HEADLINNEWS.ID – Jakarta, Harga emas bergerak dalam tekanan setelah gagal mempertahankan area kenaikan di atas US$4.150-US$4.200. Logam mulia berada di sekitar level US$4.126 karena pelaku pasar mulai mengurangi posisi beli akibat perubahan sentimen dari faktor geopolitik menuju kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Analis pasar Luqman Hqeem menyebut emas saat ini memasuki fase tekanan setelah momentum bullish melemah. Menurutnya, pergerakan harga menunjukkan adanya tekanan jual di area tinggi setelah emas gagal bertahan di zona US$4.150 hingga US$4.200.
“Gold saat ini berada di fase yang cukup tidak nyaman bagi bullish momentum. Harga bertahan di sekitar US$4.126 setelah sebelumnya gagal mempertahankan area di atas US$4.150-US$4.200,” ujar Luqman dalam analisis pasar yang diterima headlinnews.id.
Tekanan terhadap emas meningkat setelah perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran mulai mengurangi permintaan aset lindung nilai. Kemajuan pembicaraan kedua negara serta izin 60 hari bagi Iran untuk kembali mengekspor minyak memunculkan ekspektasi pasokan energi global akan meningkat.
Kondisi tersebut membuat risiko inflasi akibat harga energi berpotensi menurun. Situasi ini mengurangi salah satu faktor yang sebelumnya mendukung penguatan harga emas.
Dari pasar keuangan AS, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun berada di level 4,501 persen. Sementara indeks dolar AS atau DXY tercatat di sekitar 101,6.
Kenaikan yield obligasi dan penguatan dolar menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil dan diperdagangkan menggunakan denominasi dolar AS.
Luqman menjelaskan sentimen pasar juga dipengaruhi ekspektasi kebijakan Federal Reserve. Sejumlah bank besar mulai memperhitungkan kemungkinan perubahan kebijakan suku bunga The Fed pada September dengan pendekatan yang lebih ketat.
Pasar kini menunggu rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat. Data tersebut menjadi indikator inflasi yang banyak diperhatikan Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneter berikutnya.
Menurut Luqman, emas saat ini mengalami perubahan pola penilaian pasar dari aset berbasis risiko geopolitik menuju aset yang lebih dipengaruhi oleh arah suku bunga.
“Emas bukan sedang jatuh bebas, tetapi sedang melakukan penyesuaian dari geopolitical premium ke rate-driven pricing model,” kata Luqman.
Untuk strategi perdagangan, Luqman memperkirakan area jual berada pada kisaran US$4.145-US$4.160 dengan target penurunan menuju US$4.110 hingga US$4.085. Batas risiko kerugian atau stop loss ditempatkan pada level US$4.180.
Skenario alternatif muncul apabila harga emas mampu bertahan dan tidak menembus bawah US$4.120. Dalam kondisi tersebut, peluang beli berada pada kisaran US$4.120-US$4.130 dengan target US$4.150 hingga US$4.170 dan batas risiko US$4.105.
Pergerakan emas saat ini sangat bergantung pada dua faktor utama, yaitu arah dolar AS dan data inflasi Amerika Serikat. Jika yield obligasi tetap tinggi dan The Fed mempertahankan sikap ketat, tekanan terhadap emas berpotensi berlanjut.
Sebaliknya, pelemahan data inflasi dapat membuka ruang penurunan yield dan kembali meningkatkan minat terhadap emas. Pasar masih menunggu kepastian dari data PCE sebagai pemicu arah harga berikutnya.

