HEADLINNEWS.ID – Temanggung, Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Temanggung menggelar program unggulan bertajuk “Sapa Anak” yang dirangkaikan dengan Festival Dolanan Anak. Kegiatan ini digelar guna mengenalkan kembali berbagai permainan tradisional yang mulai dilupakan oleh anak-anak di era modern.
Ketua TP PKK Kabupaten Temanggung, Panca Dewi Agus Setyawan, menyampaikan bahwa agenda Sapa Anak dirancang untuk mengajak anak-anak bergerak dan bermain secara langsung di lapangan bersama para pendamping dan pengurus organisasi.
“Melalui program Sapa Anak ini, TP PKK Kabupaten Temanggung ingin mengenalkan kembali permainan anak zaman dulu yang sekarang sudah jarang dikenal. Kita bermain bersama seperti jamuran, cublak-cublak suweng, dakon, hingga sundamanda atau engkling,” ujar Panca Dewi di Gedung eks-Kawedanan Parakan Kamis (30/07/2026)
Selain diajak memainkan permainan tradisional, anak-anak juga mendapatkan sesi edukasi langkah-langkah penyelamatan kejadian yang membahayakan manusia, dengan melibatkan Satpol PP dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Temanggung.
Panca Dewi menekankan, pentingnya pembentukan karakter dan penanaman etika dasar sejak dini di sekolah, maupun di rumah. Ia mengimbau, para tenaga pendidik dan orang tua untuk terus membiasakan anak-anak mempraktikkan tiga kata kunci dasar dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya berharap, setiap pagi anak-anak terus dibiasakan agar terbentuk karakter dan akhlak yang mulia. Tiga kata penting, yaitu terima kasih, minta tolong, dan minta maaf harus selalu melekat di hati dan pikiran anak-anak kita,” tuturnya.
Acara yang turut dihadiri oleh jajaran Himpaudi, IGTKI, serta para guru pendamping ini diawali dengan senam bersama. Panca Dewi berharap, kegiatan Sapa Anak tidak hanya menjadi wadah hiburan, tetapi juga memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak di Kabupaten Temanggung.
Romyati, salah satu guru dari RA Al-Mujahidin Mojotengah, mengungkapkan apresiasinya terhadap kegiatan pelestarian budaya ini. Menurutnya, anak-anak terlihat sangat antusias, meskipun mayoritas dari mereka asing dengan aturan main dolanan tradisional tersebut.
“Kesan dari teman-teman dan anak-anak sangat baik. Permainan zaman dulu seperti ini sebetulnya masih kami ingat, tapi anak-anak sekarang sudah banyak yang tidak bisa memainkannya,” ujar Romyati usai mendampingi siswanya.
Ia berharap, kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan terus dikembangkan dan dikemas secara menarik agar disukai oleh generasi muda.
“Harapannya ke depan permainan tradisional zaman dulu bisa terus dikembangkan dan dibuat lebih menarik lagi untuk anak-anak, sehingga mereka bisa terus mengenalnya,” pungkasnya. (Tfa;EKp

