Tradisional, TP PKK Temanggung Gelar “Sapa Anak”

Arafandy
By
3 Min Read

HEADLINNEWS.IDTemanggung, “Sapa Anak” yang dirangkaikan dengan Festival Dolanan Anak kembali digelar oleh Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Temanggung. Kali ini, kegiatan dilaksanakan di halaman dan aula Kecamatan Candiroto, Kamis (6/8/2026).

Ketua TP PKK Kabupaten Temanggung, Panca Dewi mengatakan, bahwa TP PKK mengajak masyarakat beserta guru-guru untuk lebih dekat dengan anak-anak, supaya lebih mengerti akan keinginan dan hal apa saja yang sudah terlupakan oleh anak-anak pada zaman sekarang.

“Kami berharap, bisa mengajak semua guru PAUD untuk bisa memperkenalkan kembali dolanan (permainan tradisional) anak yang sudah dilupakan,” ungkap Panca Dewi.

Ketua TP PKK Kabupaten Temanggung secara pribadi berharap, anak-anak, khususnya di Kabupaten Temanggung menjadi anak-anak yang saleh dan salihah, anak-anak yang berakhlakul karimah dan tidak bergantung pada gawai. Harus mengikuti zaman, tetapi tidak boleh dibodohi zaman.

Sementara itu, ketua penyelenggara, yakni Ketua Pokja 2, Irma Fitri Hastuti menceritakan, bahwa peserta Sapa Anak ini terdiri dari anak-anak pra-TK yang berada di bawah organisasi Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI).

Selain itu, dari kelompok Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI), serta Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) yang masing-masing sekolah mengirimkan maksimal 10 anak sebagai perwakilan, sehingga total yang mengikuti kegiatan tersebut sebanyak 245 anak.

Terdapat 5 jenis dolanan anak yang dimainkan oleh seluruh peserta didik, diantaranya untuk anak pra-TK, ada jamuran dan cublek-cublek suweng, sedangkan untuk anak TK ada engklek, bekelan dan congklak.

“Kita ingin mengenalkan permainan tradisional kepada anak, karena saat ini, anak-anak nyaman dengan handphone-nya, sehingga kita berupaya mengurangi pemakaian handphone oleh anak. Kemudian juga membangun karakter anak dengan pitutur luhur, seperti mengucapkan matur nuwun (terima kasih), nderek langkung (mohon izin jalan) dan sebagainya,” ungkapnya.

Pemilihan dolanan anak tersebut dijelaskan untuk membangun sosial emosi anak dari kecil. Anak diajarkan untuk saling berkolaborasi, bermain bergantian sampai dengan membangun percakapan. Banyak kasus anak dengan speach delay, karena terlalu banyak mengkonsumsi tayangan, baik lewat gawai, maupun televisi.

“Seperti engklek ini, kan motorik kasar dan motorik halus masuk semua. Ada juga kognitif dengan angka-angka di sini, ada warna-warna juga. Makanya, kami buat gambarnya seperti ini, sehingga dari satu permainan saja, bisa menggali berbagai macam aspek,” pungkas Irma. (Chy;Ekp)

Editor: Arafandy
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!