Mohammad Saleh Ajak Mahasiswa Perkuat Nalar Kritis Hadapi Banjir Informasi Digital

Saleh berpesan agar sikap kritis selalu diiringi etika dan adab dalam menyampaikan pendapat maupun menyikapi perbedaan.

Ria Diana
By
Ria Diana
Penyuka sushi dan semua tentang Jepang.
3 Min Read

HEADLINNEWS.ID – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Mohammad Saleh mengingatkan pentingnya membangun nalar kritis di kalangan mahasiswa agar mampu menyaring informasi yang beredar di era digital. Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi bekal utama untuk menghadapi maraknya hoaks, konten manipulatif, hingga teknologi deepfake.

Pesan itu disampaikan Saleh saat menjadi pembicara dalam kegiatan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM) bertajuk “Manifesto Nalar Kritis; Kepemimpinan Mahasiswa Berbasis Aswaja dalam Menavigasi Krisis Geopolitik dan Disrupsi Global” yang digelar di Auditorium Fakultas Kedokteran Kampus II Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Sabtu (27/6/2026).

Dalam paparannya, Saleh menilai mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kelompok intelektual yang sejak dahulu menjadi motor perubahan bangsa. Karena itu, ia berharap generasi muda tidak hanya menjadi pengguna media digital, tetapi juga mampu mengkritisi setiap informasi yang diterima.

“Pemuda dan mahasiswa selalu menginisiasi perubahan dalam setiap perjalanan sejarah bangsa melalui nalar kritisnya yang dimanifestasikan, dinyatakan, dan diwujudkan dalam perjuangan,” ujar Saleh.

Ketua DPD Partai Golkar Jawa Tengah itu mengatakan derasnya arus informasi saat ini menuntut mahasiswa memiliki kemampuan literasi digital yang baik. Informasi yang beredar di media sosial, menurutnya, tidak bisa langsung dipercaya tanpa melalui proses verifikasi.

Ia menegaskan mahasiswa harus berani menguji kebenaran sebuah informasi, memahami konteksnya, hingga menelaah tujuan di balik penyebarannya. Dengan cara tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen literasi yang memberikan edukasi kepada masyarakat.

“Di tengah banjir informasi dan konten saat ini, gerakan mahasiswa adalah harapan. Mahasiswa harus menjadi pelopor untuk menyadarkan semua orang agar tidak menerima informasi secara mentah-mentah, bahkan harus berani mempertanyakan status quo demi keadilan sosial,” katanya.

Saleh juga mengingatkan agar mahasiswa tidak mudah terpengaruh oleh perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), deepfake, maupun berbagai konten yang sengaja dibentuk untuk menggiring opini publik.

Menurutnya, kemampuan berpikir kritis harus dibangun melalui kebiasaan memeriksa sumber informasi, memahami latar belakang sebuah konten, serta menilai motif pihak yang menyebarkannya.

“Jangan hanya menjadi konsumen informasi. Bangun daya tahan terhadap pengaruh konten digital dengan membiasakan berpikir kritis dan melakukan tabayyun sebelum mempercayai maupun menyebarkan informasi,” tegasnya.

Kepada mahasiswa Unwahas yang berlandaskan nilai Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja), Saleh berpesan agar sikap kritis selalu diiringi etika dan adab dalam menyampaikan pendapat maupun menyikapi perbedaan.

“Kalau nalar kritis Barat meragukan semua hal, nalar kritis Aswaja meragukan semua hal secara beradab. Boleh curiga, tetapi tetap santun,” pungkasnya.

Share This Article
Follow:
Penyuka sushi dan semua tentang Jepang.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *