Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5

Honggie, Tanpa Ijazah SMP Jadi Kepala Cabang pada 1975

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
4 Min Read
Karikatur Honggie tanpa ijazah

HEADLINNEWS.IDHonggie, yang tidak memiliki ijazah SMP setelah ditahan polisi pada 1966, kemudian menjadi kepala cabang perusahaan distributor obat pada 1975. Kisah itu dituturkan Purnawan EA yang mengaku satu sekolah dengan Honggie sejak SD hingga SMP.

Honggie merupakan teman Purnawan sejak masa sekolah. Pada 1966, rumah keluarganya di kawasan Candi, Semarang, dibakar demonstran setelah keluarga tersebut memperkenankan ranting PKI Lempong Sari memasang papan nama di halaman rumah.

Peristiwa itu membuat pakaian dan buku pelajaran Honggie habis terbakar. Ayahnya ditahan, sementara Honggie dan saudara-saudaranya harus berpencar dan tinggal bersama keluarga lain.

Saat duduk di kelas 3 SMP, Honggie juga ditahan polisi setelah dikaitkan dengan kasus bocoran soal ujian negara. Menurut kisah Purnawan, Honggie saat itu hanya ikut mengantar Kian Tjwan, teman yang membantunya secara finansial, dalam transaksi soal ujian.

Kasus bocoran ujian SMP 1966 kemudian diungkap polisi. Honggie ditahan, sedangkan menurut kisah tersebut, Kian Tjwan tidak ikut ditahan.

Selama ditahan, Honggie disebut tidak ditempatkan di ruang tahanan. Ia justru mendapat makanan dan pakaian serta tidur di ruang kantor salah satu staf kepolisian, yakni Pak Seno.

Purnawan menuturkan Honggie kemudian kehilangan kesempatan memperoleh ijazah SMP. Satu-satunya bukti yang masih disimpannya terkait pendidikan tersebut adalah kuitansi pembayaran uang ujian SMP.

Kehilangan ijazah tidak menghentikan Honggie bekerja. Pada 1975, Purnawan yang sedang menjalani kerja praktik di kantor cabang Dos Ni Roha mendapati Honggie telah menjadi kepala cabang perusahaan tersebut.

Karier Honggie bermula dari pekerjaan sebagai sopir mobil kanvas. Ia sebelumnya melamar sebagai salesman, tetapi tidak diterima. Setelah menjadi sopir, ia kemudian mendapat kesempatan menjalankan pekerjaan sebagai sopir sekaligus salesman.

Menurut Purnawan, kinerja Honggie dalam posisi tersebut menjadi yang paling unggul secara nasional. Ia kemudian mengikuti kursus di LPPM dan naik menjadi kepala cabang.

Honggie juga dikenal Purnawan sebagai pekerja yang tidak membatasi dirinya pada jam kerja. Ketika diajak membicarakan pekerjaan, ia disebut sering mengatakan, “Timbang nganggur neng omah, An,” yang berarti daripada menganggur di rumah.

Pada suatu sore ketika Purnawan berada di kantor cabang, seorang lelaki bernama Pak Seno datang menemui Honggie. Honggie menyambutnya dan menyiapkan ruang kerja untuk lelaki tersebut.

Honggie kemudian menjelaskan kepada Purnawan bahwa Pak Seno merupakan polisi yang pernah membantunya ketika ditahan pada 1966. Menurut penuturan Honggie, Pak Seno memberinya makan dan mengizinkannya tidur di ruang kantor.

Pak Seno kemudian dipindahkan dan dipecat setelah atasannya mengetahui ia membantu Honggie yang saat itu disebut sebagai anak PKI. Bertahun-tahun kemudian, Honggie mengatakan kepada Purnawan bahwa ia tidak melupakan bantuan tersebut dan telah lama mencari Pak Seno.

Purnawan menulis kisah tersebut di Jakarta pada 27 Juni 2026. Dalam tulisannya, ia menggambarkan perjalanan Honggie dari seorang pelajar yang kehilangan rumah dan ijazah hingga menjadi kepala cabang perusahaan pada 1975.

Berdasarkan sumber, perjalanan Honggie memperlihatkan perubahan kondisi hidup yang berlangsung setelah rumah keluarganya dibakar pada 1966 dan ia kehilangan kesempatan memperoleh ijazah SMP. Sumber juga mencatat bahwa kariernya kemudian berkembang dari sopir mobil kanvas, merangkap salesman, hingga kepala cabang pada 1975.

Kisah tersebut juga menempatkan bantuan Pak Seno sebagai bagian penting dalam perjalanan Honggie. Menurut sumber, Honggie kemudian mencari kembali Pak Seno dan menerimanya ketika lelaki itu datang ke kantornya.

Editor: Michael Ivan
Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!