Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5

Hari Anak Nasional 2026, Anak Binaan LPKA Kutoarjo Sampaikan Aspirasi untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Achmad Luthfi Khakim
By - Achmad Luthfi Khakim
5 Min Read

HEADLINNEWS.IDPURWOREJO – Suara anak menjadi pesan utama dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang digelar di Rumah Makan ABK Purworejo, Rabu (29/7/2026). Melalui tema “Dari Suara Anak Menuju Komitmen Bersama Mewujudkan Lingkungan yang Aman, Nyaman, dan Ramah Anak”, anak-anak binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Kutoarjo diberi kesempatan menyampaikan harapan dan aspirasinya kepada pemerintah serta berbagai pemangku kepentingan.

Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Pemerintah Kabupaten Purworejo, PKBI Jawa Tengah, LPKA Kelas I Kutoarjo, serta sejumlah lembaga yang bergerak di bidang perlindungan anak.

Direktur Eksekutif Daerah PKBI Jawa Tengah, Elizabeth S.A. Widyastuti, mengatakan anak yang sedang menjalani pembinaan di LPKA tetap memiliki hak untuk didengar. Menurutnya, meski kebebasan mereka dibatasi karena menjalani proses hukum, hak-hak lain, termasuk hak berpartisipasi, harus tetap dipenuhi.

“Kami ingin anak-anak di LPKA dapat menyampaikan kebutuhan dan aspirasinya. Dari suara mereka inilah diharapkan lahir komitmen bersama antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh stakeholder untuk memenuhi hak-hak anak,” ujarnya.

Elizabeth mengungkapkan bahwa sebagian besar anak yang menjalani pembinaan di LPKA Kelas I Kutoarjo tersangkut perkara asusila. Dari total 76 anak binaan, kasus yang mendominasi berkaitan dengan kekerasan seksual maupun hubungan seksual yang melibatkan anak.

Ia menilai persoalan yang dihadapi anak saat ini semakin kompleks. Selain kekerasan seksual, masih banyak ditemukan perkawinan usia anak, kehamilan yang tidak direncanakan, hingga berbagai bentuk kekerasan yang kini berkembang melalui media digital.

“Perkembangan teknologi membuat anak semakin rentan. Kekerasan tidak lagi terjadi secara langsung, tetapi juga melalui ruang digital yang jangkauannya jauh lebih luas,” katanya.

Menurut Elizabeth, tren kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menunjukkan peningkatan. Meski demikian, ia menyarankan masyarakat melihat data resmi melalui Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA).

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang kesehatan reproduksi dan perlindungan anak, PKBI Jawa Tengah memiliki Youth Center PILAR yang menyediakan layanan konseling, pendampingan kasus, pelayanan kesehatan, hingga bantuan hukum melalui kerja sama dengan berbagai lembaga.

Ia menegaskan, kehadiran PKBI dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen mewujudkan pembangunan yang inklusif.

“Anak-anak di LPKA tidak boleh ditinggalkan. Mereka tetap berhak mendapatkan perhatian, pendampingan, dan kesempatan untuk berkembang agar dapat kembali menjadi bagian dari masyarakat,” tuturnya.

Elizabeth juga mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam mencegah kekerasan terhadap anak. Menurutnya, setiap orang tua harus terus belajar agar mampu menjadi pendamping yang baik bagi anak-anaknya.

Selain itu, ia menilai penggunaan gadget tidak dapat dihindari di era digital. Karena itu, orang tua diharapkan lebih mengedepankan pendampingan daripada sekadar melarang penggunaan gawai.

“Kita perlu membangun ketahanan anak dari dalam. Orang tua harus hadir mendampingi, sementara pemerintah juga perlu memperkuat regulasi untuk melindungi anak dari dampak negatif dunia digital,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas sejak usia dini sebagai langkah pencegahan berbagai persoalan yang melibatkan anak dan remaja.

Sementara itu, Kepala DPPPAPMD Kabupaten Purworejo, Laksana Sakti, A.P., M.Si., mengatakan Pemerintah Kabupaten Purworejo terus memperkuat perlindungan anak melalui berbagai regulasi dan program.

Menurutnya, Purworejo telah memiliki Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Perlindungan Perempuan dan Anak, Peraturan Daerah tentang Kabupaten Layak Anak, serta Peraturan Bupati Nomor 1 Tahun 2023 tentang Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak.

Selain regulasi, berbagai upaya pencegahan juga dilakukan melalui sosialisasi di sekolah maupun organisasi kemasyarakatan.

“Kami berharap suara anak yang disampaikan dalam peringatan Hari Anak Nasional ini menjadi masukan bagi pemerintah dan seluruh pihak untuk terus memperkuat perlindungan anak, sehingga mereka dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan ramah anak,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, para peserta berharap Hari Anak Nasional tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum memperkuat komitmen bersama dalam memenuhi hak-hak anak tanpa terkecuali, termasuk bagi anak-anak yang sedang menjalani pembinaan di LPKA.

Editor: Achmad Luthfi Khakim
TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!