HEADLINNEWS.ID – JAKARTA, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada awal perdagangan Senin (6/7/2026). Berdasarkan data pasar spot, rupiah turun 29 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp17.992 per dolar AS, sehingga semakin dekat dengan level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Pelemahan tersebut dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Dari faktor eksternal, pelaku pasar menunggu publikasi risalah rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Di saat yang sama, data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payroll) Juni yang mencatat penambahan 57 ribu tenaga kerja, lebih rendah dari proyeksi pasar sebesar 110 ribu, turut meningkatkan ketidakpastian pergerakan modal di pasar negara berkembang.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap mata uang rupiah diperbesar oleh kekhawatiran atas perlambatan penerimaan pajak penghasilan nasional. Investor juga memilih menunggu rilis cadangan devisa terbaru dari Bank Indonesia di tengah risiko defisit neraca perdagangan yang masih membayangi.
Tekanan terhadap nilai tukar tidak hanya terjadi di Indonesia. Mayoritas mata uang utama di kawasan Asia juga bergerak melemah pada perdagangan pagi ini seiring menguatnya dolar AS.
Kurs Dolar AS di Sejumlah Bank
Sejumlah bank nasional turut memperbarui kurs transaksi dolar AS pada Senin pagi. BCA melalui layanan e-rate menetapkan kurs beli sebesar Rp17.990 dan kurs jual Rp18.010. Sementara itu, Bank Mandiri mematok kurs beli Rp17.885 dengan kurs jual Rp18.035.
Di bank lain, BRI menetapkan kurs beli dolar AS di level Rp17.910 dan kurs jual Rp17.995. Adapun BNI memasang kurs beli Rp17.925 serta kurs jual Rp17.990.
Kurs transaksi di masing-masing bank tersebut dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan pasar spot.
Pelemahan rupiah diperkirakan meningkatkan biaya impor bahan baku, terutama bagi sektor manufaktur dan industri yang masih bergantung pada pasokan dari luar negeri. Para ekonom dalam data sumber juga merekomendasikan pelaku usaha yang memiliki eksposur impor untuk menerapkan strategi lindung nilai (hedging) guna menjaga kepastian kurs dan mengurangi potensi risiko operasional pada kuartal III tahun ini.
Penantian pasar selanjutnya tertuju pada publikasi risalah rapat kebijakan moneter The Fed serta rilis cadangan devisa terbaru dari Bank Indonesia yang diharapkan menjadi acuan pergerakan pasar berikutnya.
Posisi rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS menunjukkan tekanan masih berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik sebagaimana disebutkan dalam data sumber. Apabila kondisi tersebut berlanjut, pelaku usaha yang bergantung pada impor berpotensi menghadapi kenaikan biaya bahan baku. Karena itu, rekomendasi penggunaan strategi lindung nilai menjadi langkah mitigasi yang disorot dalam data sumber untuk mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.

