Oleh: DR Sariat Arifia
Ketegangan geopolitik yang semakin tidak jelas ujungnya antara Amerika Serikat dan Iran, bukan hanya sekedar soal kemampuan senjata perang, tapi juga manipulasi informasi yang sengaja di tiup dengan riuh.
Netizen senantiasa disuguhi berbagai narasi politik yang tumpang tindih. Situasi ini memuncak terutama ketika tokoh panggung dunia seperti Donald Trump dengan leluasa memproduksi begitu banyak distorsi informasi.
Dalam kondisi di mana kebohongan dipoles sedemikian rupa lewat media massa menjadi seolah sebuah kebenaran mutlak, ingatan saya melayang pada diskusi di ruang kelas bersama Prof. Fokky Fuad dalam kelas filsafat. Salah satu tokoh favoritnya adalah seorang tokoh besar peradaban yang memiliki pandangan tajam tentang esensi kebenaran sejati yaitu Shihabuddin Yahya as-Suhrawardi.
Sang Syaikh al-Isyraq ini mengajarkan bagaimana membedakan cahaya kebenaran murni dari kepalsuan retorika yang menyilaukan mata.
​Bagi Suhrawardi kebenaran bukanlah sebuah monopoli yang hanya dimiliki oleh satu peradaban bangsa atau satu rentang sejarah saja. Ia meyakini betul keberadaan sebuah kebijaksanaan abadi atau al-Hikmah al-Khalidah yang terus mengalir melintasi batas zaman dan geografi. Pemikiran briliannya yang dituangkan dalam tulisannya mampu merangkum dan menyatukan tiga mata air peradaban besar dunia menjadi satu aliran kesadaran yang utuh.
Pertama ia mengangkat kembali kearifan bangsa Persia kuno yang dikenal dengan sebutan hikmah Khosrawani dan dengan penuh keberanian membersihkannya dari tuduhan penyimpangan dualisme Zoroastrian ortodoks.
Suhrawardi meyakinkan publik bahwa para resi agung Persia di masa lampau seperti Jamas dan Bozorgmehr sejatinya adalah para penganut tauhid murni. Mereka menyembah Tuhan Yang Maha Esa melalui perantaraan luhur simbolisme cahaya yang suci.
​Ke dua, pandangan universal Suhrawardi juga melihat pancaran cahaya kebenaran yang persis sama dalam tradisi filsafat Yunani kuno. Ia merengkuh warisan intelektual tersebut khususnya melalui pengakuan atas pengalaman mistik para pemikir besar semacam Plato dan Pythagoras sebagai bagian dari silsilah tak terputus pencarian makna kebenaran. Perlu dipahami secara saksama bahwa sosok Plato yang dikenal dan dikembangkan oleh dunia Islam klasik sangatlah berbeda dengan versi Plato yang direkonstruksi oleh dunia Barat modern. Jika Barat membedah Plato murni sebagai bapak rasionalisme sekuler dan ahli logika, peradaban Islam justru mengenalnya dengan gelar agung Aflatun al-Ilahi atau Plato yang Ilahiah. Sang resi mistik ini dipandang memadukan ketajaman nalar dengan kemurnian wahyu batin.
Ke tiga, sebagai landasan paling kokoh dari seluruh bangunan pemikirannya, Suhrawardi membingkai seluruh kosmologi cahaya antar peradaban tersebut secara ketat di bawah naungan tauhid Islam. Puncak dari segala sumber kebaikan di alam semesta ini ia sebut sebagai Nur al-Anwar yakni Cahaya Segala Cahaya yang tidak lain adalah Allah Sang Maha Pencipta.
Berangkat dari pandangan ini, Suhrawardi kemudian melahirkan sebuah pandangan yang sangat revolusioner tentang makna kepemimpinan sejati. Suhrawardi dengan sangat elegan mengubah rumusan konsep politik monarki kuno menjadi sebuah gagasan mistik yang memiliki bobot moral luar biasa.
Dalam kebudayaan tata negara masa lalu Persia (bahkan di Asia, Eropa sama juga bahkan di tatar sunda) terdapat sebuah dogma politik mengenai Kharreh-ye Kiyani beserta kilauan Farreh yakni pancaran cahaya kejayaan ilahi yang diyakini turun secara eksklusif hanya kepada para raja. Cahaya kemuliaan ini berfungsi untuk memberikan mereka keabsahan kekuasaan dan kewibawaan yang tidak tertandingi untuk memerintah rakyat di bumi.
​Di tangan dingin sang Syaikh, hak istimewa yang sangat bertumpu pada keturunan darah biru kerajaan itu dihapuskan secara radikal lalu dispiritualisasikan. Cahaya kejayaan tersebut kini dapat dianugerahkan kepada siapa saja di muka bumi ini tanpa memandang kelas sosial. Syarat utamanya hanyalah sejauh mana individu tersebut mampu menguasai pilar kebijaksanaan dan dengan tulus mendedikasikan hidupnya untuk mensucikan jiwa dari nafsu duniawi.
Seorang filsuf paripurna atau Hakim Mutallah yang berhasil memadukan ketajaman rasionalitas intelektual dengan kelembutan pengalaman mistik batiniah akan mengalami evolusi diri. Manusia seperti ini akan bangkit menjadi Ra’is Thabi’i atau pemimpin alami bagi alam semesta secara utuh.
