HEADLINNEWS.ID – Di balik kesederhanaan sebuah wadah dari pelepah pisang, tersimpan pesan kehidupan yang dalam. Itulah ceketong.
Bukan sekadar pembungkus nasi, melainkan sebuah filosofi hidup yang diwariskan Sunan Kalijaga kepada umat lintas generasi.
Ceketong selalu hadir dalam setiap rangkaian prosesi penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga yang digelar di Demak. Kehadirannya bukan kebetulan.
Wadah sederhana berbahan pelepah pisang ini dipilih dengan penuh kesadaran oleh sang wali sebagai medium penyampaian ajaran, sesuai dengan cara Sunan Kalijaga yang dikenal piawai membumikan nilai-nilai luhur melalui simbol dan benda-benda yang dekat dengan kehidupan rakyat.

Penjamasan bukan sekadar tradisi turun-temurun. Prosesi ini dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dan jiwa dari sifat-sifat buruk, sebuah introspeksi batin yang idealnya dilakukan setidaknya sekali dalam setahun.
Dalam konteks inilah ceketong hadir sebagai pelengkap yang justru menjadi puncak pesan moral dari seluruh rangkaian acara.
Setelah prosesi penjamasan selesai, nasi selamatan dibungkus menggunakan ceketong dan dibagikan kepada para hadirin.
Momen berbagi ini bukan sekadar tradisi makan bersama, melainkan sebuah pengingat simbolis, bahwa seperti pelepah pisang yang lentur dan terbuka, manusia pun hendaknya tidak kaku dan tertutup, melainkan selalu bersedia menerima kebenaran dan membuka diri untuk terus berbenah.

Bentuk ceketong yang terbuka dan tidak terikat kuat menyiratkan pesan agar manusia tidak terpenjara oleh ego dan kesombongan.
Sunan Kalijaga seolah ingin mengingatkan bahwa kebesaran sejati bukan terletak pada kemewahan, melainkan pada kerendahan hati dan kemauan untuk selalu memperbaiki diri.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, Endah Cahya Rini, menegaskan bahwa setiap warisan Sunan Kalijaga menyimpan nilai pendidikan karakter yang masih sangat relevan di era modern ini.
“Keberadaan ceketong mengajarkan pentingnya introspeksi dan perbaikan diri. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya perlu terus dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari kekayaan budaya Demak,” ujarnya.
Di tengah arus modernisasi yang kerap menggeser tradisi, ceketong berdiri sebagai bukti bahwa kearifan lokal mampu melampaui zaman.
Bukan karena bentuknya yang megah, justru karena kesederhanaannya yang jujur, ceketong terus berbicara kepada siapa saja yang mau mendengar.
Warisan Sunan Kalijaga ini menjadi pengingat bahwa pesan moral yang paling kuat seringkali datang bukan dari istana atau mimbar, melainkan dari selembar pelepah pisang yang dengan tulus membungkus nasi dan membagikan kebijaksanaan kepada semua orang, tanpa memandang siapa mereka.

