Sambut 1 Suro dan Tahun Baru Islam, Warga Lintas Agama di Gardu 21 Kemanukan Bersatu dalam Kerja Bakti dan Doa Bersama

Melalui kerja bakti dan doa lintas agama tersebut, warga Gardu 21 kembali membuktikan bahwa toleransi tidak hanya menjadi slogan, tetapi hadir dalam tindakan nyata sehari-hari.

Achmad Luthfi Khakim
4 Min Read

HEADLINNEWS.ID – Pemandangan penuh kebersamaan terlihat di lingkungan RT 2 RW 1 Desa Kemanukan, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Selasa (16/6/2026).

Di tengah keberagaman keyakinan yang hidup berdampingan selama bertahun-tahun, warga Komplek Gardu 21 bergotong royong membersihkan lingkungan sekaligus menggelar doa bersama dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah yang bertepatan dengan 1 Suro dalam kalender Jawa.

Sejak matahari mulai meninggi, suara sapu yang menyisir jalan kampung, cangkul yang membersihkan selokan, hingga tawa anak-anak yang ikut membantu menciptakan suasana hangat penuh kekeluargaan. Tidak ada sekat usia maupun perbedaan agama. Semua larut dalam satu tujuan, menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mempererat tali persaudaraan.

Bagi warga Gardu 21, pergantian tahun bukan sekadar pergantian angka dalam penanggalan. Momentum tersebut menjadi pengingat untuk memperbaiki diri, memperkuat hubungan sosial, serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Lingkungan yang dikenal dengan slogan “Guyub Rukun dalam Keberagaman” itu memang telah lama menjadi contoh kehidupan masyarakat yang harmonis. Warga dengan latar belakang Islam, Katolik, Buddha, dan keyakinan lainnya hidup berdampingan dengan saling menghormati dan mendukung satu sama lain.

Sugiyatno, salah satu warga setempat, mengatakan bahwa kegiatan gotong royong lintas agama telah menjadi budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Gardu 21.

“Kerja bakti seperti ini sudah sering kami lakukan menjelang hari-hari besar keagamaan, baik Idulfitri, Natal maupun Waisak. Tujuannya bukan hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga memperkuat hubungan persaudaraan antarwarga,” ujarnya.

Kerja bakti diawali sejak pukul 06.00 WIB dengan membersihkan halaman rumah masing-masing. Setelah itu, pada pukul 08.00 WIB warga berkumpul dan bergerak bersama membersihkan jalan lingkungan menuju Gardu 21.

Pembagian tugas dilakukan secara sederhana namun efektif. Kaum laki-laki menangani pekerjaan yang membutuhkan tenaga lebih besar, sementara perempuan membersihkan area yang lebih ringan. Anak-anak juga dilibatkan agar sejak dini memahami pentingnya menjaga kebersihan dan kebersamaan.

“Anak-anak kami ajak terlibat sesuai kemampuan mereka. Selain membantu membersihkan lingkungan, ini juga menjadi pembelajaran tentang tanggung jawab dan kepedulian sosial,” kata Sugiyatno.

Setelah seluruh area selesai dibersihkan, warga berkumpul di sekitar Gardu 21. Di tempat sederhana yang menjadi pusat aktivitas warga itu, sesepuh kampung, Paiman, memberikan petuah tentang nilai-nilai budaya Jawa yang sarat makna kehidupan.

Dalam penyampaiannya, ia mengingatkan pentingnya menjaga tata krama, menghormati sesama, serta memaknai perjalanan hidup sebagaimana diajarkan dalam tembang-tembang macapat.

“Tembang macapat mengajarkan perjalanan hidup manusia dari lahir hingga akhir hayat. Banyak nilai kehidupan yang masih sangat relevan untuk kita jalankan sampai sekarang,” tutur Paiman.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang menjadi simbol nyata kerukunan warga. Doa dipanjatkan secara bergantian sesuai keyakinan masing-masing. Paiman memimpin doa secara Islam, Antonius Parmin membawakan doa Katolik, dan Gatot Didit Widiyantoro memimpin doa Buddha.

Ketua RT 2 RW 1 Desa Kemanukan, Antonius Parmin, menegaskan bahwa kebersamaan merupakan modal utama dalam menjaga keharmonisan lingkungan.

Menurutnya, tradisi kerja bakti dan doa bersama setiap momentum penting akan terus dilestarikan sebagai warisan sosial bagi generasi muda.

“Kami ingin anak-anak melihat langsung bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh. Justru dengan saling menghormati dan bekerja bersama, lingkungan menjadi lebih kuat dan harmonis,” ujarnya.

Melalui kerja bakti dan doa lintas agama tersebut, warga Gardu 21 kembali membuktikan bahwa toleransi tidak hanya menjadi slogan, tetapi hadir dalam tindakan nyata sehari-hari. Di tengah keberagaman, mereka terus merawat persaudaraan, menjaga tradisi gotong royong, dan menebarkan pesan bahwa kerukunan adalah kekuatan yang harus diwariskan dari generasi ke generasi.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!