Sosok pencerah semacam inilah yang di kemudian hari dalam tradisi spiritual luhur Islam kerap dijuluki sebagai Qutb sang poros keseimbangan kehidupan.
​Pencapaian menuju tingkat kepemimpinan spiritual tertinggi ini tentu saja mensyaratkan sebuah jalan pencarian kebenaran yang sama sekali tidak biasa. Melalui perenungan panjangnya yang melahirkan mahakarya monumental berjudul Hikmat al-Ishraq, Suhrawardi melontarkan kritik tajam sekaligus konstruktif terhadap aliran filsafat rasionalis murni yang sebelumnya sangat mendominasi dunia akademik. Ia menggugat tradisi rasionalisme Aristotelian peninggalan Ibnu Sina yang dinilai terlalu mengagungkan kekuatan logika deduktif murni semata. Suhrawardi berpendapat dengan sangat meyakinkan bahwa kebenaran sejati tidak akan pernah bisa ditangkap secara utuh jika umat manusia hanya mengandalkan silogisme logika dan kecerdasan otak. Menjadi seorang pemikir sejati menuntut lebih dari sekadar kepintaran merangkai argumen. Akal budi memang merupakan anugerah yang harus terus diasah namun pada saat yang bersamaan tabir batin yang menutupi hati nurani juga harus senantiasa disingkap.
Tanpa adanya proses penyingkapan batin yang menerangi sanubari, rasionalitas manusia yang paling hebat sekalipun akan dengan sangat mudah tersesat dalam labirin kesombongannya sendiri.
​Menyadari prinsip kepemimpinan murni dan ketatnya syarat pencarian kebenaran ala kitab Hikmat al-Ishraq ini, kita selayaknya tersadar untuk tidak lagi mudah terpedaya oleh para pemimpin di era jaman edan versi Rangga Warsito. Begitu banyak yang tampil di atas podium internasional berteriak lantang seolah menyuarakan kebenaran sejati demi membela kepentingan rakyat yang tertindas. Padahal di balik layar tangan kekuasaan mereka berlumuran kebohongan keji yang justru membunuh denyut nadi kebenaran itu sendiri. Kepintaran merangkai retorika politik di depan media massa tanpa dilandasi oleh kesucian jiwa sejatinya hanyalah sebuah bentuk manipulasi massal tingkat tinggi.
Kenyataan pahit ini terpampang telanjang di hadapan kita tatkala menyaksikan tragedi pembantaian di tanah Palestina. Berbagai laporan resmi dari Perserikatan Bangsa Bangsa telah secara gamblang mendokumentasikan kebiadaban rezim Benjamin Netanyahu yang meratakan Gaza membunuh puluhan ribu warga sipil tak berdosa menjadikan kelaparan sebagai senjata serta menghancurkan fasilitas medis dan tempat berlindung.
Tragedi ini semakin diperparah oleh rentetan kebohongan Donald Trump yang secara terang-terangan memutarbalikkan fakta demi membenarkan pertumpahan darah tersebut.
Trump bermanuver memanipulasi narasi perang dengan judul ilusi Board of Peace. Dia menutupi kekejaman sekutunya dan menyajikan ilusi keadilan di atas penderitaan rakyat Palestina. Kebiadaban kemanusiaan yang mereka orkestrasikan ini secara telak membuka kedok kepalsuan moral mereka.
Jika kita menimbang sosok seperti Netanyahu dan Trump beserta kelompok pendukungnya yang sering kali mengklaim bertindak atas nama takdir suci Tuhan atau pembela nilai peradaban bebas dengan menggunakan pisau analisis Suhrawardi maka klaim spiritualitas mereka adalah sebuah kebohongan mutlak.
Mereka sama sekali tidak tersentuh oleh percikan cahaya hikmah. Alih alih mengalami penyingkapan batin yang suci jiwa mereka justru tenggelam dalam pekatnya kegelapan karena ketiadaan cahaya kasih sayang.
Klaim moralitas dan agama yang mereka jadikan tameng untuk membenarkan pemusnahan sebuah bangsa membuktikan bahwa mereka bukanlah pemimpin yang mencerahkan melainkan perwujudan tirani nafsu kebendaan yang buta terhadap hakikat kebenaran.
​Terkait dengan fenomena kemerosotan moral penguasa semacam ini, berbeda dengan ucapan Ranggawarsita yang cuma meninggalkan omongan sing eling lan waspada, Suhrawardi meninggalkan sebuah catatan peringatan yang sangat menggetarkan jiwa. Ia menegaskan bahwa dunia tidak akan pernah dibiarkan hancur oleh keangkuhan para perusak yang merampas kebenaran dengan kebohongan mereka!
Bumi ini tidak akan pernah sunyi dari kehadiran para penjaga keadilan yang hatinya senantiasa tersinari oleh pijaran cahaya ilahiah.
Merekalah para pemimpin sejati yang sesungguhnya. Kegelapan informasi dan manipulasi politik sehebat apa pun yang diciptakan oleh para penguasa lalim tidak akan pernah mampu memadamkan cahaya kebenaran bagi mereka yang merawat mata batinnya untuk tetap terbuka memandang Cahaya Segala Cahaya.
Mari kita rawat Cahaya itu dan semakin kita besar-besarkan dengan cara menolak untuk diam!Â

